Pandemi Covid-19, Pembuat Arak Keluhkan Omzet Turun Drastis

I Wayan Sudiasa di rumahnya yang terletak di Banjar Gegelang, Desa Gegelang, Manggis, Karangasem

Amlapura, LenteraEsai.id – Arak merupakan minuman tradisional yang menjadi sumber mata pencaharian sebagian masyarakat Bali. Apalagi setelah arak dilegalkan pendistribusiannya oleh Gubernur Bali melalui Pergub No. 1 tahun 2020, membuat para pembuat atau penjual minuman tradisional menjadi lebih leluasa untuk menjual dagangannya, tanpa harus kucing-kucingan lagi dengan petugas.

“Sayangnya, sejak adanya Virus Corona menyerang, lahan usaha pembuat arak menjadi suram. Padahal tadinya kami sudah senang dan merasa ada harapan ketika diterbitkannya Pergub Bali,” kata I Wayan Sudiasa (47), salah seorang pembuat arak ketika dijumpai di rumahnya di Banjar Gegelang, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Minggu (12/4/2020).

Bacaan Lainnya

Menurut Sudiasa, dirinya membuat arak sejak tahun 2003 dan menjadi satu-satunya pekerjaan yang digeluti untuk menghidupi keluarganya. Selama ini, dirinya bersyukur mampu menghidupi keluarga dengan layak, berkat menggeluti usaha pembuatan arak tradisional.

“Sebelum ada wabah Virus Corona, saya bisa mengirim 90 liter arak ke langganan dalam tempo sebulan. Ada juga pembeli yang mencari langsung ke rumah. Kadang saya mengirim ke Manggis, atau sesekali ke Denpasar,” ujar Sudiasa, seraya menambahkan omzet atau penghasilannya per bulan rata-rata Rp 1,5 juta.

Sekarang, lanjutnya, susah sekali mencari pembeli arak, bisa jualan 4-5 liter dalam seminggu saja sudah syukur. Bahkan, saat ini ada 72 liter arak terbengkalai di rumah akibat tidak bisa mengirim ke Denpasar. Hal ini terkait pula dengan adanya penerapan sosial distancing, sehingga warga diimbau tidak bepergian, kecuali ada alasan mendesak.

Kemampuan warga yang membeli arak pun semakin turun, sehubungan tidak sedikit karyawan hotel, rumah makan dan lain-lain yang dirumahkan setelah Covid-19 semakin mewabah.

Warga masyarakat yang kehilangan pendapatan, nampaknya lebih mengutamakan membeli sembako untuk kebutuhan sehari-hari, ketimbang membeli arak.

“Untungnya siswa sekarang belajar di rumah, sehingga orang tua tidak perlu dipusingkan untuk menyediakan bekal berangkat ke sekolah. Kalau ekonomi sulit begini, masalah bekal anak ke sekolah juga jadi persoalan bagi rakyat kecil seperti kami,” katanya dengan ekspresi wajah yang tampak lesu. (LE-Met)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *