Denpasar, LenteraEsai.id – Kisah hidup advokat Siti Sapurah atau Daeng Ipung yang akrab dipanggil Mbak Ipung, ternyata menyimpan sisi getir sejak masa kanak-kanak ketika dia tinggal di pulau kelahirannya, Serangan, Denpasar Selatan, Bali.
Sewaktu ayahanda Daeng Abdul Kadir masih hidup, Siti Sapurah (Mbak Ipung) dilayani bak putri raja di Istana. Namun kondisi itu berbalik 360° tatkala ayahanda menyusul sang ibu kembali ke pangkuan Illahi.
“Awal-awal ketika aku masih kecil, saat mana ayahku Daeng Abdul Kadir masih hidup, aku diperlakukan istimewa, layaknya seorang putri,” ujar Mbak Ipung menuturkan penggalan kisahnya yang kini diangkat dalam buku auto biografinya saat peluncuran buku berjudul ‘True Story Mbak Ipung (Daeng Ipung) Aktivis Perempuan dan Anak di Bali,’ yang ditulis Vivi Suryanitta, di kantornya di Denpasar pada Selasa, 29 Maret 2022.
Dalam buku setebal 185 halaman itu, Vivi Suryanitta yang seorang jurnalis senior tinggal di Denpasar, mampu menuangkan kisah Ipung dengan bahasa yang ‘renyah’, hingga tak jarang pembaca terseret hanyut dalam alunan ceritera pilu yang penuh warna.
Beberapa pembaca ‘True Story Mbak Ipung’ mengaku kerap hanyut hingga tak kuasa menahan air mata mengikuti kisah ‘dramatis’ kehidupan wanita yang sejak bocah hingga dewasa diwarnai penderitaan. Namun demikian, di penghujung perjalan hidup ‘wanita baja’ itu terkuak keberhasilan yang mampu menginspirasi para pembaca. “Lega..pada akhirnya,” ujar I Gusti Ngurah Dibya, salah seorang pembaca asal Tabanan, Bali.
Sepeninggal ayahnya, kata Mbak Ipung, perlakuan sebagai seorang putri di ‘Istana’ berbalik 360 derajat. “Setelah ayahku dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selamanya, saya mulai merasakan pahit getirnya hidup. Setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, saya mencari nener di laut, di Pantai Serangan demi menyambung hidup,” ucapnya.
“Uang dari hasil jual nener atau anak bandeng, tak jarang saya pakai untuk membeli kebutuhan sekolah di SD atau yang lainnya,” kata Mbak Ipung yang kini dikenal sebagai seorang Advokat/Aktivis Perempuan dan Anak yang gigih membela kaumnya yang teraniaya dan tersangkut masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yakni anak-anak Indonesia yang menggigil ketakutan saat menjadi korban sodomi, pelecehan seksual dan lain sebagainya.
Rupanya, kondisi yang demikian melecut Ipung kecil untuk terus melanjutkan pendidikan hingga kemudian berhasil menjadi advokat seperti yang dimimpikannya.
“Saya termotivasi untuk membela kaum tertindas yang tersangkut kasus hukum. Terinspirasi oleh Sinetron berjudul ‘Pembela’ yang diperankan Mutiara Sani saat itu. Di mana diceritakan, Mutiara Sani yang cantik dan pintar memakai toga membela orang kecil dan akhirnya memenangkan kasusnya. Itulah yang memotivasi saya untuk mengambil kuliah ilmu hukum agar bisa mewujudkan cita-cita saya untuk membela kaum lemah dan termarjinalisasi,” tuturnya, mengenang.
Mbak Ipung yang sudah kepincut sama kasus-kasus orang lemah ini mulai dikenal luas masyarakat ketika ia mengungkapkan kasus pembunuhan Engeline. Dari kisah pembelaan terhadap Engeline inilah mendorong Ipung untuk menulis kisah hidupnya dalam lembaran buku biografi yang kini sudah terwujud. “Keinginan membuat buku ini sudah cukup lama, sejak saya tangani kasus Engeline. Tapi sekarang keinginan itu sudah terwujudkan. Obsesi saya tinggal satu lagi yang belum terealisasi, yakni membangun sebuah rumah yang luas dengan puluhan kamar yang nantinya akan menjadi hunian untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung,” katanya.
