Sikapi Covid-19, Gubernur Koster: Alam Sedang Menguji, Berhenti Bersikap Sombong

Kedonganan, LenteraEsai.id – Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan, Satgas Gotong Royong di desa-desa adat telah menunjukkan hasil nyata untuk pencegahan penularan Covid-19 di wilayah desa adatnya masing-masing. Belum ada provinsi lain yang punya kelembagaan adat yang dikelola dengan baik seperti di Bali.

Gubernur mengatakan hal itu ketika menghadiri dan secara simbolis menyerahkan bantuan bahan pokok sebagai bagian dari percepatan penanganan Covid-19 kepada para pemuka agama dan penglingsir Desa Adat Kedonganan, yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Adat Kedonganan, Kabupaten Badung, Sabtu (9/5/2020).

Bacaan Lainnya

“Inilah momentum kita bersama, kebetulan pula saya membentuk Perda No 4 tahun 2019 tentang Penguatan Desa Adat di Bali, dengan kewenangan yang kuat. Sehingga saat ini payung hukum dan keberadaan desa adat kita di Bali sangat baik,” ujar Gubernur Koster.

Gubernur melanjutkan, pihaknya juga sedang menyiapkan konsep menghadapi masalah-masalah seperti Covid-19 ini bilamana terjadi lagi di masa yang akan datang. Namanya mitigasi bencana, tugasnya untuk menangani masalah yang tiba-tiba seperti pandemi Covid-19 saat ini.

“Saya yakin saat ini alam sedang menguji kita semua, terutama umat di Bali untuk berhenti sombong, berhenti angkuh dan egois. Kita perlu introspeksi, selama ini kita mengeksploitasi pariwisata besar-besaran. Namun di saat kondisi seperti sekarang, di mana orang-orang yang mengambil keuntungan selama berpuluh-puluh tahun dari alam itu ?,” ujarnya dengan tegas mempertanyakan.

Melihat itu, Gubernur Koster mengaku akan berkomitmen untuk mengerem cara-cara yang mengeksploitasi alam Bali lewat visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, dan desa adat harus menjadi pilar utamanya.

Pada tempat yang sama, Ketua LPD Kedonganan Ketut Madra menyatakan bersyukur sekali atas kehadiran Gubernur Bali di Desa Kedonganan di tengah wabah Covid-19 yang melanda seluruh dunia seperti saat ini.

“Kehadiran Bapak Gubernur sangat bernilai bagi kami masyarakat Kedonganan secara khusus. Saat ini, sesuai imbauan pemerintah terkait pandemi Covid-19, kami menghentikan kegiatan di Desa Kedonganan terutama di bidang pariwisata, termasuk pula kafe-kafe seafood di pinggir pantai,” ujar Ketut Madra.

Untuk dana paket sembako selama tiga bulan ini, lanjut dia, diperkirakan menghabiskan anggaran sekitar Rp 3,5 miliar. Namun bila kasus Corona berakhir bulan depan, tentu saja paket sembako ini pun akan dievaluasi kembali. (LE-BD1)

Pos terkait