Jakarta, LenteraEsai.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga di tengah tekanan eksternal yang dipicu pelemahan ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik, khususnya di Timur Tengah.
Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 25 Juni 2025 menyebut, meskipun lembaga internasional seperti World Bank dan OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025–2026, sektor keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan. Konflik antara Israel dan Iran serta serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran sempat menekan pasar global, namun mereda pasca gencatan senjata.
Ekonomi Domestik Tunjukkan Resiliensi
Meski tekanan global meningkat, ekonomi Indonesia dinilai masih tangguh. Inflasi inti melandai ke 2,37% (yoy) dan neraca perdagangan Mei 2025 kembali mencatatkan surplus, ditopang oleh ekspor pertanian dan manufaktur.
IHSG per Juni 2025 turun 3,46% secara bulanan (mtd) ke level 6.927,68 dan melemah 2,15% secara tahunan (ytd). Nilai kapitalisasi pasar tercatat Rp12.178 triliun, turun 1,95% (mtd). Investor asing melakukan net sell sebesar Rp8,38 triliun (mtd), dan Rp53,57 triliun (ytd).
Namun di pasar obligasi, indeks ICBI justru menguat 1,18% (mtd). Yield Surat Berharga Negara (SBN) turun rata-rata 8,26 basis poin (bps). Di pasar obligasi korporasi, investor asing juga mencatatkan net sell Rp0,19 triliun (mtd).
Industri Investasi dan Pendanaan Tetap Positif
Per 30 Juni 2025, total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) industri pengelolaan investasi mencapai Rp844,69 triliun. Dana kelolaan reksa dana tercatat Rp510,15 triliun, dengan net subscription Rp0,45 triliun (mtd).
Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal masih tinggi. Nilai penawaran umum mencapai Rp142,62 triliun, termasuk dari 16 emiten baru. Di sektor Securities Crowdfunding (SCF), total dana yang dihimpun mencapai Rp1,6 triliun dari 852 penerbit efek.
Transaksi derivatif keuangan pada Juni 2025 mencapai Rp135,3 triliun, sementara volume transaksi derivatif dengan efek dasar tercatat 591.381 lot atau senilai Rp1.309 triliun sejak awal tahun. Di Bursa Karbon, total volume perdagangan mencapai 1,6 juta tCO2e dengan nilai akumulasi Rp77,95 miliar.
Industri Perbankan Stabil dan Sehat
Perbankan mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,92% untuk korporasi dan 2,17% untuk UMKM. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,29% yoy menjadi Rp9.072 triliun. Giro dan tabungan masing-masing tumbuh 5,57% dan 5,39%, sedangkan deposito hanya tumbuh 2,31% karena kompetisi dari instrumen investasi lain.
Likuiditas tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di level 24,98% dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 192,41%. Kualitas kredit juga terjaga, dengan rasio NPL gross 2,29% dan NPL net 0,85%.
Rasio Loan at Risk (LaR) stabil di angka 9,93%, sementara permodalan bank tercermin kuat lewat rasio CAR sebesar 25,51%. Kredit Buy Now Pay Later (BNPL) mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 25,41%, dengan total baki debet Rp21,89 triliun dan jumlah rekening hampir 25 juta.
Tindak Tegas Judi Online dan Pelanggaran Pasar Modal
OJK turut aktif memberantas aktivitas judi online dengan memerintahkan pemblokiran terhadap sekitar 17.026 rekening yang terindikasi. Bank juga diminta untuk menindaklanjuti identitas pemilik rekening dan melakukan Enhanced Due Diligence.
Sepanjang 2025, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif kepada 14 pihak dengan total denda Rp10,78 miliar. Dua izin usaha perusahaan efek juga telah dicabut, dan total sanksi administratif kepada pelaku usaha jasa keuangan pasar modal mencapai Rp17,45 miliar. (LE-Vivi)







