Karangasem, LenteraEsai.id – Guncangan gempa bumi bermagnitudo 4.8 pada Sabtu (16/10) lalu pukul 04.18 Wita di Karangasem, Bali, menyisakan duka mendalam bagi warga. Musibah ini menelan tiga korban jiwa, serta mengkoyak ratusan rumah penduduk dan tempat ibadah.
Sekretaris Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) RAPI Karangasem Wayan Suara Arsana, Minggu (17/10) melaporkan, update dampak gempa bumi pada pagi ini hingga pukul 06.00 Wita, di Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem tercatat ada dua titik tanah longsor yang menimbun sebagian badan jalan raya.
Selain bencana longsor yang dipicu guncangan gempa, di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Bangli itu juga terdata tiga unit kendaraan bermotor rusak akibat tertimpa material bangunan yang roboh, ucapnya.
Untuk rumah penduduk yang mengalami kerusakan, Suara Arsana mengungkapkan sebanyak 64 unit rusak berat, dan 601 rusak ringan. Sementara tempat ibadah berupa pura, merajan atau sanggah terdata 262 unit yang mengalami kerusakan berat dan ringan.
Dihubungi lewat sambungan telepon, Suara Arsana menyebutkan di wilayah Desa Pempatan tidak tercatat adanya korban jiwa, hanya beberapa warga mengalami luka-luka dan sudah mendapat perawatan di Puskesmas Rendang di Desa Menanga.
Sumber gempa yang berpusat di daratan pada kedalaman 10 kilometer di daerah Karangasem itu juga dilaporkan merusak ratusan rumah dan menelan seorang korban jiwa di Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.
Dua korban jiwa lainnya terjadi di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, di mana rumah mereka hancur diterjang tebing longsor yang dipicu oleh getaran gempa yang cukup kuat. Sehingga total korban jiwa menjadi tiga orang.
Berdasarkan analisa dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG) Wilayah III Denpasar, terungkap bahwa fenomena gempa bumi berkekuatan M=4,8 di Karangasem, Bali itu terjadi akibat aktivitas sesar lokal dan termasuk dalam kategori gempa bumi dangkal.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal,” kata Kepala Balai Besar MKG Wilayah III Denpasar, Agus Wahyu Raharjo melalui keterangan tertulis.
Lebih lanjut, Balai Besar MKG Wilayah III Denpasar juga mencatat pada Sabtu (16/10) hingga pukul 16.42 Wita, terjadi gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak dua kali dengan magnitudo 3,8 dan 2,7 yang guncangannya dirasakan di wilayah Karangasem. (LE-KR)







