Kuta, LenteraEsai.id – Pandemi Covid-19 sempat meredupkan sejumlah lini usaha di berbagai belahan dunia, termasuk juga di Bali. Namun demikian, sejumlah pelaku usaha ternyata mampu membuktikan kemampuan untuk ‘survive’ di tengah situasi pandemi.
Terkait hal ini, Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Udayana Prof Ir IGAA Ambarawati MEc PhD menyatakan bangga atas kreativitas pelaku ekonomi Bali untuk bertahan di masa krisis.
Berdasarkan kunjungan lapangan serangkaian Indonesia Development Forum (IDF) di Junglegold Bali (Mengwi) dan Sunsri Jewelry (Celuk, Sukawati) pada Kamis (2/6), teridentifikasi dua faktor yang mendukung keberlanjutan industri Bali. “Penguatan kelembagaan dan bidikan high end market kunci sukses pengembangan industri kreatif Bali,” papar Prof Ambarawati saat menjadi narasumber pada diskusi IDF 2022 di Kuta, Jumat (3/6).
Menurut Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Unud, penguatan kelembagaan dilakukan Junglegold Bali yang melakukan edukasi di bagian hulu, tengah dan hilir. Di hulu, kata Prof Ambarawati, perusahaan coklat membina petani dalam produksi biji kakao berkualitas mulai dari aspek budidaya, penanganan hama dan penyakit, maupun pengolahan pascapanen. Di tengah, penguatan SDM dan penggunaan mesin-mesin sesuai kebutuhan sehingga perusahaan mampu berproduksi dengan kualitas primium.
“Edukasi pelanggan (tingkat hilir) dilakukan untuk membangun pelanggan baru,” kata Pengurus Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) pusat dan Komisariat Perhepi Denpasar itu.
Ditambahkan, Sunsri Jewelry dan Junglegold Bali telah membidik pangsa pasar high end market yakni industri yang memasarkan produknya kepada pelanggan yang siap membayar lebih mahal untuk produk berkualitas seusai aktivitasnya.
Direktur Junglegold Bali Ida Bagus Nama Rupa menambahkan pihaknya mendorong kesiapan petani untuk berbisnis. Hal ini berarti petani harus mampu menyediakan produk sesuai permintaan pasar. Junglegold Bali membutuhkan biji kakao yang sudah difermentasi dan dengan kadar air 7%. “Ketika petani mampu menghasilkan biji kakao sesuai standar yang kami butuhkan, kami bayar lebih mahal. 10 tahun lalu ketika harga biji kakao baru seharga Rp 10.000/kg di pasaran bagi petani yang mampu menyediakan kebutuhan, kami mendapatkan harga Rp 35.000 dan saat ini menjadi Rp 50.000/kg,” tegas pengusaha muda asal Desa Carangsari, Badung itu.
Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Teguh Sambodo SP MS PhD menjelaskan, Indonesia Development Forum (IDF) dilaksanakan sejak tahun 2017 namun tahun 2020 dan 2021 tidak dilaksanakan dikarenakan wabah Covid-19. IDF 2022 dilaksanakan di sejumlah lokasi yakni Batam, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Timur dan akan ditutup pada pertangahan tahun 2022 di Jakarta. IDF yang dilaksanakan di Provinsi Bali bertujuan mengajak pemangku kepentingan untuk memikirkan solusi pembangunan ekonomi Bali.
“Transformasi Bali ke depan mengintegrasikan antara sektor hulu (produsen bahan mentah) dengan perusahaan pengolah (industri) dan sektor jasa (pariwisata) sehingga Bali memiliki industri unggulan yang memiliki daya saing tinggi,” ujar Sambodo PhD. Ditambahkan, industri makanan dan kerajinan perak mendapat perhatian khusus untuk diberdayakan karena industri ini melibatkan sebagaian besar penduduk Bali. Kegiatan IDF dilaksanakan secara daring dan luring, melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. (LE-DP)
Sumber: www.unud.ac.id







