judul gambar

Basarnas Cari Korban Hilang Terseret Banjir yang Hanyutkan 42 Rumah di Luwu

Tim SAR gabungan melakukan penyisiran infantri pada bantaran Sungai Suli, Desa Kaili, Kecamatan Suli Barat, Luwu, Sulawesi Selatan untuk mencari korban banjir yang hilang, Sabtu (5/5/2024). Basarnas mengkonfirmasi dua korban yang hilang merupakan anak berjenis kelamin perempuan yang berinisial MM (5) dan UF (8). ANTARA

Jakarta (ANTARA/LE) – Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) memutuskan membagi tim SAR menjadi lima unit untuk mengefektifkan operasi pencarian terhadap korban tanah longsor disertai banjir yang menghanyutkan sedikitnya 42 rumah penduduk di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Direktur Operasi Basarnas Edy Prakoso di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa setidaknya ada dua korban yang masih dilaporkan hilang di Desa Poringan dan Desa Kaili, Kecamatan Suli Barat, Kabupaten Luwu setelah banjir disertai tanah longsor melanda wilayah tersebut pada Kamis (2/5) malam.

Bacaan Lainnya

Dari hasil konfirmasi di lapangan, disebutkan kedua korban hilang yang berasal dari dua desa itu, merupakan anak berjenis kelamin perempuan berinisial MM (5) dan UF (8).

Edy Prakoso menyebutkan, sebanyak 27 personel dari Kantor SAR Makassar dikerahkan untuk membantu penanganan dampak bencana, yang saat ini difokuskan menemukan keberadaan korban yang hilang itu.

Tim SAR itu dibagi menjadi lima unit demi mengefektifkan operasi pencarian korban hilang karena jarak jangkau medan yang luas dan sulit diakses.

Kelima unit tim SAR ini memiliki tugas yang berbeda, mulai dari pemantauan menggunakan pesawat nirawak atau drone, penyisiran infantri wilayah terdampak, hingga penyisiran Sungai Suli menggunakan perahu karet.

Setiap unit pencarian tersebut juga melibatkan personel TNI, Polri, BNPB, unsur pemerintah kabupaten-pemerintah desa, relawan hingga warga setempat.

Edy mengharapkan semua korban yang hilang berhasil ditemukan dan diserahkan ke pihak keluarga, termasuk tim SAR yang bertugas dalam operasi pencarian korban hilang pada hari ke tiga ini bisa kembali dengan selamat.

Sebelumnya, tim SAR berhasil menemukan dan mengevakuasi total sepuluh korban meninggal dunia dari Desa Buntu Sarek, Latimojong, Kabupaten Luwu.
​​​
Adapun identitas masing-masing korban yakni Rumpak (L/97 tahun), Jatima (P/55 tahun), Rima (P/84 tahun), Muh Misdar (L/29 tahun), Mawi (L/57 tahun), Ambo Accung, S (P/9 tahun), Kapila (L/84 tahun), Nadira (P/40 tahun) dan Sunarti (P/40).

Kabupaten Luwu menjadi daerah yang mengalami dampak bencana paling parah berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Banjir disertai tanah longsor terjadi pada Jumat (3/4) dini hari sekitar 01.17 Wita ​​​​​​setelah daerah itu diguyur hujan intensitas deras dengan durasi panjang sejak hari Kamis (2/5). Dampak bencana semakin diperparah oleh luapan aliran Sungai Rongkong dan Baliesae.

Pusdalops BNPB mencatat total ada 14 warga Luwu meninggal dunia dan ​​​​​​sedikitnya hingga Sabtu (4/5) pagi kemarin total ada 1.867 unit rumah serta lahan persawahan dan perkebunan warga terendam banjir dengan ketinggian muka air 1-3 meter.

Dari jumlah total itu ada sebanyak 103 unit rumah di antaranya mengalami rusak berat, 42 unit rumah hanyut, merusak empat titik ruas jalan, satu unit jembatan, termasuk merusak 14 unit kendaraan sepeda motor dan mobil.  (ANT/LE)

Pos terkait