Peselancar Tuli Taklukan Ombak Kuta dalam Rangka Hari Kartini

Peselancar tuli taklukan ombak Kuta dalam rangka Hari Kartini
Para remaja perempuan peselancar tuli meriahkan Hari Kartini lewat ajang Kartini Go Surf 2026 di Pantai Kuta, Badung, Bali, Minggu 19/4/2026. (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Badung, LenteraEsai.id – Sejumlah remaja perempuan yang merupakan peselancar tuli menaklukkan ombak Pantai Kuta dalam rangka menyambut Hari Kartini.

Ayu Intan Melisa Maharani yang merupakan salah satu peselancar tuli dibantu penerjemahnya mengaku senang bisa tampil, bahkan tidak kesulitan menerjang ombak dengan berkebaya.

Bacaan Lainnya

“Perasaan saya ikut acara ini senang sekali, jadi meskipun kami memakai kebaya itu bukan tantangan, tidak ada masalah, ayo dukung acara Kartini ini,” kata Ayu Intan di Kabupaten Badung, Bali, Minggu.

Remaja usia 21 tahun tersebut bercerita bahwa berselancar adalah hobinya.

Kegemaran ini muncul sejak 2022, yaitu ketika ia pertama kali diajarkan meliak-liuk di atas ombak dengan sebuah papan selancar.

Meski terbatas dalam pendengaran, Ayu Intan tak pernah berhenti mencintai selancar, terbukti mengikuti kegiatan berselancar di Pantai Kuta khususnya Kartini Go Surf ini sudah ia lakukan ketiga kalinya.

Selain Ayu Intan dan lima peselancar tuli yang menamai diri Team Corti Deaf Surfers, dalam rangka Hari Kartini remaja perempuan lainnya turut bergabung.

“Untuk acara Kartini Go Surf 2026 ini senang banget bisa ikut partisipasi, kalau saya biasanya berselancar di kota saya Pacitan, tapi kali ini bisa bersama perempuan hebat lainnya yang ada di Bali,” ucap Salini Rengganis yang merupakan salah satu peserta.

“Acaranya meriah, seru, antusiasme para peserta juga luar biasa sekali, apalagi juga ada para peserta difabel, peserta tuli, mereka semangatnya luar biasa,” sambungnya dengan bersemangat.

Berbeda dengan Ayu Intan, Salini menganggap berselancar dengan kebaya merupakan sebuah tantangan, namun disini lah semangat Kartini-nya muncul.

Untuk itu ia mengajak perempuan-perempuan lainnya mencintai alam Indonesia khususnya keindahan ombak lewat berselancar dan menemukan semangat Kartini disana.

“Biasanya kan kita pakai baju-baju yang khusus untuk surfing, baju renang yang didesain khusus, tapi kali ini pasti kebayanya terhempas ombak, itu tantangannya jadi setiap kayuhan kita itu selalu ada semangat dalam diri kita, ayo ombak selanjutnya pasti bisa,” ujarnya.

Ketua Yayasan Corti I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari yang selama ini membimbing para remaja tersebut menuturkan Kartini Go Surf menjadi wadah dimana semua perempuan memiliki kesempatan yang sama.

“Ini bukan sekadar eksibisi berselancar dengan berkain dan kebaya melainkan perayaan atas martabat dan emansipasi, laut adalah guru yang adil, ia tidak membedakan gender ia tidak peduli apakah seseorang bisa mendengar atau tidak, laut hanya menuntut keseimbangan, keberanian, dan resiliensi,” ujarnya.

Mirah mengatakan keikutsertaan peselancar tuli bersama perempuan lainnya adalah manifestasi nyata dari inklusivitas dan emansipasi moderen, sesuai nilai-nilai Raden Ajeng Kartini.

Bahkan remaja difabel ini menunjukkan bakat di luar perkiraan, dalam beberapa kali latihan mereka sudah sanggup menguasai ombak.

“Karena di air itu seperti meditasi, saat betul-betul fokus baru kita bisa menyatu dengan alam dan mereka karena tidak terganggu suara bisa betul-betul fokus, orang bilang itu kekurangan tapi dalam hal tertentu itu kelebihan mereka,” kata Mirah.

Tak sekadar untuk hobi, ia menargetkan ke depan keahlian berselancar ini bisa menjadi peluang para peselancar tuli seperti mengejar prestasi hingga menjadi pelatih dan menghasilkan nilai ekonomi. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait