HeadlinesKarangasemNews

Berkah Mohon Kesembuhan di Bukit Catu, Orang Mau Meninggal Dunia Sehat Kembali

Karangasem,LenteraEsai.id – Sesosok tinggi besar yang perawakannya menyerupai tokoh pewayangan yaitu tualen atau malen, sering menampakkan wujudnya kepada warga di sekitaran Bukit Catu Banjar Bengkel, Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Penampakan itu tidak hanya sekali atau dua kali saja disaksikan warga, tetapi sudah cukup sering terjadi. Bahkan ada warga yang mengaku pernah melihat sosok tualen dengan postur dan busana yang khas di sekitaran Bukit Catu tersebut.

Masyarakat di sekitar bukit yang dikeramatkan itu mempercayai bahwa tokoh ‘maya-maya’ yang berstana di Pura Bukit Catu adalah Sang Hyang Tualen.

“Saya pernah melihat sekali sosok tualen tersebut dengan perawakan yang  sangat besar dengan memakai kamen yang dikancut,” kata I Made Pargita, salah seorang tokoh masyarakat Banjar Bengkel, Desa Antiga ketika ditemui di rumahnya pada Selasa (2/6/2020) siang.

Selain itu, Made Pargita juga mengaku pernah bermimpi tentang adanya sebuah bola api yang terjatuh di bukit tersebut. Namun setelah didekati ternyata yang ditemukan adalah sesosok Dewi berpakaian serba putih yang di tangan kanannya menggenggam genitri yang berisi angka 467.

“Angka itu yang belum bisa saya kupas sampai sekarang. Apa sebenarnya arti dari angka 467 tersebut,” kata Made Pargita didampingi Kelihan Subak Abian Kayu Putih I Wayan Pasek Sujena, yang juga merupakan mengempon Pura Bukit Catu.

Banyaknya kejadian mistis yang dialami oleh warga masyarakat, maka kemudian dibuatlah pelinggih khusus di kawasan Pura Bukit Catu.

Selain penuh dengan aura mistis, Pura Bukit Catu juga dikenal kerap mengabulkan permohonan pemedek atau warga masyarakat yang datang ke pura dengan hati yang tulus.

Selain warga sekitar, tidak sedikit orang yang datang dari luar desa atau daerah lain untuk ‘tangkil’ memohon sesuatu ke Pura Bukit Catu, seperti dari Kabupten Klungkung, Badung, Denpasar, bahkan ada juga yang datang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Hampir dari semua pamedek yang tangkil ke Pura Bukit Catu, mereka mengaku tahu tempat ini dari sebuah mimpi,” kata Made Pargita dengan sorot mata menerawang jauh.

Made Pargita mengungkapkan, dari banyaknya pemedek yang datang, ada warga yang suaminya sedang sakit keras, bahkan disebutkan sudah hampir meninggal dunia. Tapi setelah perempuan tersebut bersembahyang dan memohon kesembuhan di Pura Bukit Catu, perlahan suaminya membaik dan sehat sampai sekarang.

Di samping sebagai tempat memohon kesembuhan, Pura Bukit Catu juga dikenal sebagai tempat spiritual bagi mereka yang punya ilmu di luar nalar manusia normal pada umumnya.

Jro Mangku Nyoman Mendra, salah satu tokoh spiritual dari Banjar Pakel, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis mengatakan, di kawasan Bukit Catu merupakan ‘gudangnya’ senjata niskala yang mungkin tidak bisa dilihat oleh mata normal manusia.

Keunikan lain dari pura yang diempon sekitar 30 kepala keluarga (KK) itu adalah di sekitar Pura Bukit Catu ada 3 bukit lain yang letaknya nyaris sejajar, yaitu Bukit Ceeng, Bukit Niyu dan Bukit Kolak. Ketiga bukit tersebut, plus Bukit Catu, diyakini memiliki kaitan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya.

Selain itu, di Pura Bukit Catu juga pernah terjadi kebakaran. Yang membuat aneh adalah wastra atau kain yang terpasang di beberapa pohon, batu dan pelinggih, tidak ikut terbakar. Petugas memadam yang datang, dibuat geleng-geleng kepala seakan tak percaya menyaksikan kejadian itu.

Dan perlu diketahui, pujawali di Pura Bukit Catu dilaksanakan setiap purnama sasih kepitu dan untuk akses menuju ke sana bisa ditempuh dengan sepeda motor bahkan mobil pun kadang dapat sampai ke lokasi. Hanya saja, harus parkir di bagian kaki bukit.

Dari tempat parkir, rute selanjutnya harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai ke puncak bukit,  (LE-Jun)

Lenteraesai.id