Karangasem, LenteraEsai.id – Di balik masih mewabahnya Covid-19 yang juga masih meluluhlantakkan perekonomian masyarakat, ternyata memunculkan sikap saling bantu-membantu antarsesama dalam menghadapi kesulitan.
Untuk kesekian kalinya, semeton Pengempon Pura Taman Sari Denpasar melakukan penggalangan dana antarsemeton pengempon pura. Kali ini, Sabtu, 15 Mei 2021, mereka kembali menggelar Gerakan Peduli Covid -19 dengan menyerahkan bansos ke Yayasan Bali Baca Buku di Desa Kunyit, Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Namun, Gerakan Peduli Covid -19 kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana pada 2020 lalu, bansos yang diserahkan pengempon pura kepada puluhan penduduk di seputaran Kota Denpasar dan kepada bocah yang mengalami kepala besar di Gianyar, adalah berupa sembako dan sejumlah uang tunai.
Untuk bansos yang diulurkan kepada Yayasan Bali Baca Buku yang memiliki puluhan anak binaan, diserahkan sejumlah alat kepentingan belajar-mengajar, alat tulis dan tas sekolah. Tidak hanya itu, sehubungan anak binaan banyak yang masih berusia kanak-kanan, juga diserahkan puluhan boneka dan mainan yang bersifat edukatif lainnya.
Sama seperti yang sudah-sudah, gerakan kali ini juga ‘dikomandani’ oleh Ketua Pengempon Pura Kertha Taman Sari I Made Ray, didukung oleh semua unsur pengurus dan anggota lainnya.
Pengempon pura disambut antusias oleh beberapa warga dan anak asuh dari Yayasan Bali Baca Buku. Tampak hadir pula Ega Rana Baminsa, selaku koordinator yayasan.
Pria yang berprofesi sebagai Website Developer yang tinggal di seputaran Kota Denpasar itu mengatakan, adik-adik yang tergabung ke dalam wadah yayasan, umumnya masih bersekolah agar dapat meraih cita-cita yang setinggi-tingginya.
“Untuk mereka yang ditampung di Desa Kunyit, jumlahnya sekitar 20 orang, di mana biaya sekolah kami tanggung,” katanya dengan menjelaskan bahwa pihaknya selama ini melakukan edukasi dari rumah ke rumah dengan menekankan pendidikan yang berbasis kontekstual.
“Penerapan pendidikan model itu biasanya kami lakukan di rumah-rumah warga dengan belajar kelompok. Sebagai contoh, saat ini kita berada di rumah warga Ni Wayan Landri,” ucapnya.
Salah seorang ‘penghuni’ yayasan, I Wayan Juni Ariawan (22), sejak berusia 11 tahun sudah menderita diabetes akibat pankreas tidak bisa menghasilkan insulin. Ada juga siswa yatim piatu I Komang Muliada yang kesehariannya hidup bersama kakek dan nenek. “Kepada keduanya, kami berikan program berbeda,” ujarnya.
Sehubungan dengan itu, lanjut Ega Rana, pihaknya sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan, serta telah bisa hadir dan berkumpul bersama sama-sama anak-anak ‘penghuni’ yayasan guna memberikan dorongan dan semangat.
Sementara Ni Kadek Suyasmin, yang akrab dipanggil Yasmin mengatakan, gerakan ini bisa terlaksana karena adanya dukungan dari Pengempon Pura Kertha Taman Sari Denpasar.
“Kami berharap bantuan alat tulis (papan tulis, buku, pensil, penggerot, panghapus, tas, kotak pensil dll) yang kami serahkan, dapat bermaanfaat bagi anak-anak dengan menjadikan mereka lebih serius dalam belajar, serta tidak patah semangat, seperti kakak-kakak kelas di Bali Baca Buku, yang antara lain bisa sukses menjadi dokter, atlet sampai bertanding ke Australia, dan tak kalah pentingnya berguna bagi bangsa dan negara,” ujarnya sambil menahan air mata karena penuh haru.
Dari lokasi kegiatan, koresponden LenteraEsai melaporkan bahwa di Yayasan Bali Baca Buku ini terdapat 10 kurikulum belajar, antara lain meningkatkan pemahaman moral kepada para siswa, masalah kejiwaan, bahasa asing serta literasi dan kepiawaian pengelola keuangan seperti gemar menabung dan lain-lain. (LE-Duh)







