Kagumi Gajah Mada, Nyoman Laka Politisi Awet yang Lima Periode Jadi Wakil Rakyat

Badung, LenteraEsai.id – Karier politik Drs I Nyoman Laka (54) tergolong awet. Bagaimana tidak, pria kelahiran Banjar Tegalnarungan, Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung itu sudah lima periode terpilih menjadi anggota legislatif.

Satu periode sebagai anggota DPRD Badung (2009-2014), periode berikutnya melenggang ke DPRD Provinsi Bali sampai sekarang. Selama ini Nyoman Laka tetap konsisten dan loyal di PDI Perjuangan, partai besutan Megawati Soekarnoputri. Apa rahasia langgengnya di pentas politik ?.

Bacaan Lainnya

Pewarta LenteraEsai belum lama ini sempat menemui Nyoman Laka di rumahnya Banjar Tegalnarungan, Desa Sobangan, Mengwi. Walau dia tengah sibuk mempersiapkan upacara pernikahan putra keduanya, namun wakil rakyat itu tetap well come pada setiap orang yang datang.

Obrolan pun mengalir bersemangat, dari petang hingga malam hari, sambil nyeruput kopi yang dihidangkan. Obrolan seputar kiprahnya di panggung politik praktis, dari era Orde Baru sampai Orde Reformasi hingga sekarang ini.

“Setamat kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Udayana, saya sempat bekerja beberapa tahun di perusahaan asuransi, sebagai selesman. Situasi politik saat itu, mendorong saya terjun masuk dunia politik,” paparnya, mengenang.

Situasi politik dimaksud, di mana pimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) terzolimi Orde Baru. Karenanya ia merasa terpanggil, memperkuat barisan partai wong cilik tersebut yang dinamikanya sangat tinggi. Pada akhirnya dia pun memutuskan melepas pekerjaannya di asuransi dan fokus terjun di tubuh partai.

“Kepemimpinan di PDI sempat terbelah. Antara figur yang dikehendaki Orde Baru, dan pimpinan Megawati Soekarnoputri (Pro Mega) yang tidak disukai penguasa. Saya mendukung PDI Pro Mega, yang memang diperkuat mayoritas arus bawah waktu itu,” kata Laka, menceritakan.

Merasa mendapat dukungan luar biasa dari rakyat seluruh tanah air, Megawati pun mendeklarasikan PDI Perjuangan hingga kemudian memenangkan Pemilu 1999 dengan suara mayoritas. Dari situ pula Megawati yang Ketua Umum PDI Perjuangan berhasil duduk menjadi RI-2 kemudian RI-1.

Proses duduknya Mewawati sebagai Wapres dan Presiden ketika itu, ujar Laka, tidak terlepas dari permainan politik di MPR pimpinan Amien Rais dengan gerakan politik poros tengah yang memunculkan nama Gus Dur sebagai calon Presiden. “Itulah dinamika politik di tanah air, yang penuh warna dan kejutan,” kata Laka bersemangat, seraya menekan saklar lampu listrik lantaran hari sudah mulai gelap. Waktu itu obrolan berlangsung di teras rumah full stile Bali.

Ditanya tentang resep yang diterapkan agar bisa awet di kursi legislatif ?. Ayah dua anak itu menyebutkan beberapa rahasia untuk sukses dan bisa bertahan di kursi parlemen. Antara lain dirinya selalu merawat konstituen (pendukung). Dengan selalu menjalin komunikasi dua arah. Selalu hadir di tengah-tengah mereka, minimal pada momen-momen tertentu. Misalnya ketika konstituen punya kelayusekaran (ada anggota keluarga meninggal Red) dan punya gawe tertentu. Lebih-lebih kalau pendukung punya permasalahan tertentu, Laka berusaha mendengar dan mencarikan solusi.

“Kemudian sebagai kader partai atau petugas partai, saya selalu berlaku baik-baik pada jajaran pengurus partai. UU di Indonesia, calon legislatif (caleg) dan calon kepala daerah lahir dari parpol. Walau dimungkinkan calon kepala daerah dan Presiden dari independen, tapi itu sangat berat,” ucap pria pengagum Gajah Mada, seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit tersebut.

Bukan hanya itu, kata Laka, politisi itu harus lentur, adaptif, cerdas, pintar membaca situasi yang berkembang. Jangan sampai jadi korban politik. Atau malah dipolitiki kawan atau lawan. Sebaliknya supaya selalu diperhitungkan. “Saya sudah sekian lama berkiprah, hampir 25 tahun dipercaya duduk di legislatif, tidak pernah berkonflik dengan siapapun. Saya selalu berusaha menjaga hubungan baik. Baik dengan masyarakat, jajaran partai pengusung maupun pejabat eksekutif. Saling menghormati, saling menghargai. Tidak arogan atau sombong,” katanya.

Pilkada Badung

Disinggung tentang hajatan politik Pilkada Badung 2024 yang menyebut-nyebut nama dirinya sebagai salah seorang calon ‘penggede’, Laka menanggapinya dengan senyum-senyum.

Belakangan di media massa atau media sosial (medsos) muncul dan digadang-gadang paket Putu Parwata-Nyoman Laka (Parwataka) sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Badung pada Pilkada Badung 2024.

Menangkap hal tersebut, Laka menyebutkan hal itu aspirasi para pendukung. Mereka mungkin melalui pengamatan dan pencermatan figur -figur yang ada. Khususnya dari kader-kader internal PDI Perjuangan Badung.

Dari hasil pengamatan itu, kemudian menelurkan paket bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Badung 2024 yang disingat Pawartaka. “Dalam negara demokrasi, sah-sah saja masyarakat yang memiliki kedaulatan, mengelus-elus bakal calon pemimpinnya, untuk diperkenalkan pada khalayak ramai. Ini dimaksudkan agar masyarakat nantinya tidak memilih pemimpin seperti membeli kucing dalam karung,” ucapnya dengan penuh semangat. (LE/Ima)

Pos terkait