Denpasar, LenteraEsai.id – Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny Sagung Antari Jaya Negara bersama Wakil Ketua Ny Ayu Kristi Arya Wibawa meninjau lokasi pengolahan sampah dengan BSF dan berbasis sumber di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Reuse, Reduce, Recycle (3R) Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur pada Sabtu (5/6).
Selain meninjau pengolahan sampah dan pembudidayaan maggot dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Ny Sagung Antari Jaya Negara bersama Ny Ayu Kristi Arya Wibawa juga melaksanakan penanaman pohon Tabe Buya, penebaran bibit ikan lele serta memanen buah pisang dan cabai yang ditanam dengan menggunakan pupuk kompos.
Pada kesempatan itu Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny Sagung Antari Jaya Negara berharap agar kegiatan yang juga merupakan program dari Pemkot Denpasar terkait penanganan dan pengolahan sampah ini dapat dicontoh dan secara berkelanjutan dapat dilaksanakan di desa-desa lainnya. “Selain dapat mengoptimalkan program dari Pemkot Denpasar, kegiatan ini juga dapat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar, Gusti Ngurah Gede Budhita saat diwawancara wartawan mengatakan, kegiatan kali ini dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. “Dalam peringatan kali ini kami memperlihatkan bagaimana proses pengolahan sampah dari seluruh wilyah Desa Kesiman Kertalangu sampai menjadi pupuk yang siap digunakan,” ucapnya.
Lebih lanjut dikatakannya, setelah menjadi pupuk akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat atau desa yang membutuhkan. “Di sini kami juga memiliki kebun yang ditanami beberapa jenis sayuran dan buah-buahan seperti cabai, terong, pisang, kelor, serai serta singkong dan kami berikan pupuk yang berasal dari sampah rumah tangga yang kami olah di sini,” ujarnya.
Selebihnya dikatakan Ngurah Gede Budhita, untuk pengolahan sampah di sini dibagi menjadi tiga jadwal yakni hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat dilakukan pengolahan sampah organik, sementara hari Rabu dan Sabtu dilakukan pengolahan sampah residu, dan untuk hari Minggu khusus untuk pengolahan sampah anorganik.
“Kami berharap ini dapat menjadi contoh untuk desa-desa yang lain agar ke depannya bisa melakukan hal yang serupa, yakni dapat memilah sampah dari sumbernya sehingga lebih mudah untuk diolah hingga dapat menjadi sesuatu yang lebih berharga seperti pupuk dan pellet. Dan yang paling penting, hasil dari pengolahan ini dapat bermanfaat bagi kita semua,” katanya, menekankan. (LE-DP)







