Kisah Wanita Indigo, Tinggalkan Jawa Demi Menjalani Dharma di Bali

Wanita indigo Isanti Chandra SH MM bertemu dengan sejumlah tokoh spiritual di Bali (Foto: Dok Pribadi/Isanti Chandra)

Denpasar, LenteraEsai.id – Kehidupan penuh lika-liku pernah dialami seorang wanita ‘tembus pandang’ atau indigo, Isanti Chandra SH MM. Inilah yang membuat wanita yang akrab dipanggil Santi itu akhirnya memantapkan langkah untuk menjalankan kehidupan di jalan dharma di Pulau Dewata, Bali.

“Sekitar tahun 2021, saya mengalami spiritual awakening. Saya mengalami kegamangan yang luar biasa dalam hidup, sampai akhirnya merasa begitu damai jika masuk ke dalam pura. Hati menjadi adem, damai, sejuk. Saya kemudian memutuskan masuk agama Hindu, namun berimbas dengan guncangan yang luar biasa. Kehidupan pernikahan menjadi karam, karena suami tidak merestui langkah saya berpindah agama. Dalam waktu bersamaan, saya kehilangan uang tunia Rp1,3 miliar,” kata wanita kelahiran Jawa Timur itu, ketika ditemui di sebuah kafe di kawasan Kebo Iwa Denpasar, Bali pada Minggu (18/2/2024) sore.

Bacaan Lainnya

Waktu kehilangan uang, Santi masih menetap di Jakarta. “Sisa uang di dompet ketika itu tidak lebih dari Rp150 ribu saja. Saya benar-benar seperti orang kehilangan arah. Akhirnya pada suatu hari saya beringsut masuk ke dalam sebuah pura di kawasan Cijantung, Jakarta Timur. ‘Mujarabnya’, hati saya yang semula panas, seketika menjadi sejuk. Saya merasakan, mungkin inilah jalan hidup saya yang sesungguhnya,” ujar Santi dengan sorot mata bening, menerawang jauh.

Kedamaian saat berada di lingkup pura, membuat Santi sangat bahagia ketika mendapat tawaran untuk suatu pekerjaan di Bali. Ia menyanggupi tawaran temannya yang berprofesi sebagai konten kreator. Namun, saat itu, Santi tidak serta merta langsung menetap di Bali, dikarenakan masih ada urusan yang harus diselesaikan di Jakarta. Baru pada tahun 2022, Santi memutuskan untuk tinggal di Bali dan memperdalam belajar spiritual dengan mendatangi sejumlah sulinggih atau pedanda untuk menimba ilmu.

“Saya tipenya kan suka belajar. Jadi di waktu senggang, saya suka membaca sejarah atau lontar, sehingga ketika bertemu dengan sulinggih atau pedanda, obrolan menjadi sangat nyambung. Kami bisa membahas ilmu spiritual, sejarah Resi Markandya, Dang Hyang Nirartha atau materi diskusi lain yang bisa kami bahas hingga berjam-jam. Saya melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Bali dan sekalian tangkil di sejumlah pura, serta bertemu dengan orang-orang suci di berbagai pedalaman Bali. Ini sangat membasuh jiwa saya yang merasa tersirami ilmu secara benar dan berada di relnya. Inilah yang membuat saya betah tinggal di Bali, taksu daerahnya memilik spirit yang luar biasa. Tapi sebenarnya saya juga pernah tangkil di sejumlah pura di Jawa dan Lombok. Misalnya ke pura di kawasan lereng Gunung Lawu, yang juga penuh taksu. Meski demikian, hati saya tetap berlabuh di Bali,” kata Santi, bersemangat.

Saat ini, Santi aktif membuat konten YouTube Santi Dharma Chandra yang berisi perjalanannya tangkil ke berbagai pura, serta meliput kegiatan spiritual, adat dan budaya di seputar Bali. Kemampuan Santi membuat video dan liputan di lapangan dikarenakan sebelumnya pernah menjadi reporter Bali TV yang bertugas liputan di Istana Presiden serta beberapa Kementerian RI di Jakarta.

Tema materi di YouTube Santi Dharma Chandra banyak menarik minat penonton, dikarenakan Santi memiliki kemampuan menangkap energi atau mendeteksi keberadaan penghuni di suatu lokasi. Hal ini dimungkinkan, sebab sejak kecil Santi memang telah biasa berinteraksi dengan makhluk astral. Kemampuan ini turun-temurun dari leluhur, sehingga sejumlah kerabatnya dikategorikan pada manusia indigo.

“Pengalaman menjadi reporter telah menggembleng saya, sehingga tidak gentar ketika harus liputan seorang diri di lapangan. Selain pernah menjadi reporter, saya yang dulu kuliah di D3 FISIP Unair, S1 Hukum, dan Magister Managemen di Universitas Mercu Buana Jakarta, serta studi di Singapura. Juga pernah bekerja di BCA Jakarta dan PT EMRCK Jerman. Tapi siapa menduga perjalanan saya kini malah menghantarkan untuk menjalani pembelajaran spiritual di Bali,” ujar wanita yang didapuk menjadi Duta Sahabat Polisi Indonesia Wilayah Bali pada tahun 2023.

Melalui pembelajaran spiritual ini, Santi mengaku berbagai bakat leluhur mengalir padanya, sehingga beberapa kali mampu mengobati orang sakit, dapat membaca kartu Tarot, cleasing trauma, membaca energi serta healing terapy. Pada saat-saat tertentu, Santi pun kerap diundang untuk menjadi pembawa acara/MC di acara keagamaan, adat atau budaya di Bali. Jadi bagi warga yang memiliki gelaran acara dan membutuhkan liputan atau MC, dapat mengundang Santi melalui nomor WhattsApp: 082.230.599.900.

Ke depan, Santi berharap mampu mewujudkan keinginan mendirikan pasraman sebagai ajang pembelajaran agama Hindu, bahasa asing (sehubungan Bali daerah pariwisata), melestarikan adat budaya, serta mejejahitan sehingga tradisi Bali senantiasa lestari. Selain itu, Santi juga berharap dapat mendirikan panti asuhan supaya anak-anak yang terlantar atau hidup di bawah garis kemiskinan dapat hidup secara layak dan mendapatkan pendidikan yang memadai.

“Harapan lain, saya ingin memiliki pasangan hidup yang satu frekuensi. Dapat membimbing di jalur spiritual, bisa ngayah bareng di pura. Memiliki pasangan yang sefrekuensi ini amat penting, demi keseimbangan mengabdi di jalan dharma. Kalau saya masih sendiri, istilahnya energinya timpang. Dan mudah-mudahan, pada saatnya yang tepat nanti, semua itu dapat terwujud dengan semestinya,” ujar Santi, penuh keyakinan.

Pewarta: Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan

Pos terkait