Catatan Perjalanan Tirta Yatra ke Sejumlah Pura di Jawa Timur (1)

Oleh: I Made Astra

SAYA dengan sejumlah teman November 2020 mengadakan perjalanan tirtayatra ke sejumlah pura di Jawa Timur. Disepakati menempuh perjalanan darat melalui Pelabuhan Gilimanuk, Jembrna (Bali) –Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Walau dalam situasi pandemi Covid-19, urusan di penyeberangan lancar. Karena kami sudah menyiapkan surat-surat yang diperlukan, termasuk tiket dan semua mengikuti protokol kesehatan. Yakni masing-masing menggunakan masker. Seperti apa?.

Terdororong keinginan untuk mencari suasana alam yang berbeda lantaran sumpek di rumah saja saat pandemi Covid-19, kami sepakat memilih Jawa Timur. Keinginan melakukan tirta yatra keluar daerah juga setelah waktu itu mengikuti perkembangan yang makin longgar di pintu penyeberangan. Peserta ada enam orang. Kami berangkat dari Bali, 18 November 2020 sekitar pukul 16.00 Wita. Sarana untuk sembahyang sudah kami siapkan. Di antaranya banten pejati, canang, dupa dan lainnya. Termasuk masing-masing personel menyiapkan pakaian sembayang.

Setelah masing-masing mengantongi tiket penyeberagan, kami tidak langsung menyeberang ke Ketapang, Banyuwangi petang itu. Melainkan mengisi ‘bensin’ terlebih dahulu. Mengisi ‘bensin’ itu istilah untuk makan. Tempat yang dipilih yakni rumah makan yang sudah melegenda di kawasan Gilimnuk, yakni RM Men Tempeh. Tidak terlalu lama menungu, paket pesanan pun datang. Kami pun makan dengan lahap sampai keringatan. Selain masakannya enak, juga karena personel sudah pada lapar.

Sebenarnya sebelum tiba di Gilimanuk, seperti biasa tradisi umat Hindu melakukan perjalanan darat melalui Jembrana, terlebih dahulu mabakti (sembahyang) di pengayenan Pura Rambut Siwi dan nunas tirta. Tujuannya agar selamat dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan.

Setelah selesai mengisi ‘bensin’, kami melanjutkan perjalanan. Yaitu memasuki kapal penyeberangan. Tidak sampai capek kami menunggu, kapal Ferry yang mengangkut barang dan penumpang pun bergerak ke barat. Kurang lebih 35 menit kapal nyandar di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Jatim dengan aman. Karena saat itu tidak ada gangguan atau kendala sama sekali di laut. Sekitar pukul 20.00 Wita sampai di Kota Banyuwagi. Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat menginap, kami melihat kota semarak dengan hiasan dan dandanan yang didominasi lampu warna-warni. Memang sepuluh tahun belakanan Kabupaten Banyuwangi banyak berbenah dan berubah.

Malam itu Banyuwangi diguyur hujan lebat. sehingga rombongan tidak bisa ‘liar’ ke mana-mana, melainkan hanya nongkrong-nongkrong di lobi hotel. Setelah ngantuk, lalu masuk kamar hotel dan terlelap tidur.

Keesokan harinya, 19 November 2020, pagi-pagi kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Mandara Giri Semeru Agung di Kecamatan Sundoro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Karena belum mengenakan pakaian sembahyang, kami mampir dulu sesaat di sebuah penginapan di sebelah pura. Istirahat sejenak sambil ngopi siang. Kemudian mandi dan berpakaian sembahyang. Terus menuju pura untuk bersembahyang dengan perlengkapan upakara yang sudah kami siapkan dari Bali. Persembahyangan dipimpin Jro Mangku setempat. Kami berada di Pura Semeru Agung sekitar satu jam. (Bersambung)

  • I Made Astra, adalah jurnalis senior tinggal di Denpasar

Pos terkait