Denpasar, LenteraEsai.id – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI Yasonna H Laoly berkesempatan membeli beberapa lembar kain endek dan songket buah karya perajin Bali yang dipajang di arena Pameran IKM Bali Bangkit, di lantai I Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar.
Bersamaan dengan itu, Menteri Yasonna juga mengapresiasi langkah Gubernur Bali Wayan Koster yang telah memperjuangkan hingga Kekayaan Intelektual (KI) Kepemilikan Komunal berupa Ekpresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradisional Bali memperoleh Sertifikat Kekayaan Intelektuan (KI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI.
Menteri Yasonna mengatakan hal itu ketika bersama Gubernur Koster dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster, datang melihat aneka ragam motif dan warna kain endek Bali di arena Pameran IKM Bali Bangkit, usai menyerahkan Sertifikat Kekayaan Intelektual pada Jumat (5/2), Sukra Paing Sinta.
Tiba di stand pameran dan melihat proses penenunan kain songket Bali, Menteri Yasonna semakin tergugah untuk ingin segera menyelamatkan warisan Kekayaan Intelektual (KI) Kepemilikan Komunal berupa Ekpresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradisional di Nusantara lainnya. Mengingat dalam proses penenunan untuk satu kain songket saja memakan waktu sangat lama, menggunakan alat tenun tradisional.
Ni Kadek Winianti, seorang penenun tradisional asal Telaga Tawang, Sidemen, Kabupaten Karangasem yang sedang menenun kain songket bermotif bulan kayonan, di hadapan Menteri Yasonna menyebutkan, proses penenunan kain songket Bali ini menghabiskan waktu 3 bulan untuk kain yang berbahan songket sutra.
Menyimak itu, Menteri Yasonna akhirnya menyarankan kepada Gubernur Koster untuk dapat membuat video tentang proses pembuatan kain songket tradisional yang dilakukan oleh para perajin Bali.
“Saya harap Bapak Gubernur Koster membuat video aktivitas menenun kain songket Bali maupun kain endek Bali, kemudian memberitahukannya ke pemilik Rumah Mode asal Francis, Christian Dior, agar dia mengetahui proses terciptanya kain yang indah ini dengan memakan waktu yang sangat panjang,” ujar Yasonna seraya melihat-lihat hasil kerajinan perak di Sedana Yoga Silver, kemudian di Puspa Mega Silver, hingga membeli 2 kain endek bermotif tulisan aksara Bali warna merah dan hitam, di stand pameran Tenun Putri Ayu.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan, Pameran IKM Bali Bangkit yang diprakarsai Dekranasda Provinsi Bali merupakan program inovasi dengan tujuan untuk membangkitkan kembali perekonomian Bali selama masa pandemi Covid-19. Sehingga para pengelola Industri Kecil Menengah (IKM) di Pulau Dewata memiliki kreativitas.
“Selain itu, Pameran IKM Bali Bangkit ini juga digelar sebagai upaya untuk membangkitkan produksi pasar di dalam dan luar negeri serta mengembangkan produk lokal yang sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali guna mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru khususnya dalam penguatan dan pemajuan adat, tradisi, seni dan budaya, serta kearifan lokal, sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno yakni Berdaulat secara Politik, Berdikari secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan,” kata mantan anggota DPR-RI 3 periode dari Fraksi PDI Perjuangan itu.
Sebelumnya, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny Putri Koster mengatakan, dalam Pameran IKM Bali Bangkit yang diikuti oleh 50 IKM tersebut, menyajikan hasil kerajinan asli Bali yang meliputi kain tenun, kerajinan perak, ukiran batu, kayu dan lainnya yang mempunyai ciri khas tersendiri dan kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Selama pameran berlangsung, Dekranasda Provinsi Bali melarang para peserta pameran menjual produk tiruan seperti songket bordiran dan alpaca.
“Kita ingin menonjolkan produk asli Bali yang berkualitas. Jadi penuhi itu, jangan menjual produk tiruan yang menurunkan kualitas yang asli, seperti halnya kain songket Bali yang sudah kondang sebagai produk berkualitas dan mendunia, maka tidak perlu menjual kain songket bordir yang sudah pasti kualitasnya rendah. Kalau kain songket bordir sampai beredar dalam pameran ini, maka sudah ada yang mencederai warisan leluhur Bali. Untuk itu, saya mengajak para perajin jangan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati produk seperti itu,” ujar pendamping orang nomor satu di Pemprov Bali ini.
Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Ida Ayu Kalpika menyebutkan, Pameran IKM Bali Bangkit berlangsung dari tanggal 1 Pebruari – 31 Maret 2021, dengan memamerkan perhiasan perak dan emas, batu permata, payasan bali, tenun endek dan songket, fashion, produk sepatu, sandal dan tas, kemudian produk kerajinan logam, produk kerajinan kayu, produk spa dan usada, serta kerajinan lainnya.
“Selama pameran berlangsung, seluruh peserta dan pengunjung yang hadir di ruang pameran Gedung Ksirarnawa wajib menerapkan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat, seperti membatasi jumlah peserta dan penunggu pameran, mencuci tangan, memakai masker, tidak berkerumun, mengukur suhu setiap hari dengan alat yang disediakan panitia serta mengikuti rapid test dan swab,” ucapnya, menjelaskan. (LE-DP1)







