judul gambar

Bali Kembangkan Produk Pertanian Organik Guna Wujudkan Wisata Kuliner

Bali kembangkan produk pertanian organik guna wujudkan wisata kuliner
Kepala Dispar Bali I Wayan Sumarajaya bahas soal pertanian organik untuk wujudkan Bali destinasi wisata kuliner dalam FHTB 2026 di Badung, Selasa 28/4/2026. (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Badung, LenteraEsai.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengembangkan produk pertanian organik untuk mewujudkan Bali sebagai destinasi wisata kuliner.

“Dalam rangka mewujudkan wisata kuliner, Pemprov Bali sejak beberapa tahun terakhir ini telah berkomitmen untuk mengembangkan produk pertanian organik,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bali I Wayan Sumarajaya.

Bacaan Lainnya

Sumarajaya di pameran kuliner Food, Hotel and Tourism Bali (FHTB) 2026 di Kabupaten Badung, Selasa, menjelaskan dengan mengembangkan produk pertanian organik maka kuliner Bali akan mendapat nilai tambah.

Menurut dia, itu diyakini akan menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi wisatawan yang berorientasi pada wisata sehat.

Untuk mendorong semakin masifnya pertanian organik, ia mengatakan Pemprov Bali sudah menerbitkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik, Peraturan Gubernur Bali Nomor 15 Tahun 2021 sebagai pelaksanaan dari perda tadi, dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali.

Ia menjelaskan melalui regulasi itu, Bali secara tegas melarang penggunaan produk kimia maupun pestisida kimia dalam kegiatan pertanian dan mendorong sepenuhnya pertanian berbasis organik.

Kebijakan itu juga sudah mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian yang setiap tahun menyalurkan subsidi pupuk organik kepada petani di Bali.

“Namun lebih dari itu, banyak petani Bali kita secara mandiri menerapkan sistem pertanian organik karena menyadari hasilnya memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi,” ujar dia.

Melihat tren positif itu, Sumarajaya optimistis pada tahun 2028 mendatang seluruh sawah di Bali sudah beralih ke pertanian organik.

“Hingga saat ini capaian kita telah mencapai satu yang menggembirakan, yaitu 70 persen sawah di Bali sudah organik, bahkan hampir semua tanaman hortikultura, sayur-sayuran, dan buah-buahan di Bali kini berbasis organik,” ujar dia.

Ia merincikan, selain untuk mendorong Bali menjadi destinasi wisata kuliner, pertanian organik memberi manfaat seperti menghasilkan pangan yang sehat, berkualitas, dan bernilai tinggi, yang sekaligus mampu meningkatkan pendapatan petani lokal.

Pertanian organik juga dapat menjaga ekosistem lingkungan Bali agar tetap bersih, bebas polusi, serta melestarikan tanah dan keanekaragamannya.

“Ketiga, ini membuka peluang besar untuk pengembangan restoran dan kuliner berbahan pangan organik yang akan semakin memperkuat daya tarik pariwisata Bali,” ujar dia.

Dispar Bali memandang masyarakat patut berbangga sebab hanya Provinsi Bali di Indonesia yang menerapkan kebijakan sistem pertanian organik secara menyeluruh.

“Ini menjadi keunggulan sekaligus identitas Bali di mata dunia, tidak hanya sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga sebagai pusat pariwisata berkelanjutan dan pulau organik,” kata Sumarajaya.

Apalagi kuliner Bali sendiri sudah memiliki karakter yang khas, sangat unik, dan sangat berbeda dari kuliner di luar sehingga memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata kuliner dunia.

Dengan pembinaan yang baik dan mempunyai standar yang jelas, maka kuliner Bali dipastikan bisa masuk kancah persaingan internasional.

“Saya berkeyakinan jika semua aturan ini diterapkan dengan baik, kuliner Bali akan memiliki ciri khas tersendiri yaitu produk kuliner dengan label organik, jika hal ini terjadi, maka akan berdampak sangat positif terhadap pariwisata Bali sebagai wujud dari pariwisata berkualitas,” katanya. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait