Jakarta, LenteraEsai.id – Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli, Harita Nickel memperkuat komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak melalui pembangunan sejumlah rumah belajar di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Program yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di bidang pendidikan ini bertujuan menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan literasi, serta menciptakan ruang belajar yang mendukung tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa.
”Rumah belajar ini merupakan komitmen nyata Harita Nickel dalam mewujudkan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat pada pilar pendidikan,” kata Executive Vice President External Relations Harita Nickel Latif Supriadi.
Empat rumah belajar tersebut, yaitu Rumah Belajar Taman Ceria di Desa Kawasi, Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, Rumah Belajar Cahaya Ilmu di Desa Ocimaloleo, dan yang terbaru, Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk yang diresmikan pada 2 Mei.
Rumah belajar tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk mendapat pelajaran tambahan literasi dan numerasi dasar di luar jam sekolah, yang dipandu oleh guru pendamping dengan metode belajar sambil bermain.
Kegiatan harian di rumah belajar meliputi sesi membaca selama 15 menit, pendampingan bagi anak yang belum lancar membaca dan menulis, mendongeng, permainan edukatif, hingga menonton bersama film edukasi. Fasilitas yang disediakan antara lain buku bacaan, paket permainan edukatif, guru pendamping, dan makanan ringan bagi anak-anak.
Hingga saat ini program tersebut telah menjangkau 210 siswa. Program itu diharapkan dapat meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi mereka.
Pengajar Rumah Belajar Taman Ceria Imer Natalia Lumamuly mengatakan siswa yang masih tertinggal dalam pembelajaran di sekolah akan diarahkan mengikuti kegiatan di Taman Ceria.
”Taman Ceria luar biasa untuk perkembangan anak-anak, karena kalau di sekolah siswanya banyak. Tapi kalau di Taman Ceria, jumlah siswanya lebih sedikit, sehingga proses pembelajaran ke siswa bisa lebih terkontrol dengan baik,” kata dia.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tingkat buta huruf anak usia 5-17 tahun secara nasional mencapai 7,10 persen. Angka itu lebih tinggi pada anak-anak di pedesaan dan dari kelompok 20 persen termiskin.
Maluku Utara mencatatkan angka di atas rata-rata nasional, yakni 7,19 persen. Artinya, dari setiap 100 anak di provinsi itu, sekitar tujuh anak masih belum bisa membaca dan menulis.
Kondisi geografis Maluku Utara yang berupa gugusan kepulauan serta keterbatasan infrastruktur dinilai menjadi sebagian faktor penyebab tingginya angka tersebut, sehingga dibutuhkan kolaborasi multipihak, termasuk kontribusi perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah itu, untuk mengatasinya.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara yang juga Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku Utara Syaiful Bahry menilai kehadiran ruang publik komunal seperti rumah belajar dapat mereduksi stres anak, mempererat hubungan sosial, sekaligus menumbuhkan harapan orang tua terhadap masa depan anak-anaknya.
”Inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya anak-anak di desa,” kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Maluku Utara, Mulyadi Tutupoho
Sejumlah orang tua turut merasakan manfaat program ini. Salah satu orang tua murid Hamsiah Drakel mengatakan anak-anaknya selalu datang dengan gembira setiap sore untuk membaca dan bermain di rumah belajar.
”Setiap sore anak-anak di sini datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain setelahnya. Saya bisa melihat kegembiraan mereka setiap sore, rasanya seperti stres mereka di rumah hilang ketika belajar dan bermain di sini,” tuturnya.
Orang tua lainnya, Nadia Abdullah, berharap kehadiran rumah belajar dapat mengalihkan perhatian anak-anak dari penggunaan telepon seluler yang berlebihan.
”Anak-anak sekarang banyak main HP, jadi kurang fokus belajar. Dengan adanya rumah belajar ini, kami berharap mereka bisa lebih fokus dan punya kegiatan yang lebih bermanfaat,” katanya.
Latif menambahkan pihaknya berharap rumah belajar itu dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar sekaligus bermain, sekaligus menjadi sarana memperluas wawasan, membentuk karakter, serta membimbing mereka agar bijak memanfaatkan teknologi di tengah perkembangan zaman.
Program Rumah Belajar Harita Nickel sebelumnya juga telah meraih penghargaan Subroto Awards 2025 untuk kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Terinovatif Komoditas Mineral bidang pendidikan.
Sementara itu, Pengamat kebijakan publik Universitas Khairun Ternate Yetty Tarumadoja mengatakan keberadaan rumah belajar sebagai pendamping pendidikan formal bagi anak-anak di wilayah pesisir Pulau Obi sangat penting.
Menurut dia, rumah belajar dapat menjadi ruang belajar kedua yang aman, inklusif, sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat sehingga membantu menjaga keberlanjutan literasi dan numerasi anak serta mengurangi kesenjangan pendidikan antara wilayah kepulauan dan daratan di Maluku Utara.
“Kehadirannya diharapkan dapat menjaga keberlanjutan literasi dan numerasi anak, sekaligus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat pesisir Pulau Obi agar tidak terjadi kesenjangan pendidikan antara wilayah pulau dan daratan di Maluku Utara,” kata Yetty. (LE)
Source: ANTARA








