Denpasar, LenteraEsai.id – Dalam serangkaian peringatan HUT ke-232 Kota Denpasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar menyelenggarakan Festival Motor Custom dan Motor Klasik.
Festival digelar pada Sabtu, 22 Februari 2020 di Gedung Dharma Negara Alaya Denpasar itu, diikuti komunitas motor custom dan motor clasik dari berbagai bengkel custom, salah satunya Dewata Kustom Builder (DKB).
Pada kesempatan itu, Koresponden LenteraEsai.id sempat bertemu dengan seorang seniman ukir logam dari Denpasar, Kadek Agus Nonon D Mahendra yang akrab disapa Nonon Tantri.
Ia mengatakan, Festival Motor Custom dan Motor Klasik tahun ini diikuti kurang lebih 65 sepeda motor dari berbagai bengkel custom di Bali. Seperti diketahui, sepeda motor klasik umumnya penuh dengan tempelan atau variasi antik yang terbuat dari bahan logam.
Salah seorang dari beberapa seniman yang tampil untuk mengisi pernak-pernik ukiran logam bagi aneka kendaraan bermotor ‘buhun’ yang ambil bagian dalam festival tersebut, adalah Nonon Tantri.
Pemuda berbadan gempal tersebut merupakan seniman ukir logam otodidak yang pada pase-pase awal menerjuni hobinya, mencoba dengan menghias sepeda motor miliknya sendiri.
Berangkat dari hobi ditambah ketekunan yang dimiliki, kepiawaian Nonon Tantri dalam mengukir logam terus beranjak naik. Bersamaan dengan itu, ia pun terjun mengikuti acara pameran ukir batik logam di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Jogjakarta.
Keahlian yang dimiliki Nonon Tantri tergolong langka, mengingat tidak banyak orang yang mau dan bisa menuangkan karya seni pada lempengan logam yang tergolong cukup keras. “Ini memang butuh kesabaran dan sarana khusus,” katanya.
Sarana dan peralatan khusus sangat dibutuhkan dalam upaya penekuni ukiran logam. Tak heran, untuk sebuah palu saja misalnya, Nonon Tantri mengaku secara khusus memesan dari temannya di Negeri Singapura. “Ya..cukup banyak perabotan yang harus saya datangkan dari luar,” ujarnya, menjelaskan.
Ditanya tentang proses pengerjaan untuk sebuah karya seni ukir logam, Nonon Tantri menyebutkan, butuh waktu sekitar sebulan hingga dua bulan, tergantung dari tingkat kesulitan dan rumitnya corak yang harus diselesaikan.
Selama ini hasil buah karyanya sudah dinikmati para modifikator moge Harley Davidson, bahkan hingga diekspor sampai ke negara Rumania, Belanda dan Singapura dan masih banyak lagi.
Barang-barang dari logam yang dipesan tersebut mulai dari spartpart Harley Davisdon seperti calter, camp cover, primary cover, derby, hingga tutup rocker arm. Selain itu, spare part aftermarket yang umumnya juga minta diukir tiga dimensi, di antaranya jok, lampu, raiser, spakbor, handgrip, hingga footstep.
“Kebanyakan mereka pesan setelah melihat karya saya di medsos. Jadi, memang benar-benar faktor trust karena tidak saling kenal,” ujar ayah dua anak ini. Sementara dari dalam negeri, pesanan banyak datang dari bengkel custom dan klub motor besar di Bali dan daerah lain di Indonesia.
Jika dirupiahkan, jasa ukir logam boleh jadi bagi sebagian orang cukup mahal. Namun, melihat banyaknya konsumen luar negeri, itu menunjukkan karya pahatan Nonon Tantri di atas media keras semacam besi, aluminium, dan kuningan memang memiliki nilai seni dan hobi tersendiri.
“Kalau untuk konsumen lokal sih, harganya tentu beda, dijamin lebih murahlah,” ujarnya sambil tersenyum renyah. (LE-Duh)







