Badung, LenteraEsai.id – Pekaseh Subak Balangan, Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali bersama komponen lainnya, terus berjuang agar air bisa mengalir kembali ke wilayah subak mereka seperti pada puluhan tahun silam.
Pekaseh Subak Balangan I Ketut Matrayasa (60) ketika dihubungi di areal lahan garapannya di Desa Kuwum mengatakan, perjuangan untuk kembali mendapatkan aliran air ke lahan persawahan di desanya terus dilakukan sehubungan sudah 21 tahun para petani tidak bisa menanam padi.
“Kami sudah 21 tahun lamanya tidak lagi bisa menandur padi gara-gara air di Bendungan Pama Pulian, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan yang dulu mengairi sawah kami, sejak itu ditutup dengan cara ditembok beton,” ujarnya, mengungkapkan.
Ditanya mengenai perjuangan yang selama ini ditempuh, Matrayasa menyebutkan antara lain dengan bersurat ke Kementerian PUPR cq Kantor BWS Nusa Penida-Bali yang berkantor di Renon, Denpasar. “Surat terakhir sudah kami layangkan enam bulan lalu. Isi surat pada intinya minta agar air ke wilayah Subak Pekaseh Balangan, Desa Kuwum, dapat dibuka kembali,” ujarnya.
Didampingi sejumlah petani lain ketika bincang-bincang dengan pewarta LenteraEsai (LE) pada Jumat sore, 7 Mei 2021, Matrayasa menuturkan, setelah dirinya menjabat Pekaseh Subak Balangan tahun 2020 lalu, ia mulai membuka-buka dokumen tentang ‘pula-pali’ subak yang ada di desanya.
Dalam lembar dokumen tersebut ditemukan bahwa Subak Balangan yang terdiri atas 3 munduk, airnya bersumber dari Bendungan Pama Pulian, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Dengan dokumen itulah, lanjut dia, pihaknya berjuang ke pemerintah, agar kembali mendapat pembagian air untuk usaha pertanian (menanam) padi bagi krama atau petani di Subak Balangan.
“Rapat sudah berkali-kali berlangsung di Kantor BWS Nusa Penida-Bali di Renon, Denpasar dengan melibatkan Dinas PUPR Tabanan, Kabupaten Badung, Pekaseh dan unsur lainnya. Namun penyelesaian kasus ini dirasakan begitu alot,” kata Matrayasa.
Ia mengungkapkan, perwakilan Kantor BWS Nusa Penida, Dinas Pertanian Badung dan juga Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa, sudah terjun ke wilayah Subak Balangan melakukan peninjauan atas kondisi di lapangan.
Bersamaan dengan itu, krama Subak Balangan sejak beberapa bulan lalu berkali-kali turun bergotong royong memperbaiki saluran irigasi (telabah) dan terowongan yang tertimbun material dan tersumbat sampah, sebagai langkah mengantisipasi bila air secepatnya dapat dialirkan.
“Kami juga minta tolong kepada pihak Dinas PUPR Badung untuk mengeruk saluran irigasi sepanjang kurang lebih 900 meter yang tumpukan materialnya sudah terlanjut tebal,” ujarnya.
Ditanya mengenai kemungkinan air akan dialirkan dari Bendungan Pama Pulian ?, Matrayasa mengaku tidak tidak tahu persis tentang kapan waktunya. “Kami sih berharap secepatnya. Kalau tidak, ‘kado’ para petani Subak Balangan sudah bersemangat gotong royong, karena sangat berharap segera dapat aliran air untuk bisa menanam padi kembali,” ucapnya, menandaskan.
Matrayasa yang juga tokoh masyarakat itu menjelaskan, sebenarnya permasalahan yang sempat ada kini sudah terang benderang. Di mana Bendungan Pama Pulian adalah milik BWS Nusa Penida-Bali atau PUPR Pusat, bukan punya daerah tertentu. “Maka dari itu, kalau sekarang BWS membongkar tembok beton penutup air ke Subak Balangan, tidak salah. Cuma tetap diupayakan dengan musyawarah antarpara pihak, sebagai budaya ketimuran,” kata Matrayasa.
Menariknya, tambah Matrayasa, dalam rapat 3 Mei 2021 lalu, perwakilan Dinas PUPR Kabupaten Tabanan mengatakan bahwa petani wilayah Tabanan yang memakai air Bendung Pama Pulian, tidak setuju penutup saluran air ke wilayah Subak Balangan dibuka. Alasannya, aliran air ke pesawahan mereka akan menjadi kecil. Bahkan, kemungkinan besar pembagian air akan dilakukan secara bergilir.
“Terlepas dari itu, target kami Oktober 2021 air sudah mengalir ke sini (wilayah Subak Balangan Red-). Seluruh areal sawah di sini 60 hektar. Sudah 21 tahun tidak dapat pembagian air, kami hanya bisa menanam palawija,” kata Matrayasa dibenarkan beberapa petani yang sedang ngumpul di areal pertanian garapan mereka. (LE/Ima)







