Karangasem, LenteraEsai.id – Sebatang pohon belalu (Albizia chinensis), mendadak menyemburkan air bening yang tak ubahnya bagai hujan lokal. Peristiwa ini terjadi di tengah-tengah areal kebun milik Putu Astawan di Banjar Pande Bujaga, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Kejadian misterius ini pertama kalinya diketahui oleh Pande Komang Widiana, sepupu Putu Astawan, yang pada hari Minggu siang, 18 Oktober 2020 sedang konsen berburu burung di areal kebun salak yang cukup banyak ditumbuhi tanaman keras.
Ketika sedang berupaya mengendap-endap mencari posisi satwa buruan, tiba-tiba merasakan ada hujan gerimis yang turun mendadak, tepat di bawah pohon belalu setinggi kurang lebih 25 meter.
“Kepala saya basah akibat tersiram cucuran air yang cukup deras,” kata Widiana yang kesehariannya adalah ASN pada unsur Dinas Pendidikan di Kecamatan Rendang.
Widiana mengaku langsung tertarik untuk mencari-cari dari mana gerangan sumber ‘hujan lokal’ tersebut. Setelah mencermati, baru sadar kalau air berjatuhan dari hampir seluruh bagian ranting pohon belalu yang melebar laksana payung dengan garis tengah sekitar enam meter.
“Saya kaget bercampur takut melihat kenyataan ini. Kemudian saya sampaikan pada orang-orang termasuk ke Bli Tu Ani selaku pemilik kebun. Kami kemudian beramai-ramai membuktikan, dan ternyata benar air menyembur cukup deras dari bagian ranting-ranting pohon belalu,” ujarnya, menuturkan.
Ia menyebutkan, itu peristiwa muncul pada siang hari. Selanjutnya, didampingi Jro Mangku Pande Made Tastra, sesepuh Banjar Pande Bujaga, kembali dilakukan pengamatan pada malam harinya.
Disertai pula beberapa orang saudara dekat dan tetangga, secara bersama-sama menyaksikan ‘hujan lokal’ yang semakin malam curahnya menjadi semakin deras. Karenanya, kata Widiana, sebuah ember yang dipakai untuk tadah ‘air hujan’, dalam waktu yang tidak begitu lama sudah terisi penuh.
Jro Mangku Tastra menuturkan, dilihat dari kasatmata, fenomena ini tergolong sulit untuk dapat dijawab dengan rasional. Masalahnya, semburan air begitu deras dan hanya berlangsung pada radius di bawah pohon belalu itu saja.
Senada dengan Jro Mangku Tastra, Peltu (Purn) Made Winaya, tokoh masyarakat yang mantan Danramil Rendang menyatakan lebih melihat hal tersebut sebagai peristiwa yang bernuansa niskala atau spiritual.
“Kami percaya itu bukan peristiwa alam biasa, melainkan lebih atas kehendak Yang di Atas. Kehendak Ida Sang Hyang Widi Wasa,” ujar Winaya yang dibenarkan beberapa warga yang lain.
Sehubungan dengan itu, lanjut Winaya, banyak warga masyarakat yang meyakini kejadian ‘hujan lokal’ yang hanya jatuh pada radius sekitar 7 meter di bahan pohon belalu, merupakan ‘paica’ yang patut disyukuri.
“Sebagai suatu paica, air bening yang begitu deras mengguyur dari bagian ranting pohon, kami yakini bisa dipakai menyembuhkan aneka jenis penyakit,” ujar Winaya dengan meyakinkan bahwa alam mengirimkan semacam ‘tamba’ agar warga yang menderita sakit dapat dinetralisir melalui air yang jatuh dari pohon belalu tersebut. (LE-VS)







