Denpasar, LenteraEsai.id – Seniman kawakan sekaligus Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti (induk ITB STIKOM Bali) Prof Dr I Made Bandem MA tampil memukau membawakan seni klasik Tari Dalem Arsa Wijaya, yang disambut dengan tepukan audiens antusias berkali-kali. Penampilan memikat Prof Bandem ini, merupakan rangkaian penutupan Festival Kesenian Rakyat Nusantara (FKRN) yang berlangsung di Tukad Bindu, Kesiman, Denpasar, Minggu (28/7/2024) malam.
Menurut Prof Bandem, sosok Arsa Wijaya melambangkan pemimpin yang membawa harapan (arsa) dan kemenangan (wijaya) bagi rakyatnya. Apabila melihat dari segi gerak tari, Topeng Arsa Wijaya termasuk ke dalam topeng halus, dengan gerak yang lembut tetapi tetap memunculkan ketegasan. Rupanya dengan mata sipit atau segi tiga tumpul, memakai cudamanik atau u na di dahi, bibir tersenyum, gigi terlihat, warna putih atau kehijauan adalah perwujudan raja yang arif dan bijaksana.
Khusus dalam pementasan topeng diperlukan sesajen yang disebut peras untuk sesajen tapel, yang jumlahnya dua buah, satu pada waktu membuka peti tapel. Sajen ini merupakan peras untuk pasupati yaitu untuk ‘menghidupkan’ tapel. Sesajen yang satu lagi digunakan pada waktu sesudah selesai pementasan.
Prof Bandem menjelaskan selama dirinya menari, ia selalu berpegang pada teknik Ngunda Bayu, yang merupakan distribusi energi ke seluruh tubuh ketika sedang menari sehingga tidak mudah lelah. Teknik Ngunda Bayu amatlah penting untuk digunakan bagi para seniman Bali khususnya penari. Prof Bandem menambahkan setiap tarian memiliki teknik ngunda bayu yang berbeda-beda, termasuk pula dalam menarikan Topeng Arsa Wijaya.
Ngunda bayu sangat diperlukan agar saat penari di atas panggung tidak kehabisan tenaga, bagaimana pengolahan tenaga dari awal sampai akhir agar seimbang. Bahwa ngunda bayu adalah menyalurkan atau mendistribusikan tenaga secara sambung-menyambung untuk menghasilkan gerak, kemudian tenaga dihasilkan lagi, didistribusikan lagi, sehingga menghasilkan gerak, tenaga dihasilkan lagi, dan seterusnya sesuai dengan kebutuhan.
“Topeng Arsa Wijaya beserta filosofinya menjadi tema besar sebuah nafas kehidupan, yang diharapkan mampu meramu harapan dari rakyat sehingga mampu memetik buah kemenangan Bersama,” ujar Prof Bandem.
Selanjutnya, Prof Bandem menyatakan bahwa seniman yang tampil di event FKRN tidak melulu sebatas seniman Bali saja. “Sejak festival dibuka sejak dua minggu lalu, telah tampil berbagai genre kesenian. Seperti Reog Ponorogo, Jaipong, Tari Gandrung, Jaranan, Barongsai, wayang, Sanghyang Jaran dan pemutaran sejumlah film yang dihadiri artis ibukota,” katanya.
Prof Bandem memiliki harapan agar ke depan ITB STIKOM Bali memberikan apresiasi tersendiri kepada para mahasiswa, mengingat sebagian besar seniman yang tampil di momen FKRN berasal dari kalangan mahasiswa. “Syukurnya masih banyak anak muda yang bergelut di bidang kesenian, sehingga ada kelangsungan generasi yang melanjutkan kesenian yang adiluhung ini. Bahkan, selain menjadi pelaku seni, banyak anak muda yang antusias menjadi penonton kesenian tradisional, buktinya pada ajang Pesta Kesenian Bali, selalu penuh dengan kunjungan penonton yang mayoritas anak muda,” ujarnya.
Pewarta: Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan







