Bangli, LenteraEsai.id – Anomali cuaca belakangan ini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, sehingga kadang timbul bencana alam secara tidak terduga yang beresiko mengancam keselamatan jiwa dan harta benda.
Terkait dengan itu, BNPB melakukan pengecekan efektivitas alat peringatan dini bencana longsor berbasis masyarakat yang dipasang di wilayah Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Alat tersebut telah terpasang sejak lima tahun lalu di Desa Batu Dinding, Kecamatan Kintamani, yang memiliki potensi tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi.
Pada saat pengecekan, tim BNPB menemukan beberapa faktor peralatan tidak berfungsi secara optimal, yang faktor penyebab teridentifikasi pada kondisi teknis alat dan faktor alam. Karenanya, perlu dilakukan evaluasi secara bersama antara pihak BNPB dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
UGM adalah perguruan tinggi yang mengembangkan perangkat bagian dari sistem peringatan dini tanah longsor atau landslide early warning system (LEWS).
Tim BNPB mendapati adanya kendala baterai yang sudah habis, sehingga alat sensor tidak berfungsi. Di samping itu, kendala hama semut telah menyebabkan malfungsi sensor tersebut. Sedangkan kondisi alam, seperti kondisi tanah yang tergerus aliran sungai, merusak ekstensometer yang terpasang di dekat bantaran sungai.
Pengecekan alat peringatan dini tanah longsor dilakukan sebagai bahan evaluasi dan masukan dalam penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI).
BNPB juga berkesempatan untuk melakukan pertemuan dengan Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta setelah pengecekan alat di lapangan usai dilakukan. Bupati Bangli mengharapkan penyusunan RSNI Alat Peringatan Dini Longsor Berbasis Masyarakat dapat menghasilkan SNI yang efektif untuk menyelamatkan jiwa masyarakat yang terpapar potensi bahaya tanah longsor di wilayahnya.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan produk SNI yang dapat memberikan informasi secepat mungkin kepada masyarakat yang berpotensi terdampak longsor, di mana di Kabupaten Bangli sendiri sudah terjadi dua kali longsor di tahun 2021 ini,” ujar Sang Nyoman Sedana Arta di rumah dinas bupati di Bangli, Rabu (18/8).
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB Mohd Robi Amri menyampaikan informasi bahwa pada tahun 2022 mendatang Provinsi Bali akan menjadi tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022. Ia menyampaikan, kegiatan internasional ini akan dihadiri perwakilan dari 162 negara anggota.
“Salah satu tujuan ‘field trip’ yang direncanakan adalah kunjungan pada wilayah yang terpasang alat peringatan dini longsor di wilayah Kintamani dan kunjungan ke Museum Batur,” ujar Robi.
Ia berharap momen tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mempromosikan Kabupaten Bangli kepada komunitas internasional, khususnya dalam konteks pengurangan risiko bencana tanah longsor.
Kebupaten Bangli termasuk wilayah dengan potensi bahaya tanah longsor kategori sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis inaRISK, sebanyak 4 kecamatan berada pada potensi tersebut. Pada 9 Februari 2017 lalu, tanah longsor yang terjadi di kabupaten ini mengakibatkan 13 warga meninggal dunia dan 8 lainnya luka-luka, serta 5 unit rumah rusak. (LE-BL)







