Bandung, LenteraEsai.id – Sejak berusia dini, Anak Agung Ayu Made Pratiwi Premacanthi Putri atau Pratiwi Ramartha sudah mengakrabi makhluk-makhluk tidak kasat mata, dan bahkan diajak berkawan selayaknya jalinan pertemanan dengan sesama manusia.
“Waktu berumur 3 tahun, saya punya teman yang saya panggil Mbak Nana. Logatnya medok Jawa dan saya sering bermain sama dia. Suatu ketika, saya diajak main ke rumahnya. Tidak tahunya, waktu itu bibi (adik ayah) sedang mencari-cari keberadaan saya. Ketika saya kemudian muncul, bibi bertanya dari mana saja. Saya menjawab kalau diajak main ke rumah Mbak Nana dan saya menunjuk salah satu rumah. Bibi menjawab kan itu rumah kosong, tapi saya seperti tidak percaya karena merasa saya mengenal dengan baik penghuninya yakni Mbak Nana,” kata wanita yang akrab dipanggil Gung Tiwi, ketika diwawancarai media LenteraEsai pada penghujung tahun 2023.
Wanita kelahiran Bandung, Jawa Barat ini meneruskan, tidak setiap pengalaman gaibnya diceritakan pada seseorang, mengingat keluarganya berlatar belakang yang selalu bersandar pada pemikiran yang serba berasas logika, sehingga tidak gampang mempercayai jika ada cerita-cerita yang berbau supranatural.
“Meski demikian, keluarga saya suka terkaget-kaget ketika saya nyeletuk sesuatu, dan itu ternyata terjadi ketika saya masih kecil. Pernah suatu ketika saya nyeletuk sesuatu dan ayah kemudian bertanya: ‘Kenapa kamu bisa tahu, kejadian itu kan terjadi ketika kamu masih umur setahun. Masih digendong ibumu?.’ Nah gantian saya bingung, kenapa saya bisa tahu peristiwa itu,” kata Gung Tiwi.
Keganjilan yang dialami Gung Tiwi tidak hanya berhenti di sini. Sejak mulai sekolah menengah, Gung Tiwi mendadak sering melihat makhluk-makhluk astral. Seperti seorang wanita di sudut sekolah, kamar mandi ataupun kuntilanak di suatu pohon. Penglihatan ini suatu hari diceritakan ke teman yang satu ‘circle’ dengannya, dan belakangan menyebar ke teman-teman lain di sekolahnya. Akhirnya menyebar luas kemampuan supranatural Gung Tiwi di kalangan teman-temannya, namun malah menimbulkan pro dan kontra, sampai ada yang menyebutnya cari perhatian.
Saat kemudian menginjak bangku kuliah, Gung Tiwi malah berkali-kali pingsan, dan disebutkan mengalami skizofrenia sehingga sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari. Lama-lama, akhirnya Gung Tiwi terpikir: apakah yang terjadi padanya ini tidak bisa dipergunakan untuk kebaikan? Apakah semata-mata malah membikin mentalnya lemah dan berkali-kali pula dirinya mengalami ‘astral projection’ atau tubuhnya diambil alih entitas tertentu sehingga kesadarannya hilang.
Tahun berganti tahun, sampai akhirnya Gung Tiwi justru mendapat support kakaknya Ananda Ramartha agar mendalami kehidupan spiritual untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara positif. “Kak Nanda selalu menyebut saya sebagai indigo, meski saya tidak pernah memproklamirkan hal ini. Entah apa sebutannya, untuk saya yang punya kemampuan berkomunikasi dengan entitas lain atau dengan ‘divine guide’ yang menjadi pembimbing saya,” kata Gung Tiwi.
Gung Tiwi menjelaskan, sang kakak Ananda Ramartha merupakan seorang coach bagi orang-orang yang tengah kebangkitan spiritual dan tarot reader. Nama Ananda Ramartha yang makin berkibar sehingga menjaring klien-klien dari dalam dan luar negeri. Dengan jumlah klien yang terus bertambah, akhirnya membuat sang kakak sesekali merekomendasikan klien ke adiknya agar turut ‘menghandle’ supaya tidak kewalahan.
