Samarinda, LenteraEsai.id – Di pedalaman timur Kalimantan, terbentang kawasan karst lebih dari 1,8 juta hektare, terluas se-Kalimantan. Inilah bentang Sangkulirang-Mangkalihat yang terhampar dari Kabupaten Kutai Timur hingga Berau.
Di balik tebing-tebing batu raksasa, lorong-lorong goa, dan hutan tropis yang lebat, tersimpan lebih dari sekadar keindahan alam. Ada jejak sejarah kehidupan yang berusia puluhan ribu tahun, kekayaan geologi yang unik, serta harapan baru bagi kesejahteraan masyarakat.
Kini, kawasan itu sedang melangkah pasti menuju status taman bumi atau Geopark Nasional, bahkan terus dilengkapi sejumlah syarat untuk meraih pengakuan dunia dari UNESCO.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyadari bahwa mengelola kawasan seluas itu tidak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, sinergi dibangun seluas mungkin.
Akademisi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, pelaku usaha, komunitas konservasi, seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), hingga Pusat Kajian Ibu Kota Nusantara (IKN), direngkuh berkolaborasi.
Kerja sama lintas lembaga ini menjadi kunci agar warisan alam dan budaya leluhur tetap terjaga, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi penduduk setempat.
“Dukungan pemerintah daerah, masyarakat, ilmuwan, dan pengusaha adalah fondasi utama dalam mewujudkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” ujar Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi dan Keuangan Pemprov Kaltim Siti Fahri Syahliana.
Terlebih, geopark bukan sekadar kawasan wisata biasa. Ia adalah konsep pembangunan berkelanjutan yang memadukan tiga pilar utama, berupa pelestarian alam, sarana pendidikan, dan penggerak ekonomi rakyat.
Untuk memahami betapa berharganya kawasan ini, siapa saja bisa menelusuri salah satu situs paling istimewa di Goa Beloyot. Perjalanan menuju ke tempat itu bukanlah perjalanan biasa.
Dari Kampung Merabu, pengunjung harus melangkah menyusuri jalan setapak sekira dua jam. Jalan yang dilalui masih berupa jalur alami yang sering becek, melintasi aliran sungai kecil, dan menembus rimbunnya hutan hujan tropis.
Rahman (48 tahun), pemandu lokal yang sudah hafal tiap jengkal seluk-beluk kawasan itu memberikan tipas agar pengunjung memakai sepatu takul yang kuat dan tidak lupa membawa jas hujan. Perlengkapan itu diperlukan karena jalanannya licin dan hujan bisa turun kapan saja. Satu pesan lain, jangan pakai celana jeans, langkah akan berat dan sela paha bisa lecet.
Setibanya di mulut goa, perjalanan belum berakhir. Di dalamnya, ruang-ruang sempit membuat kepala harus menunduk. Ada bagian yang tingginya hanya sekitar satu meter. Helm menjadi pelindung wajib agar tidak terbentur dinding atau langit-langit goa.
Setelah menyusuri lorong gelap dan sempit yang pernah menjadi sarang walet ini, rombongan akhirnya tiba di ruang utama yang luasnya setara satu setengah lapangan sepak bola.
Di sinilah waktu seolah berhenti. Di dinding dan langit-langit goa terlihat jelas puluhan lukisan prasejarah. Ada gambar telapak tangan warna merah, diperkirakan berasal dari pewarna alami tumbuhan atau tanah liat yang dicampur getah.
Ada juga gambar sosok manusia sedang berburu dengan tombak, disertai lukisan babi hutan, kura-kura, kepiting, dan hewan-hewan lain yang menjadi sumber makanan nenek moyang.
Hasil penelitian menyebut bahwa lukisan dan jejak peradaban di Goa Beloyot ini berusia sekitar 40.000 tahun. Artinya, tempat ini adalah salah satu saksi bisu kehidupan manusia purba di Asia Tenggara.
Keberadaannya membuktikan bahwa wilayah itu sudah dihuni dan dikelola oleh manusia sejak zaman dahulu, menjadikan nilainya tidak hanya geologis, tetapi juga budaya dan sejarah yang memungkinkan dilakukan penelitian lebih lanjut.
Proses pengakuan
Pengusulan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat menjadi geopark bukanlah pekerjaan singkat. Semuanya dimulai sejak 2019. Saat itu Pemprov Kaltim bersama YKAN memulai langkah inventarisasi mendalam.
