Jakarta, LenteraEsai.id – Di sebuah restoran keluarga pada jam makan siang, tidak jarang terlihat pemandangan balita duduk di kursi tinggi, piring makanannya nyaris tak tersentuh, matanya terpaku pada layar ponsel yang disandarkan ke gelas air.
Video anak-anak berputar tanpa henti, satu klip berpindah ke klip berikutnya tanpa jeda, dan anak itu makan hanya ketika suapan diselipkan di sela adegan yang menarik perhatiannya.
Orang tuanya bisa makan dengan tenang. Tidak ada tangisan, tidak ada rengekan, tidak ada kekacauan. Di rumah, pola yang sama terjadi saat orang tua mencuci piring, menyeterika, atau menyelesaikan pekerjaan kantor yang terbawa pulang. Gawai diserahkan, dan anak menjadi anteng.
Pemandangan ini bukan hal baru. Ia adalah pengulangan dari sesuatu yang pernah terjadi lebih dari satu dekade lalu, saat YouTube baru meledak sebagai platform tontonan daring bagi semua kalangan.
Ketika itu, banyak orang tua menemukan cara instan meredakan rewel anak dengan menyerahkan gawai berisi video animasi berdurasi panjang. Praktik itu kemudian dikritik keras oleh dokter anak dan pakar tumbuh kembang, yang memperingatkan dampaknya terhadap perkembangan bahasa, kemampuan fokus, dan interaksi sosial anak.
Sebagian orang tua merespons dengan membatasi ketat akses gawai pada anak mereka. Namun peringatan itu rupanya tidak sepenuhnya mengubah kebiasaan secara luas. Ia hanya meredup sementara, lalu muncul kembali begitu generasi baru menjadi orang tua.
Generasi Z, yang kini mulai memiliki anak balita, sebenarnya tumbuh dengan kesadaran digital yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Berbagai laporan tren pengasuhan 2026 mencatat generasi ini justru paling vokal menyuarakan pentingnya waktu bebas layar, bermain di dunia nyata, dan menghindari stimulasi berlebihan pada anak.
Sebagian dari mereka secara sadar mengurangi penggunaan gawai di rumah dan menggantinya dengan aktivitas fisik atau permainan blok kayu.
Tetapi kesadaran filosofis ini ternyata tidak selalu berjalan sejajar dengan praktik harian. Survei lembaga pendidikan anak, Kiddie Academy, menemukan hanya 38 persen orang tua gen Z dengan anak usia nol hingga enam tahun yang benar-benar konsisten menjalankan satu pendekatan pengasuhan yang mereka yakini sendiri.
Ada jarak antara apa yang diucapkan di media sosial dan apa yang terjadi di meja makan.
Jarak itu erat kaitannya dengan tekanan yang dihadapi orang tua muda hari ini. Banyak dari mereka mengasuh anak tanpa sistem dukungan keluarga besar yang dulu lazim dimiliki generasi sebelumnya, sembari tetap harus bekerja, mengelola rumah tangga, dan menjaga kewarasan di tengah kelelahan yang terus-menerus.
Solusi murah
Gawai memang menjadi solusi paling murah dan paling cepat untuk sebuah masalah yang sangat nyata.
Ketua Umum PP Ikatan Dokter Anak Indonesia Piprim Basarah Yanuarso mengonfirmasi pola ini secara langsung dalam peringatan HUT ke-72 IDAI, beberapa bulan lalu. Ia menyebut banyak orang tua senang melihat anaknya anteng menonton gawai karena mereka bisa mengerjakan hal lain tanpa menyadari bahwa ketenangan itu berpotensi menyembunyikan gangguan perkembangan yang serius.
IDAI dalam kesempatan yang sama menetapkan panduan yang tegas. Anak di bawah dua tahun semestinya tidak menerima paparan layar sama sekali kecuali panggilan video dengan keluarga dekat. Sementara anak usia dua hingga enam tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan pendampingan langsung dari orang tua.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK Universitas Gadjah Mada Mei Neni Sitaresmi menjelaskan sejumlah dokter anak subspesialis neurologi mulai mengenali pola perilaku yang disebut autisme virtual pada anak usia satu hingga tiga tahun yang terlalu sering terpapar layar.
Kondisi ini gejalanya menyerupai autisme, seperti tidak merespons saat dipanggil, kurang kontak mata, dan perilaku repetitif, namun penyebabnya adalah kurangnya stimulasi sosial langsung, bukan faktor genetik yang membuatnya spesial sejak lahir.
Riset yang dihimpun dari berbagai kajian akademik mengaitkan paparan layar pada balita dengan peningkatan risiko keterlambatan bicara hingga hampir separuh anak yang diteliti, di samping gangguan tidur akibat cahaya biru dan penurunan kemampuan pemecahan masalah karena anak kehilangan pengalaman dunia nyata yang seharusnya membentuk kemampuan kognitifnya.
Di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 79 persen orang tua tidak menerapkan aturan apa pun terhadap penggunaan gadget anak sepanjang 2025.
Studi lain yang lebih spesifik pada anak prasekolah, yang dipublikasikan Jurnal Murhum tahun 2026 terhadap 95 anak usia tiga hingga enam tahun, menemukan 71,6 persen di antaranya sudah masuk kategori pengguna gawai dengan durasi tinggi, dengan pengetahuan dan pola asuh ibu sebagai faktor yang berhubungan signifikan secara statistik.
Kebiasaan ini pun tidak berdiri sendiri dari perilaku digital orang dewasa di sekitar anak. Riset dari Data.AI dalam laporan State of Mobile 2024 menempatkan masyarakat Indonesia sebagai pengguna perangkat mobile dengan durasi terlama di dunia, rata-rata 6,05 jam sehari, mengungguli Thailand dan Argentina di posisi berikutnya.
Ketika orang tua sendiri tenggelam dalam layar sepanjang hari, sulit membangun batas yang berbeda untuk anak yang tumbuh mengamati kebiasaan itu dari dekat.
Persoalan ini juga tidak bisa dilepaskan dari desain platform itu sendiri. YouTube, sebagai sumber tontonan paling umum diberikan kepada balita, bekerja dengan sistem rekomendasi yang membaca riwayat tontonan dan durasi menonton untuk terus menyodorkan video bertema serupa.
Fitur autoplay memutar video berikutnya secara otomatis tanpa jeda, sehingga anak kehilangan batas alami antara satu tontonan dan tontonan berikutnya.
Gawai yang diserahkan kepada anak bukanlah pengasuh netral yang pasif menunggu diminta berhenti. Ia adalah sistem yang secara struktural dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin, dan balita, yang otaknya sedang berada di fase perkembangan paling pesat dalam hidupnya, adalah pengguna yang paling tidak berdaya melawan desain semacam itu.
Memang, orang tua akan tenang tanpa tangisan dan rengekan anak ketika balitanya anteng menonton tayangan video lucu di gawai. Terasa tenteram. Tapi dampaknya baru akan terasa ketika anak itu menginjak usia pra sekolah, lima atau enam tahun. Di mana mereka belum lancar berbicara, kesulitan berkomunikasi dua arah, layaknya anak usia dua atau maksimal tiga tahun.
Relakah menukar keterlambatan tumbuh kembang itu dengan ketenangan sementara? (LE)
Source: ANTARA








