Karangasem, LenteraEsai.id – Wayan Mara (42), penduduk Dusun Temakung, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, menyimpan kisah heroik tersendiri saat gempa meluluhlantakkan rumah yang didiaminya bersama keluarga.
Saat gempa berkuatan M=4.8 terjadi pada Sabtu (16/10/2021) dini hari sekitar pukul 04.18 Wita, Wayan Mara sekeluarga termasuk menantu dan cucu balitanya masih terlelap tidur.
Namun, tiba-tiba mereka teperanjat bangun sehubungan merasakan guncangan yang cukup kuat. Tidak hanya itu, bangunan rumah satu-satunya milik Wayan Mara menyusul roboh.
Seisi rumah berhamburan berlari keluar ruang bangunan untuk maksud menyelamatkan diri, namun ada satu yang tertinggal, yakni cucu Wayan Mara yang masih bersusia di bawah lima tahun atau balita.
Ditemui di kediamannya pada Sabtu (16/10/2021) sore, Wayan Mara mengatakan, saat terjadi gempa, keluarganya yang berjumlah 7 orang masih tertidur lelap. Secara tiba-tiba, muncul guncangan dahsyat, membuat seluruh keluarga berhamburan lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Di tengah kepanikan, Wayan Mara juga mengaku bergegas bangkit mau lari hendak keluar rumah, namun di ranjang sebelah melihat cucu perempuannya masih dalam posisi tertidur seorang diri. Secara spontan, Wayan Mara langsung mendekap dan memeluk erat cucunya tersebut agar terhindar dari reruntuhan puing-puing rumah yang saat itu mulai berjatuhan.
Benar saja, saat Wayan Mara memeluk cucunya, sebagian tembok rumahnya langsung ambruk dan menimpa tubuhnya. “Saat tembok menimpa tubuh, saya sudah pasrah antara hidup dan mati. Yang saya pikirkan hanya cucu saya. Saya berusaha untuk melindungi cucu agar terhindar dari reruntuhan,” kata Wayan Mara, penuh haru.
Dalam dekapan di balik reruntuhan, balita yang kemudian menangis keras-keras berhasil terselamatkan dari hantaman bongkahan tembok, meski bagian belakang kepala, punggung, tangan dan kaki Wayan Mara harus menderita luka-luka menganga, gores dan memar.
Beruntung, meskipun tertimpa bongkahan tembok rumah yang terbuat dari tumpukan batako, Wayan Mara masih mampu perlahan bangkit sambil menggendong cucu, keluar dari reruntuhan, begitu guncangan gempa mulai mereda.
Darah sempat mengucur dari bagian kepala, namun Wayan Mara terus berusaha keluar rumah untuk menyelamatkan diri sambil menggendong cucunya. “Ini kepala saya mengalami luka saat terkena reruntuhan tembok rumah tadi pagi,” kata Wayan Mara sambil menunjukan kepala bagian belakangnya yang luka menganga dalam beberapa cm itu.
Tidak hanya Wayan Mara, ternyata istrinya yang bernama Ni Nyoman Murni juga terkena serpihan tembok yang ambruk. Bahkan luka yang dialami istrinya lebih parah hingga langsung dilarikan ke Puskesmas Kubu.
“Istri saya mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala, bahkan darah sempat mengalir cukup deras. Akibat luka tersebut, istri saya harus dijahit dalam 11 jahitan di bagian kepala,” kata Wayan Mara.
Dengan adanya gempa yang membuat rumah satu-satunya hancur hingga tidak bisa untuk ditempati lagi, Wayan Mara berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, termasuk kepada warga yang lain yang mengalami nasib serupa. Bahkan di desa ini ada penduduk lain yang mengalami nasib yang lebih parah darinya, hingga mengakibatkan adanya korban meninggal dunia.
“Ini rumah kami satu-satunya, dan sekarang sudah hancur. Saya sangat berharap nantinya ada perhatian dan juga bantuan dari pemerintah untuk dapat mengurangi beban kami dan juga warga lain yang senasib,” ujar Wayan Mara, penuh harap.
Dengan hancurnya rumah satu-satunya yang ia miliki tersebut, kini Wayan Mara dan juga anggota keluarganya terpaksa harus tinggal untuk sementara di rumah mertuanya yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya, karena rumah mertuanya hanya mengalami kerusakan ringan.
Dari hasil pantauan di lapangan, selain sebagian besar rumah warga mengalami kerusakan berat hingga ringan, di beberapa titik lokasi juga terjadi longsoran ringan hingga membuat ruas jalan sedikit tertutup. Beberapa warga pun terlihat mulai sibuk membersihkan puing-puing rumah yang hancur, termasuk memilah barang-barang berharga yang kemungkinan masih bisa untuk diselamatkan.
Selain itu, beberapa warga yang mengalami luka-luka terlihat sedang beristirahat di rumah kerabat terdekat dan juga ada menangis sejadi-jadinya meratapi nasib yang sedang dialaminya.
Bahkan sejumlah warga yang ditemui di lokasi tersebut mengaku masih trauma dengan kejadian gempa yang membuat sebagian besar rumah mereka hancur berantakan. Seperti yang dikatakan oleh Wayan Sweca dan juga istrinya yang mengaku sangat trauma dengan kejadian tersebut, bahkan ia mengaku takut untuk masuk ke dalam rumah dan dapur karena di sejumlah titik mengalami keretakan.
“Kami takut masuk ke dalam rumah karena beberapa bagian tembok rumah retak-retak. Takutnya tiba-tiba ambruk, jadi saya cari aman saja dengan tinggal di luar rumah, di alam terbuka,” kata Wayan Sweca dengan sorot mata menerawang jauh. (LE-Jun)







