Karmele Llano Sánchez, Perempuan Spanyol yang Pertaruhkan Hidup demi Selamatkan Satwa Indonesia

Karmele Llano Sánchez
Karmele Llano Sánchez, penyelamat satwa yang mendedikasikan hidup di belantara Kalimatan - (Foto: LenteraEsai/Ist)

Kalimatan Tengah, LenteraEsai.id – Ada orang-orang yang datang ke sebuah negeri untuk singgah, tetapi ada pula yang datang lalu menemukan panggilan hidupnya. Karmele Llano Sánchez adalah salah satunya. Perempuan asal Spanyol ini memilih mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan satwa liar di Indonesia, makhluk-makhluk yang tak mampu bersuara ketika habitatnya dirusak, tubuhnya disakiti, dan kebebasannya dirampas oleh manusia.

Lahir pada 10 Juli 1978, Karmele menempuh pendidikan kedokteran hewan di Universitas León, Spanyol, dan melanjutkan studinya di Universitas Utrecht, Belanda. Ia kemudian meraih gelar magister di bidang kedokteran hewan konservasi dan gelar doktor dari Universitas Murdoch, Australia, pada 2011. Bekal ilmu tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya dalam memperjuangkan kehidupan satwa liar.

Bacaan Lainnya

Sebelum datang ke Indonesia, Karmele pernah bekerja di pusat rehabilitasi satwa liar di Venezuela dan Belanda. Namun, pada 2003, langkahnya membawanya ke Indonesia sebagai sukarelawan di sebuah pusat penyelamatan satwa. Keputusan yang semula mungkin tampak seperti perjalanan pengabdian biasa itu kemudian menjadi bagian penting dari hidupnya selama lebih dari satu dekade.

Di Jakarta, Karmele terlibat dalam operasi penyelamatan satwa yang dilakukan bersama kepolisian. Ia merawat hewan-hewan yang terluka dan membantu membebaskan satwa dilindungi dari perdagangan ilegal. Di balik setiap operasi, ada makhluk hidup yang menunggu kesempatan kedua—satwa yang kehilangan kebebasan, mengalami penderitaan, atau diperlakukan sebagai barang dagangan demi keuntungan manusia.

Salah satu kenyataan paling memilukan yang dihadapinya adalah eksploitasi orangutan. Primata yang memiliki kecerdasan, ikatan sosial, dan kemampuan merasakan penderitaan itu tidak jarang menjadi korban perdagangan satwa liar dan kekejaman manusia. Karmele turut terlibat dalam penyelamatan orangutan yang diperdagangkan untuk berbagai bentuk eksploitasi, termasuk praktik seksual dengan hewan dan pertunjukan yang menyiksa di sejumlah tempat di Asia Tenggara.

Bagi Karmele, penyelamatan bukan sekadar memindahkan satwa dari tempat yang berbahaya. Ada luka fisik yang harus dipulihkan, trauma yang membutuhkan waktu, serta naluri liar yang harus dikembalikan agar mereka memiliki kesempatan untuk hidup di lingkungan yang sesuai. Setiap satwa memiliki perjalanan pemulihan sendiri, dan tidak semuanya dapat kembali ke alam liar dengan mudah.

Pengabdian tersebut membawanya memimpin Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), bagian dari jaringan International Animal Rescue yang berfokus pada penyelamatan dan pelestarian satwa liar. Di pusat-pusat rehabilitasi di Bogor dan Ketapang, Kalimantan Barat, pekerjaannya mencakup penanganan kukang, monyet makaka, dan orangutan.

Di tempat-tempat itu, upaya penyelamatan tidak berhenti ketika seekor satwa berhasil dibebaskan. Mereka harus menjalani perawatan, rehabilitasi, dan proses pemulihan sebelum dapat dinilai apakah layak dilepasliarkan. Bagi satwa yang tidak memungkinkan kembali ke alam, perlindungan jangka panjang menjadi bagian dari tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Salah satu pencapaian penting YIARI terjadi pada 17 Januari 2014, ketika pusat penyelamatan orangutannya memperoleh akreditasi dari Global Federation of Animal Sanctuaries (GFAS). Pengakuan tersebut menjadikannya pusat suaka orangutan pertama di Asia yang memperoleh akreditasi itu, sekaligus menegaskan pentingnya standar kesejahteraan satwa dalam pengelolaan suaka.

Di balik kiprahnya sebagai dokter hewan dan pemimpin organisasi konservasi, Karmele juga membangun kehidupan pribadi di Indonesia. Ia menikah dengan Argitoe Ranting, seorang ahli pelacak orangutan dari masyarakat Dayak yang juga merupakan aktivis lingkungan. Argitoe kemudian menjabat sebagai Direktur Operasional Program YIARI.

Keduanya memiliki bidang keahlian yang saling melengkapi. Pengetahuan medis dan konservasi satwa berpadu dengan pengalaman memahami hutan serta keterampilan melacak orangutan. Perjalanan mereka mengingatkan bahwa upaya menjaga kehidupan liar membutuhkan banyak tangan, pengetahuan, dan kepedulian yang tumbuh dari beragam latar belakang.

Dedikasi Karmele mendapat pengakuan melalui sejumlah penghargaan. Pada 2007, ia menerima Naider Action and Commitment Prize dari organisasi Naider di Spanyol. Penghargaan itu mencerminkan pengakuan terhadap komitmennya dalam memperjuangkan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Pada 2020, ia meraih Penghargaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Dunia dari Fundación BBVA. Empat tahun kemudian, proyeknya bertajuk One Health for the Protection of Biodiversity in Indonesia juga menerima penghargaan dari Organización Colegial Veterinaria di Spanyol. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya menghubungkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan.

Namun, di balik penghargaan dan pencapaian itu, ada makna pengabdian yang lebih dalam. Menyelamatkan satwa liar berarti berhadapan dengan persoalan yang tidak sederhana: perdagangan ilegal, kerusakan habitat, minimnya kesadaran masyarakat, dan kebutuhan untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab antara manusia dengan alam.

Kisah Karmele Llano Sánchez menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kehidupan tidak selalu dibatasi oleh tempat kelahiran atau kewarganegaraan. Ia datang dari Spanyol, menempuh pendidikan di berbagai negara, lalu memilih Indonesia sebagai tempat untuk menjalankan sebagian besar pengabdiannya.

Sebab, bagi satwa yang pernah kehilangan kebebasan, kesempatan untuk hidup kembali bukanlah perkara kecil. Di balik seekor orangutan yang pulih, seekor kukang yang kembali terlindungi, atau seekor primata yang terbebas dari eksploitasi, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh dunia.

Dan di antara mereka yang memilih untuk memperjuangkan kehidupan-kehidupan itu, Karmele telah menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna yang jauh lebih besar ketika disertai keberanian, empati, dan kesediaan untuk terus merawat kehidupan—bahkan ketika kehidupan itu tidak mampu mengucapkan terima kasih. (LE-Ist)

Pos terkait