HeadlinesTabanan

Selama ini Hanya ‘Natak Tiyis’, Subak Karangan Tidak Punya Sumber Air

Tabanan, LenteraEsai.id – Usaha pertanian, terutama budidaya padi uma di sawah, mutlak memerlukan air. Tanpa air mustahil lahan bisa diolah dan tanaman padi bisa tumbuh berkembang dan menghasilkan.

Terkait itu, problem air kini masih dialami sejumlah Subak (organisasi petani tradisional) di Bali. Subak Karangan, Desa Perean Tengah, Kecamatan Baturiri, Kabupaten Tabanan, salah satunya.

Problem serupa juga dialami subak di kabupaten lain, seperti Subak Balangan, Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

I Nyoman Dana (63), seorang petani anggota Subak Karangan, Desa Perean Tengah, Kecamatan Baturiti, mengakui petani di wilayahnya mengalami problem air untuk usaha pertanian, khususnya untuk menanam padi uma.

Lebih-lebih di musim kemarau, benar-benar krisis air. Kalau musim penghujan masih dapat air dari ‘natak tiyis’ (memanfaatkan air buangan) dari Subak yang berada di daerah hulu, yakni Subak Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

“Kalau musim kemarau, tak ada air yang lebih dari hulu, sehingga betul-betul kering. Jangankan air untuk bertanam padi, untuk menyiram tanaman palawija saja tidak ada,” ujar Nyoman Dana alias Pan Sumerta dalam perbincangan dengan LenteraEsai (LE) di areal sawah miliknya, Rabu (24/3) siang.

Menurut Dana, Subak Karangan tidak memiliki sumber air. Hanya mengandalkan air buangan (natak tiyis) yang mengalir lewat selokan kecil di musim penghujan seperti sekarang ini. Sehingga para petani anggota Subak Karangan tidak bisa menanam padi secara maksimal.

“Bapak bisa lihat sendiri. Walaupun sekarang musim penghujan, tapi tidak sedikit petani yang malah memilik untuk bertanam palawija, karena takut curah hujan tiba-tiba terhenti,” kata Dana dengan menambahkan, kalau musim hujan berhenti, tanaman padi akan ‘macet’ di tengah jalan.

Itu sebabnya, biar aman, Dana sendiri mengaku sudah dua kali musim tanam tidak menanam padi. Sebaliknya memilih menanam tanaman palawija jenis sayur-sayuran, tomat, pare (paya) dan lain-lain, termasuk bunga pacah untuk kepentingan upacara bagi umat Hindu.

Ia juga mengku belum lama ini sempat menanam cabai di areal ladangnya seluas 20 are. “Karena problema air, saya memilih berkebun sayur mayur, bunga dan sebagainya. Hasilnya, kadang dapat harga bagus, sering juga hanya ‘pak-pok’, cukup untuk beli pindang,” tuturnya seraya tersenyum lebar.

Dana mengungkapkan, berkebun sayur mayur dan bunga, sama juga repotnya seperti menanam padi. Perlu pemupukan, menyemprot dan menyiangi (membersihkan gulma) tanaman. Biaya produksi pun cukup tinggi. Kalau menanam padi, bisa kena hama dan penyakit pula. Bahkan padi bisa ceblok juga. Yakni tidak menghasilkan sama sekali.

Bukankah berkebun lebih capek ketimbang nyawah ?. Nyoman Dana yang tampak masih sangat sehat bugar dalam usia kepala enam, mengatakan sama saja. “Menanam padi atau berkebun sama saja, sama-sama capek. Ya lakoni saja dengan tekun,” ucapnya dengan nada optimistis.

Nyoman Dana asal Perean Tengah, Baturiti itu mengaku dalam mengurus kebun sayur mayur dan bunga pacahnya, selama ini dibantu oleh anak-anaknya, termasuk dalam memasarkan hasil pertaniannya.

Ayah dua anak dan empat cucu itu juga beternak sapi di tegalan yang dikelolanya, sehingga cukup memberi harapan di tengah pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda akan secepatnya sirna dari muka bumi.  (LE/Ima)

Lenteraesai.id