Masa Pandemi, Warga Selat Sukses Budi Daya Keladi dengan Omzet Jutaan

Jro Nyoman Astika (48), petani keladi asal Banjar Dinas Sukawana, Desa Selat, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem

Karangasem, LenteraEsai.id – Jro Nyoman Astika (48), warga asal Banjar Dinas Sukawana, Desa Selat, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem berhasil membudidayakan tanaman jenis keladi di lahan kontrakan seluas empat are.

Jro Astika mengaku awal mula bertanam keladi karena diajak oleh temannya yang sudah lebih dulu menggeluti tanaman yang sama. Dan para petani keladi itu tergabung di PT Mitra Jaya Lestari, yang kantornya terletak di Buleleng, Bali bagian utara, sekaligus sebagai menyuplai bibit keladi tersebut.

Bacaan Lainnya

“Saya mulai menggeluti tanaman keladi ini sejak pertengahan Covid-19 melanda, dan awalnya cuma iseng karena diajak teman. Tetapi sekarang justru menjadi usaha yang cukup menjanjikan,” kata Jro Astika saat dikonfirmasi, Minggu (5/9/2021).

Sebagai pemula, ia menanam sebanyak 500 bibit jenis keladi kuning dan keladi ungu di lahan seluas 4 are. Jarak tanam keladi tersebut sekitar 75 cm dengan kedalaman bagian bonggol yang harus dikubur 5 cm. Tanaman keladi ini sangat cocok ditanam di daerah dingin maupun panas.

“Panen setiap jenisnya ini berbeda. Untuk jenis keladi kuning minimal 7 bulan sudah panen, sedangkan jenis keladi ungu 8 bulan baru bisa panen,” ucap Jro Astika.

Jro Astika mengatakan, untuk sistem pemupukan, awalnya mendapat dari perusahaan berupa pupuk cair sekitar 5 liter dan selanjutnya petani bisa menggunakan pupuk organik. “Pemupukan tidak boleh menggunakan pupuk kimia. Di sini semuanya alami untuk pemeliharaan tanaman,” katanya.

Dia menyebutkan, umbi keladi yang sudah siap panen beratnya sekitar 3 sampai 5 kg dan per are kira-kira menghasilkan sebanyak 600 sampai 800 kg dengan hasil sekitar Rp12 juta per are. Jika ditambah dengan penjualan anakan, daun dan batang keladi hasilnya bisa lebih.

“Harga per kilo bervariasi mulai dari Rp15 ribu sampai Rp23 ribu. Hasil panen langsung diambil oleh perusahaan dengan kontrak awal yang sudah disiapkan pihak perusahaan, dan tanaman keladi ini tidak boleh dijual di pasar bebas,” kata Jro Astika.

Mengenai serangan hama, Jro Astika menyebutkan saat ini belum menemukannya. Tapi, faktor hujan sangat berpengaruh karena kadang kena virus busuk batang dan daun, tapi untuk umbinya tidak ada pengaruhnya.

“Khasiat dari keladi kuning ini sangat luar biasa untuk kesehatan, dan harapan saya agar hasil keladi ini bisa lebih maksimal lagi dimasyarakatkan dan pengembangannya semakin luas,” kata Jro Astika menandaskan. (LE-Jun) 

Pos terkait