Gianyar, LenteraEsai.id – Melukat merupakan sebuah ritual pembersihan diri yang lazim dilakukan umat Hindu di Bali. Belakangan, melukat banyak dibicarakan sehubungan ritual ini akan menjadi acara pendukung pada event internasional World Water Forum (WWF) ke-10 pada bulan Mei mendatang di Pulau Dewata.
Salah satu tempat melukat yang cukup populer adalah Pura Telaga Waja yang terletak di Banjar Kapitu, Desa Kenderan, Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Tapi kenapa pemedek yang ingin melukat harus telanjang bulat ?.
“Salah satu dresta yang berlaku jika ingin melukat di Telaga Waja adalah harus dalam keadaan telanjang. Tidak boleh memakai busana sehelai pun, meski berupa pakaian atau celana dalam. Jadi harus telanjang bulat. Maknanya adalah berpasrah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta untuk menjaga kesucian pura di sini,” ujar Mangku I Wayan Suaja, yang dikenal dengan panggilan Jro Mangku Telaga Waja, ketika ditemui pada Selasa (23/4/2024) siang.
Dahulu kala, lanjut Jro Mangku Telaga Waja, pernah ada warga yang melanggarnya. Akibatnya, yang bersangkutan menjadi kebingungan tidak menemukan jalan pulang sehingga hanya berputar-putar saja di kawasan pura.
“Dresta lainnya adalah pemedek wanita tidak boleh dalam keadaan menstruasi. Pemedek juga tidak dalam kondisi cuntaka,” ujar Jro Mangku Telaga Waja, menjelaskan.
Pernah ada satu kejadian, ada salah seorang pemedek yang tinggal di Denpasar dan hendak pulang kampung, memutuskan untuk melukat dulu di Pura Telaga Waja. Setelah memarkir kendaraan, ia berjalan kaki menuju areal pura. Namun, mendadak ia merasakan kakinya sangat berat dan tidak bisa dipakai melangkah memasuki areal Pura Telaga Waja. Meski mencoba berkali-kali, ternyata tetap gagal. Akhirnya pemedek itu pulang ke desanya.
Belakangan terjawab, kenapa pemedek itu gagal masuk ke wilayah Pura Telaga Waja. Ternyata ada salah seorang keluarganya yang meninggal dunia, sehingga ia dalam keadaan cuntaka. Dengan demikian, Bhatara yang berstana di Pura Telaga Waja tidak menghendakinya untuk memasuki wilayah Telaga Waja, demi menjaga kesucian pura itu.
Mengenai pengunjung yang datang, menurut Jro Mangku Telaga Waja, tidak hanya umat Hindu di Bali. Melainkan, banyak pula pemeluk agama lain yang terpanggil untuk melukat di Pura Telaga Waja. Tidak hanya dari luar Bali, seperti Jawa, Lombok, Sumatera dan lainnya, pengunjung dari luar negeri pun banyak yang antusias untuk menjalani ritual pembersihan di Pura Telaga Waja.
“Banyak wisatawan asing yang memfavoritkan tempat ini sebagai pilihan untuk ajang healing saat tengah berlibur ke Bali. Tapi sebenarnya, selain untuk healing, banyak juga yang datang dengan tujuan khusus. Misalnya, untuk nunas keturunan, mohon disembuhkan dari penyakit medis dan nonmedis, ingin hidupnya berkah berlimpah rezeki, lancar karir dan sebagainya. Asalkan meyakini sepenuh hati, astungkara tercapai segala permohonan doa dari siapapun yang datang,” katanya, menyampaikan.
Pewarta: Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan







