Karangasem, LenteraEsai.id – Lawar yang dikenal masyarakat Bali, umumnya terbuat dari bahan dasar kelapa parut dicampur daging babi. Ada pula yang ditambahkan dengan darah segar atau buah kacang dan yang lainnya.
Namun berbeda halnya dengan masyarakat di Desa Adat Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur, lawar dibuat dengan menggunakan bahan dasar don jepun atau daun kamboja.
Masakan atau sebagai lauk teman nasi dari bahan daun kamboja, tergolong unik karena hanya ada di lingkungan adat di Desa Dukuh Penabah. Beberapa pemerhati kuliner menyebutkan bahwa lawar dari daun kamboja hanya dibuat dan dihidangkan di desa tradisional itu.
Ya, daun kamboja yang bergetah jika dibayangkan mungkin rasanya pahit. Namun dengan tangan trampil para warga masyarakat di Desa Dukuh Penaban, rasa ‘lawar don jepun’ ini pun enak luar biasa tanpa adanya rasa pahit.
Lawar don jepun merupakan olahan wajib dibuat warga Desa Adat Dukuh Penaban pada setiap tibanya Penampahan, sehari sebelum Galungan. Selain itu, lawar don jepun juga dibuah saat Penampahan Kuningan atau ada piodalan di Pura Puseh yang jatuhnya bertepatan pada Purnama Kapat, Purnama Kapitu, Tilem Kesanga dan Purnama Kedasa.
Olahan dengan daun kamboja yang dibuat warga pada hari-hari tertentu itu, pada pokoknya akan dipergunakan untuk persembahan yadnya terkait hari raya, atau piodalan di Pura Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban. Di mana tradisi rutin ini disebut ‘Nyaud Lawar Don Jepun’.
Bendesa Adat Dukuh Penaban I Nengah Suarya menjelaskan, sejarah dari tradisi ‘Nyaud’ ini memang ada hubungannya dengan awal pembangunan Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban, yakni sejak ratusan tahun yang lalu.
“Riwayat tentang ‘Tradisi Nyaud Lawar Don Jepun’ kami temukan dalam salah satu lontar yang disimpan oleh warga, di mana tradisi ini berkenaan dengan pendirian Pura Puseh di Desa Adat Dukuh Penaban saat itu, yakni sekitar 286 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1736,” ujarnya ketika ditemui di desanya, Kamis (4/8/2022).
Bendesa Adat menceriterakan jika pada saat pembangunan Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban, para tetua harus terlebih dahulu meratakan bukit. Butuh waktu yang sangat lama bahkan bertahun-tahun, karena hanya dengan menggunakan alat seadanya, seperti cangkul dan penyongcongan, semacam linggis yang terbuat dari kayu atau uyung.
“Pada situasi menggarap atau mengerjakan pura itu, ada berbagai musim yang dilewati, di antaranya musim paceklik, musim hujan, musim panas dan begitu seterusnya. Sehingga pada saat itu para warga atau leluhur yang mengerjakan pura, juga harus membawa sangu (bekal), di mana menunya banyak menggunakan sayur-sayuran,” ucapnya.
Dikatakan, yang mana pada suatu musim, diperkirakan musim panas atau kemarau panjang, daun yang tumbuh paling subur ketika itu adalah daun kamboja, atau don jepun. Sehingga ada inisiatif warga untuk menggunakan daun kamboja sebagai menu bekal dalam bekerja.
Berlatarbelakang dari kisah yang tertulis pada lontar itulah, kata Bendesa Nengah Suarya, hingga kini masyarakar Desa Adat Dukuh Penaban tetap melestarikan lawar don jepun untuk lauknya nasi, serta untuk persembahan kepada yang melinggih di pura pada hari piodalan dan hari-hari raya tertentu.
Seiring perjalanan waktu pula, lawar don jepung yang diwarisi masyarakat secara turun-temurun, telah menjadi suatu penganan khas warga Adat Dukuh Penaban, yang tak jarang menarik perhatian orang luar untuk lebih mengenal rupa dan rasanya.
Tak pelak, kisah salah satu kuliner unik khas Desa Adat Dukuh Penaban itu, kini bisa ditemui di Museum Lontar Dukuh Penaban, Karangasem. (LE-Ami)







