Bibir Bengor, Seret Rezeki dan Jodoh, Nunas Tamba di Pelinggih Ratu Niang Sakti

Pelinggih Ratu Niang Sakti di Jalan Kumbakarna, Denpasar

Denpasar, LenteraEsai.id – Pelinggih berwujud seorang wanita tua yang duduk bersila dengan tangan Amustikarana yang terletak di Jalan Kumbakarna atau berdekatan dengan Pasar Wangaya-Denpasar, Bali, hampir setiap hari terlihat ramai pengunjung.

Terlebih ketika bertepatan dengan rahinan Purnama, Tilem dan yang lainnya, tampak jumlah pengunjung semakin membludak datang dari berbagai daerah di Bali dan bahkan dari luar Pulau Dewata.

Bacaan Lainnya

Kelebatan ramai warga yang sembahyang dengan menghaturkan canang sari atau bebantenan khusus, membuat tempat suci yang kondang dengan sebutan Pelinggih Ratu Niang Sakti itu nyaris tidak pernah sunyi. Semerbak mewangi dupa, canang sari yang diiringi gemerincing suara genta, membuat suasana persembahyangan umat yang tangkil menjadi semakin khusyuk.

Sambil berkomat-kamit memanjatkan doa, para pemedek yang hadir juga menyampaikan permohonan agar problematika yang tengah menerpa diri atau keluarganya dapat secepatnya disirnakan.

Pemangku Pelinggih Ratu Niang Sakti, Turah Gede Agung atau yang akrab dipanggil Turah Belanda ketika dijumpai pada Senin (24/1/2022) menjelaskan, awal mula berdirinya pelinggih ini memiliki sejarah tersendiri. Dahulu, pada ritual Memukur di Puri Kesiman, salah seorang dari warga puri mengutus Turah Belanda untuk menghaturkan sesajian ke Pelingih Ratu Niang Sakti, karena berdasarkan penglihatan niskala, nampak Ratu Niang sedang berjalan hilir mudik di wilayah Wangaya.

Menurut Turah Belanda, maksud dan tujuan orang Puri Kesiman menyuruh menghaturkan sesajian juga supaya acara Memukur di Puri Kesiman tidak ‘diuyak’ atau ‘digulgul’. Atas maksud ini, Turah Belanda pun melaksanakan dengan penuh keikhlasan menghaturkan sesajian bersama kakaknya.

Ketika berangkat ke lokasi yang dituju, Turah Belanda dan kakaknya sempat berseloroh, “Jika acara Memukur nanti berjalan lancar, kemungkinan akan dibuatkan pura sebagai pelinggih dari Ratu Niang Sakti.”

Ternyata, acara Memukur di Puri Kesiman berjalan lancar dan sama sekali tidak ada hambatan. Untuk memenuhi janji, maka dibuatlah Pelinggih Ratu Niang Sakti di wilayah dekat Pasar Wangaya-Denpasar, yang kemudian secara resmi berdiri pada 18 Oktober 1998.

Sejak pelinggih usai dibangun, lambat laun banyak orang yang sembahyang untuk memohon berbagai hal yang dirasakan sebagai cobaan hidup. Seperti ingin sembuh dari penyakit, berharap lancar rezeki, atau yang sering kali datang adalah warga yang ingin mendapatkan jodoh sejati.

“Selama ini, yang datang untuk nunas tamba bukan hanya dari Bali saja, melainkan juga dari Lombok, Jawa, Madura, Papua, Kalimantan dan sejumlah daerah lain di Nusantara,” kata Turah Belanda.

Baru-baru ini, bahkan ada dokter syaraf dari Klungkung yang nunas tamba bagi anaknya yang bibirnya ‘bengor’ atau menyon, ternyata tidak lama kemudian dapat sembuh dari penderitaannya.

Selain itu ada juga pemedek yang sengaja datang bersembahyang ingin memohon ketenangan hidup, atau bisa sembuh dari beberapa jenis penyakit yang mereka derita.

Berdasarnya pengalaman selama ini, kata Turah Belanda, pada umumnya mereka yang bersembahkan dan memohon sesuatu, umumnya terkabulkan, mengingat Ratu Niang selalu dikenal ‘bares’.

“Kalau ingin melukat, dapat membawa bungkak atau kelapa muda dan pejati. Kalau ingin sembahyang, ya cukup bawa canang sari saja,” kata Turah Belanda, sembari mengungkapkan, ada juga warga dari Sumatera yang sengaja datang karena ingin sembuh dari penyakit kanker yang sudah lama dideritanya.  (LE-DP)

Pos terkait