Gianyar, LenteraEsai.id – Sejumlah tempat suci di Pulau Dewata dipercayai masyarakat sebagai lokasi ‘nunas tamba’ atau tempat memohon kesembuhan atas beberapa jenis penyakit yang tengah diderita oleh warga.
Salah satunya adalah tempat pengelukatan di Beji Pura Samuan Tiga Desa Bedulu, Kabupaten Gianyar yang dipercaya sebagai lokasi yang dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit mata.
Prebekel Desa Bedulu, I Putu Ariawan, ketika ditemui wartawan di desanya pada Kamis (3/2/2022) mengungkapkan, di Beji Pura Samuan Tiga ada ‘bulakan’ yang berfungsi sebagai tempat pengelukatan bagi warga yang menderita sakit mata, misalnya mata merah.
“Melukat di beji ini dipercaya dan diyakini bisa mengobati sakit mata. Usai melakukan pengelukatan, pemedek nunas tirta di tempat itu untuk dibawa pulang, di mana nantinya digunakan cuci muka dalam beberapa hari hingga betul-betul sembuh. Masyarakat di sini meyakini hal itu,” ucapnya.
Lebih jauh diungkapkannya, tirta di ‘bulakan’ beji sudah sejak zaman dulu dipercaya dapat dipakai menyembuhkan aneka penyakit mata. Beji di Pura Samuan Tiga merupakan tempat Ida Bethara mesucian. Di tempat ini ada beberapa sumber mata air yang kemudian mengucur ke dalam dua pancuran dan tertampung pada satu ‘bulakan’.
Menariknya, tidak sedikit pemedek yang memohon kesembuhan atas penyakit mata yang dideritanya, benar-benar ‘cespleng’ setelah melukat dan nunas tirta di Beji Pura Samuan Tiga.
“Tirta yang ‘medal’ dari mata air yang ada di beji tidak pernah berubah. Meski di musim kering atau kemarau yang berkepanjangan, volume airnya tetap sama. Begitu juga sebaliknya di musim hujan, volumenya ya segitu juga,” ucapnya.
Dikatakannya, ada rencana tempat pengelukatan di beji ini akan dikembalikan sebagai pusat spiritual di Desa Bedulu, sekaligus akan ditata kembali, dan tentunya dengan seizin pengurus Pura Samuan Tiga, Bedulu.
Perbekel Bedulu mengharapkan hal tersebut bisa terealisasikan pada tahun ini, sehinggga beji semakin menjadi tempat pengelukatan bagi kalangan masyarakat luas. Tentu dengan syarat, orang yang datang bulan atau ‘kotor’ lainnya tidak boleh datang melukat.
“Sebagai kepala desa, tentu semua yang kami lakukan untuk kebaikan Desa Bedulu. Mengangkat potensi yang ada sehingga memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar. Dan tentu saja kegiatan ini juga berkoordinasi dengan Bendesa Adat Bedulu,” ucapnya.
Namun demikian, untuk menataan kawasan lokasi pengelukatan ini masih terkendala masalah dana. Karenanya, lanjut Perbekel Bedulu, pihaknya sangat mengharapkan adanya dukungan yang optimal dari masyarakat atas program yang belakangan ini diwacanakan.
“Bila masyarakat mendukung dengan sepenuhnya, astungkara bisa dilakukan penataan yang lebih indah dan tepat guna bagi lokasi pengelukatan yang kami sakralkan ini,” kata Ariawan, mengharapkan. (LE-GA)







