Jenewa, LenteraEsai.id – BPJS Kesehatan kembali mencuri perhatian dunia dalam ajang The 78th World Health Assembly Side Meeting di Jenewa, Swiss, Selasa (20/5). Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, memaparkan strategi inovatif pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan Domestic Resource Mobilization (DRM).
Ghufron menekankan pentingnya kemandirian pembiayaan sektor kesehatan tanpa bergantung pada bantuan luar negeri. Saat ini, JKN telah menjangkau 279,9 juta jiwa atau 98,25 persen penduduk Indonesia.
Selama satu dekade terakhir, jumlah kunjungan layanan JKN meningkat dari 92 juta (2014) menjadi lebih dari 700 juta (2024), dengan total pengeluaran mencapai Rp1.087 triliun. Penyakit katastropik seperti jantung, kanker, dan gagal ginjal masih menjadi beban biaya terbesar.
Sebagai bagian dari DRM, BPJS Kesehatan menginisiasi program JKN Care Fund Community yang menghimpun donasi dari masyarakat dan korporasi. Sejak 2021 hingga Maret 2025, program ini telah mengumpulkan Rp12,7 miliar dan membantu lebih dari 19 ribu peserta menunggak iuran.
Selain itu, alokasi 37,5 persen dari penerimaan pajak rokok daerah juga turut mendukung pembiayaan JKN, dengan proyeksi kontribusi lebih dari Rp10 triliun pada 2024.
Untuk menjaga efisiensi dan akuntabilitas, BPJS Kesehatan terus mengembangkan layanan digital, pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan untuk deteksi fraud, serta penguatan perlindungan data peserta.
“Seluruh inovasi ini dilakukan agar layanan JKN tetap responsif, adil, dan berkualitas,” ujar Ghufron. (LE-Vivi)