Bila rumah itu bisa terwujud, nantinya akan dipakai untuk menampung anak-anak yang malang hingga usia maksimal 18 tahun. “Di mana mereka akan saya didik menjadi generasi yang baik, generasi yang memiliki akhlak dan moralitas yang baik pula. Serta memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi,” papar perempuan berdarah Bugis yang mengaku pernah meneguk cairan Baygon lantaran perlakuan orang-orang dekatnya yang dirasakan sangat dzolim.
Cerita pahit kehidupan masa kecil Ipung sepahit empedu. Karena di usia 4 tahun ia sudah banting tulang mencari nener dan keong di pantai. Ia juga mengurus pekerjaan rumah seperti mengepel lantai, mencuci piring, pakaian dan menyapu lantai layaknya pekerjaan ibu rumah tangga. “Setiap saat saya harus siap dihardik atau dipukul ketika tanpa sengaja memecahkan piring atau gelas yang jatuh dari tangan saya,” ceritanya sembari meneteskan air mata.
Tidak berhenti hingga di situ, pada usia 22 tahun ketika Ipung mau tidur, ia ditarik dari kamar oleh orang-orang yang selama ini dianggap keluarga olehnya. “Mereka menyeret dan menginjak-injak badan saya dari kepala hingga ujung kaki. Bukan hanya sakit fisik yang saya rasakan, tapi juga membuat luka hati yang mendalam. Akibat perlakuan seperti itu, berselang seminggu kemudian saya nekat menenggak cairan pembasmi serangga sampai habis, tanpa ragu sedikitpun karena ingin mengakhiri hidup. Empat hari saya mati suri dalam perawatan di Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Ketika sudah sadar, saya menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan, mengapa saya ingin meninggalkan dunia ini masih belum diizinkan juga?,” ujarnya.
“Setelah saya renungkan, di balik penderitaan yang saya alami, rupanya ini lah rencana Tuhan untuk saya, agar saya bisa menjadi orang yang berguna bukan hanya untuk diri saya dan keluarga saya sendiri, tetapi juga buat orang lain yang mengalami ketidakadilan,” katanya dengan mimik wajah yang mulai berbinar.
Menurut Mbak Ipung, kisah pilu dan penderitaan dalam buku biografi yang ditulis oleh Vivi Suryanitta yang diterbitkan CLK Publishing, bukan bermaksud menonjolkan diri. “Tidak, tidak untuk menonjolkan diri. Tapi apa yang saya kisahkan kiranya menjadi inspirasi bagi setiap orang agar termotivasi berjuang mengatasi kesulitannya. Salah satunya melalui pendidikan yang baik,” ucapnya, penuh semangat.
Sementara itu, Vivi Suryanitta yang mendampingi Mbak Ipung saat launching buku karyanya, mengaku tertarik pada sosok Mbak Ipung alias Daeng Ipung ketika perempuan ini begitu berani mengungkap kebenaran atas kasus pembunuhan yang merengut bocah wanita Engeline.
“Awal kenalan dengan Mbak Ipung ketika ada demo di Kantor Kemenkumham Bali yang memprotes terkait wacana pengurangan hukuman terpidana seumur hidup Susrama dalam kasus pembunuhan wartawan AA Prabangsa. Meski sekilas, tapi waktu itu saya ingin menulis biografi tentang kisah perjuangan Mbak Ipung dan bagaimana beliau membela kaum perempuan yang didzolimi. Akhirnya kami ketemu di Starbucks walaupun belum secara detail. Setelah kami bertemu beberapa kali, kami akhirnya sepakat untuk membuat biografi ini,” kata Vivi Suryanitta di hadapan sejumlah wartawan.
“Kenapa saya tertarik untuk membuat biografi Mbak Ipung?. Karena dalam penilaian saya kisah perjalanan hidup Mbak Ipung ini bisa menjadi inspirasi sekaligus menjadi motivasi bagi orang lain untuk meraih kesuksesan. Dan itu hanya bisa diraih dengan kerja keras seperti yang dilakukan ‘wanita baja’ ini,” ujar penulis yang jebolan Fakultas Sastra Universitas Udayana itu. (LE-DP)







