judul gambar
HeadlinesKarangasem

Jembatan Tracking Bendungan Kastala Karangasem, Hancur Diterjang Banjir

Karangasem, LenteraEsai.id – Jembatan bambu yang merupakan fasilitas wisata tracking di kawasan Bendungan Kastala, Banjar Dinas Kastala, Desa/Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem hancur diseruduk banjir bandang yang terjadi pada awal pekan ini.

Pemantauan pada Rabu (19/10/2022), menunjukkan kondisi bendungan yang adalah tempat wisata yang sering dikunjungi wisatawan asing tersebut menjadi porak-poranda. Arus air menuju bendungan yang semula bening, kini menjadi coklat pekat. Pohon-pohon besar bertumbangan, aneka bebatuan juga terlihat berserakan membendung aliran air.

Beberapa warga dan petugas Dinas PUPR Karangasem terlihat membersihkan sisa-sisa material yang ditinggalkan air bah yang muncul pada Senin (17/10) dini hari lalu itu. Petugas juga membersihkan batangan-batangan pohon besar yang tebah.

Guna ‘menghidupkan’ kembali jembatan bambu yang koyak, petugas dan warga ramai-ramai membuat jembatan darurat menggunakan potongan-potongan kayu yang tumbang diterjang banjir.

Potongan batang kayu dibentangkan diberi penunjang dari dahan kayu juga, digabungkan dengan potongan jembatan bambu yang masih tersisa. Meski tampaknya tidak begitu kokoh untuk dapat mengatasi bisa banjir kembali datang, namun warga mengaku tidak punya pilihan lain.

Kadek Martini, penjaga Bendungan Kastala, yang juga pengelola wisata Tracking Kastala, menceritakan peristiwa banjir bandang yang menggerus jembatan bambu di kompleks bendungan tersebut. “Sekitar jam 2 dini hari  permukaan air sungai mulai meningkat, kemudian sekitar jam 6 pagi, air bah menghantam jembatan. Bangunan toilet pun sampai hanyut,” katanya.

“Dengan kejadian seperti ini aktivitas wisata terhenti total. Karena tidak ada lagi akses menuju kawasan bendungan. Padahal sebelumnya, wisatawan asing terhitung antara 10-20 orang per hari yang datang untuk tracking ke sini pada musim-musim liburan. Dan pada hari-hari biasa ada saja antara 2 sampai 6 orang,” ujarnya.

Peristiwa hancurnya jembatan Bendungan Kastala ini, lanjut Kadek Martini, pernah terjadi pada 26 tahun silam. Namun, banjir kali ini yang tergolong paling parah. “Sudah sejak 30 tahun lalu dibangun, 26 tahun lalu sempat roboh, dan untuk kali inilah yang terparah,” ucap Martini, menandaskan.

Selanjutnya, Martini berharap pihak terkait segera dapat membantu agar akses jembatan ini kembali normal, karena tidak hanya difungsikan untuk tracking saja, tetapi juga akses jalan bagi warga lokal, utamanya saat membawa hasil panen dari sawah atau ladang mereka. (LE-Ami)

Lenteraesai.id