Tim turun ke lapangan untuk mendata setiap situs penting, memetakan struktur batuan, mengkaji keanekaragaman hayati, serta mendokumentasikan warisan budaya yang tersebar di seluruh kawasan.
Hasil kerja keras itu mulai membuahkan hasil pada 2024, yakni ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan keputusan yang menetapkan 26 situs warisan geologi atau geosite di kawasan tersebut.
Sebanyak 26 situs itu tersebar di dua daerah, 15 situs berada di wilayah Kabupaten Berau dan 11 lainnya tersebar di Kutai Timur. Total luas wilayah yang ditetapkan mencapai 1.867.676 hektare, menjadikannya sebagai ekosistem karst terluas yang tercatat di Pulau Kalimantan.
Ketua Kelompok Kerja Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Puji menjelaskan bahwa dokumen pengusulan sudah lengkap, sehingga lolos tahap administrasi dan penilaian teknis. Tahap selanjutnya adalah verifikasi langsung ke lapangan oleh tim dari Badan Geologi Kementerian ESDM, yang dijadwalkan dilakukan pada 6 hingga 10 Juli 2026.
Tim verifikasi lapangan akan mengunjungi sejumlah titik penting di kawasan geopark, termasuk situs geologi, budaya, dan objek wisata yang berada di Kutai Timur maupun Berau.
Tentu banyak yang akan dilindungi dalam geopark itu, bukan hanya situs geologi, tetapi juga keanekaragaman hayati dan sosial budaya masyarakat.
Jika tahap verifikasi dari Kementerian ESDM berjalan lancar, status sebagai Taman Bumi Nasional akan segera disematkan, sehingga langkah selanjutnya adalah mengajukan pengakuan ke tingkat dunia sebagai UNESCO Global Geopark.
Sementara Ketua Pusat Kajian IKN dan SDGs Universitas Mulawarman Prof Widi Sunaryo, menegaskan bahwa penetapan tersebut memiliki dampak luas dan dari berbagai sisi.
Geopark ini menghubungkan banyak sektor, baik tentang sejarah, tentang menjaga alam, menjadi ruang belajar bagi siswa dan peneliti, sekaligus membuka peluang ekonomi yang tidak merusak lingkungan.
Membangun masa depan
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengembangkan kawasan itu tanpa merusak keasliannya. Semua pihak sepakat bahwa prinsip utamanya adalah pembangunan berkelanjutan.
Jika suatu saat dibangun akses jalan atau fasilitas penunjang, maka desain harus ramah lingkungan. Misalnya, jalan hanya boleh dilalui kendaraan roda dua, atau di titik tertentu dibuat jalan mirip jembatan terbuka agar tumbuhan endemik di bawahnya bisa tetap hidup.
Untuk itu, tim tidak boleh membuka akses lebar karena bisa merusak ekosistem yang sudah ada ribuan tahun ini, karena nilai jualnya memang terletak pada keasrian alamnya.
Peran masyarakat lokal juga ditempatkan sebagai garda terdepan. Mereka dilatih menjadi pemandu wisata, pengelola rumah inap, perajin kerajinan khas, hingga pengolah makanan tradisional yang bisa dinikmati pengunjung.
Dengan demikian, maka setiap rupiah yang masuk dari sektor pariwisata dari daya tarik geopark ini akan langsung berputar di lingkungan warga setempat.
Bagi Pemerintah Provinsi Kaltim, keberadaan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menjadi pelengkap potensi daerah. Jika selama ini Kaltim identik dengan tambang dan hutan, ke depannya juga bisa dikenal sebagai kawasan yang kaya akan warisan geologi dan budaya.
Kehadirannya pun sejalan dengan konsep pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengedepankan keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian lingkungan.
Sangkulirang-Mangkalihat adalah bukti nyata bahwa kekayaan alam bukan hanya untuk diambil, tetapi juga untuk dijaga, dipelajari, dan dinikmati secara bijak.
Dari lorong goa yang gelap dan keberadaan lukisan purba, hingga puncak tebing karst yang dapat memandang alam bebas, kawasan ini membawa pesan penting, bahwa masa lalu yang dijaga dengan baik akan menjadi bekal berharga bagi masa depan lebih sejahtera. (LE)
Source: ANTARA








