HeadlinesKarangasemNews

Tanggapan Video Viral Pemedek Harus Bayar Masuk ke Pura di Tirta Gangga

Amlapura, LenteraEsai.id – Di jagat dunia maya mencuat video viral tentang ratusan krama yang selama ini menetap di Desa/Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, ditolak masuk ke dalam pura yang berdiri di kawasan objek wisata Tirta Gangga, Kabupaten Karangasem pada Senin (3/2) lalu.

Penolakan terhadap penduduk Grokgak yang asal usulnya berasal dari Desa Seraya, Kabupaten Karangasem itu, terjadi setelah mereka tidak bersedia membayar retribusi sebesar Rp10 ribu per orang, sebagaimana ditetapkan oleh pihak pengelola objek wisata Tirta Gangga.

Penayangan video tersebut dipicu oleh adanya ratusan krama yang datang mau ‘meajar-ajar’ ke sebuah pura yang ada di Tirta Gangga, diminta oleh pengelola objek wisata itu untuk membayar Rp 10.000 per orang. Sempat terjadi ketegangan antara krama dengan pengelola Tirta Tangga, hingga akhirnya ratusan pemedek membatalkan niatnya untuk ‘meajar-ajar’.

Akhirnya pada Senin (3/2) malam, pengelola objek wisata Tirta Gangga AA Made Kosalia memberikan klarifikasi yang diawali dengan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Bali, khususnya umat Hindu di Pulau Dewata.

Menurut Kosalia, badan pengelola tidak pernah melarang semeton Bali yang akan sembahyang di Pelinggih Pesucian Taman Tirta Gangga, akan tetapi meminta kepada semeton untuk dapat mematuhi aturan yang ada.

“Taman Tirta Gangga adalah milik keluarga Puri Agung Karangasem dan bukan milik pemerintah, sehingga segala aturan tata tertib pengunjung dibuat sesuai keputusan internal. Dan Taman Tirta Gangga sebagai objek wisata sudah sepatutnya menjaga kebersihan agar tidak ada komentar negatif dari para wisatawan tentang kebersihan lingkungan,” ucapnya.

Ia menyebutkan, sebagai penyedia sebuah objek wisata sudah sewajarnya juga membuat aturan agar setiap orang yang melakukan persembahnyangan ikut bertanggung jawab terhadap kebersihan dan ketertiban di areal Taman Tirta Gangga.

Sehubungan dengan itu, lanjut dia, pihak pengelola mengeluarkan suatu kebijakan bagi setiap pemedek, yakni dikenakan uang kebersihan sebesar Rp10.000/orang demi tertibnya situasi.

Pada saat kejadian, kata Kosalia, pihaknya sebagai Ketua Badan Pengelola Tirta Gangga sudah mencoba memberi penjelasan sebaik-baiknya, namun situasi tidak terkendali. Apalagi setelah ketua rombongan datang dan berbicara dengan pengeras suara (toa) dengan nada provokasi.

“Dan kemudian datanglah seorang membawa handphone dan mengambil gambar yang sudah jelas saya ketahui untuk dishare di medsos. Padahal dalam perbincangan saya selaku ketua sudah memberikan solusi yang terbaik kalau keberatan dikenakan uang kebersihan sejumlah 10.000/orang, kami dari pengelola akan memberikan kebijaksanaan lagi. Namun karena omongan provokasi dari ketua rombongan, maka terprovokasilah anggota rombongan,” ujar dia.

Dikatakan Kosalia, aturan seperti ini sudah berlaku sejak lama dengan mengenakan uang kebersihan. Ini bukan merupakan pemaksaan, karena pengelola sudah menyiapkan solusi kebijakan lainnya. Hanya yang diharapkan perlu pemahaman dan pengertian, dan bukan menjalankan emosi sesaat.

“Apalagi anda semua datang untuk tujuan sembahyang, seharusnya menjauhkan rasa emosional dan pikiran negatif. Dan perlu diketahui bahwa Taman Tirta Gangga adalah bukan tempat untuk upacara ‘meajar-ajar’, tapi untuk metirta yatra yang benar. Tapi mereka harus mengikuti aturan tata tertib karena Taman Tirta Gangga adalah milik keluarga puri,” kata Kosalia, menjelaskan. (LE-KR)

Comment

Comment here

Lenteraesai.id