Meski sangat mensyukuri support yang diberikan kakaknya, namun Gung Tiwi menjelaskan dirinya tidak langsung serta merta memutuskan untuk terjun di bidang spiritual karena memiliki rasa trauma tersendiri yang justru selalu membayangi. Menurutnya, masa kelam ketika sang kakak ipar (suami Ananda Ramartha) meninggal dunia tanpa dirinya dapat berbuat sesuatu, menimbulkan luka batin yang memukul telak hari-harinya saat itu.
Sebelumnya, kakak ipar itu mengalami sakit di tahun awal pernikahan dengan Ananda Ramartha. Berbekal ‘bisikan’ dari spirit guide Gung Tiwi, akhirnya jalan kesembuhan diperoleh sehingga kakak ipar sembuh dan dapat beraktivitas normal. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, kakak ipar kembali didera sakit di mana saat itu Gung Tiwi telah menikah dan tengah hamil 5 bulan. Saat sedang menjalani masa kehamilan, kemampuan Gung Tiwi untuk berkomunikasi dengan divine guide menjadi berkurang intensitasnya.
Ketika kemudian kakak ipar meninggal dunia, duka cita mendalam dirasakan Gung Tiwi. Dirinya didera rasa bersalah. Trauma berkepanjangan. Sampai-sampai sekedar mendengar suara ambulans pun Gung Tiwi menjadi ketakutan. “Kemudian Kak Nanda pun tiba-tiba mengalami penyakit parah, yang menjadi titik tolak kebangkitan spiritualnya. Saat itu saya malah seperti menjauh, karena saya belum beres dengan rasa trauma kehilangan kakak ipar. Kak Nanda menanyakan ada apa di balik sikap saya, akhirnya saya berterus-terang kalau takut menolong Kak Nanda. Takut malah kehilangan Kak Nanda. Kami lalu bertangisan saat itu, dan Kak Nanda menegaskan tidak ada yang menyalahkan dirinya atas meninggalnya suami Kak Nanda. Tapi saya benar-benar masih belum bisa melupakan ketakutan, takut kehilangan,” ujar Gung Tiwi dengan suara tercekat.
Akhirnya, lanjut Gung Tiwi, tahun 2018 itu dirinya masih terus didorong-dorong kakaknya supaya menggunakan kemampuan alamiahnya untuk tujuan positif. “Tapi saya masih memiliki ganjalan bahwa pekerjaan itu memiliki tanggung jawab yang berat. Namun lama-lama saya menerima kelebihan saya itu, yang bisa digunakan untuk menjadi pembimbing bagi orang-orang yang tengah mengalami ‘spiritual awakening’ supaya tidak menjadi salah jalan,” ujarnya.
“Ketika seseorang mengalami spiritual awakening, itu ibarat kata, dia masih baru tiba di gerbang, sedang dunia yang dihadapinya itu sesuatu yang abstrak. Membingungkan. Dengan adanya pembimbing, maka seseorang tidak akan tersasar atau salah jalan. Hingga saat ini, klien saya di atas 70% masih di kasus mental health, selebihnya yang 30% ya mencakup pasien dengan kasus supranatural,” kata Gung Tiwi yang akhirnya menerima salah satu misi jiwanya sebagai konsultan spiritual.
Ke depan, lanjut Gung Tiwi, dirinya berharap orang-orang yang tengah berada di fase kebangkitan spiritual supaya berhati-hati dalam menentukan guru pembimbing, jangan asal grusa-grusu. Jangan gampang berbuai janji atau rayuan dari seorang pembimbing yang tidak kompeten. “Pembimbing ibarat seseorang yang menyalakan lentera bagi muridnya, sehingga jalannya menjadi terang dan sampai ke tujuan dengan benar. Makanya pilih pembimbing yang benar dalam memasuki gerbang dunia spiritual, dunia yang abstrak itu, supaya hidupnya menjadi benderang dan bercahaya,” kata Gung Tiwi, berpesan.
Bagi yang ingin berkonsultasi dengan Gung Tiwi, bisa menghubungi kontak yang tertera di akun Instragram Pratiwi Ramartha.
Pewarta: Tri Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan







