Petani Garam Klungkung Pasrah Omzetnya Anjlok Sejak Pandemi Covid-19

Pembuat garam tradisional di Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung

Klungkung, LenteraEsai.id –  Sejumlah petani garam di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung mengaku pasrah sehubungan dengan adanya penurunan omzet penjualan dari hasil tani garam yang diproduksinya belakangan ini.

“Sejak munculnya wabah Covid-19, saya dan teman-teman di sini mengalami penurunan omzet penjualan. Namun kami ya pasrah saja,” kata I Nyoman Warta, salah seorang petani garam tradisional saat ditemui di tempat kerjanya di kawasan pantai Desa Pesinggaran, Senin (15/6/2020).

Bacaan Lainnya

Sebelum pandemi Covid-19, Nyoman Warta mengaku bisa menjual hingga 10 kilogram garam per harinya, dengan harga Rp10.000 per kilogram. “Tapi sekarang, bisa menjual 5 sampai 6 kilogram per hari saja sudah sangat bersyukur,” kata Nyoman Warta, menjelaskan.

Bahkan, lanjut dia, kalau ada tamu asing yang datang, garam laku terjual seharga Rp30.000 per kilogramnya. Namun semenjak adanya Covid-19 ini tidak ada lagi tamu yang datang berkunjung ke tempat pembuatan garam miliknya.

Selama ini, garam yang dihasilkan petani di kawasan pantai Pesinggahan dikenal sangat disukai para turis asing, selain karena rasanya yang khas juga diproduksi dengan sangat tradisional.

Mengenai kendala produksi, Nyoman Warta lebih menyebutkan tergantung faktor cuaca. “Faktor cuaca sangat berpengaruh dalam pembuatan garam.” ucapnya.

Menurut dia, jika matahari panas terik, dalam waktu 5 hari garam sudah siap ‘dipanen’ dan dipasarkan, tapi jika cuaca tidak menentu seperti sekarang, bisa 7 sampai 8 hari baru bisa dipasarkan.

Untuk pemasarannya, Nyoman Warta mengatakan pembeli yang datang langsung ke tempatnya membuat garam di kawasan pantai Desa Pesinggahan.  “Saya dan rekan-rekan di sini, tidak pernah pergi menjual sendiri ke pasar, karena pembeli yang selalu datang,” ucapnya.

Nyoman Warta yang sudah menjadi petani garam sejak 1972, mengaku pasrah dengan keadaan yang ada saat ini. “Ya pasrah aja. Habis mau gemana lagi,” katanya sambil mengolah air laut untuk menjadi garam.

Kendati demikian, ia dan beberapa rekan seprofesinya hanya bisa memanjatkan doa semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu, sehingga omzet penjualan garam bisa kembali normal.  (LE-Jun)

Pos terkait