Penjabat Bupati Tekankan Pentingnya Kolaborasi Antar-SKPD di Buleleng

Pj Bupati saat memberikan arahan pada rapat koordinasi (rakor) antar SKPD di ruang rapat Lobi Kantor Bupati Buleleng, Selasa (10/1/2023) (Foto: Dok Humas Pemkab Buleleng)

Singaraja, LenteraEsai.id – Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menekankan pentingnya kerja kolaboratif antar-Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Buleleng, menuju pembangunan Kabupaten Buleleng yang lebih maksimal.

Hal tersebut diungkapkan Pj Bupati Lihadnyana saat memberikan pengarahan pada rapat koordinasi (rakor) antar-SKPD di ruang rapat Lobi Kantor Bupati Buleleng di Singaraja, Selasa (10/1/2023).

Bacaan Lainnya

Lihadnyana mengatakan, SKPD saat ini harus bekerja menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat. Memasuki era digital, perubahan juga harus dilakukan pada setiap SKPD. Pola dan tata kerja harus berubah. Ini juga diatur dalam peraturan terkait dengan aparatur negara.

Masing-masing SKPD tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi penting dilakukan untuk memaksimalkan pembangunan. “Sesuai dengan isi Permenpan RB. Kenapa ada banyak SKPD? Karena satu dengan yang lainnya berkaitan dan harus bekerja sama,” ucapnya, menjelaskan.

Seperti halnya penanganan rabies. Dinas Pertanian (Distan) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) harus berkolaborasi. Distan juga harus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan (Disbud), khususnya terkait desa adat yang turut serta menangani kasus rabies. Hal tersebut memiliki arti bahwa penanganan suatu masalah dalam pembangunan tidak cukup memperhatikan aspek teknis semata. “Perlu kita mempertimbangkan aspek sosial. Karena kekuatan sosial itu akan memberikan kecepatan dalam penyelesaian sebuah kasus,” ujar Lihadnyana.

Lebih lanjut, Lihadnyana mengatakan permasalahan yang dihadapi saat ini lebih kompleks. Sehingga memerlukan suatu inovasi untuk menanganinya. Kesadaran akan inovasi ini juga diperlukan di seluruh SKPD. Jika ingin mendapatkan hasil yang bagus, tidak melakukan cara-cara yang sama. Kebiasaan harus diubah. Utamanya pola dan tata kerja, katanya.

Pada era disrupsi ini, orang-orang tidak lagi berpikir proses, tapi sudah menuju langsung pada hasil. “Itulah era disrupsi. Menghancurkan sebuah tatanan-tatanan dari semua konsep konvensional dengan konsep digital,” ucap Pj Bupati Lihadnyana, menandaskan.  (LE-BL) 

Pos terkait