Denpasar, LenteraEsai.id – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyatakan bahwa penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berlangsung 3-20 Juli 2021, bisa dianalogikan sebagai ‘jamu pahit’ dalam jangka pendek yang seolah terlihat kurang bersahabat bagi perkembangan ekonomi.
“Namun justru dalam jangka panjang, PPKM Darurat ini merupakan salah satu obat mujarab bagi ‘rebound’ perkembangan perekonomian Bali,” kata Trisno pada acara webinar yang mengusung tema ‘Memperkuat Resiliensi Dunia Usaha di Era PPKM’, yang berlangsung di Denpasar, Kamis (15/7/2021).
Dia melanjutkan, PPKM Darurat dapat membawa dampak positif apabila efektif mencapai tujuannya, yaitu terkendalinya angka Covid-19. “Oleh sebab itu, kebijakan ini harus mendapat dukungan semua pihak dan PPKM tidak berkepanjangan. Semakin cepat angka Covid-19 terkendali, maka semakin cepat perekonomian kita bangkit,” ujar Trisno, menegaskan.
Selanjutnya ia menyatakan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang selama ini telah secara aktif berpartisipasi dan berkontribusi dalam setiap pelaksanaan survei yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia, baik yang bersifat mingguan, bulanan maupun triwulanan.
Sesuai amanat pasal 14 UU No.23 tahun 1999 yang telah diubah terakhir dengan Undang Undang No.6 tahun 2009, Bank Indonesia dalam menjalankan mandatnya, dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaran, memerlukan data/informasi ekonomi dan keuangan terkini secara tepat waktu dan akurat.
Dalam beberapa minggu terakhir, kata Trisno, kasus Covid-19 di Indonesia menyentuh angka yang tinggi sehingga mendorong pemerintah menetapkan adanya PPKM Darurat termasuk juga di Provinsi Bali. Meskipun demikian, vaksinasi Covid-19 yang terus digencarkan oleh pemerintah dengan target vaksinasi 1 juta per hari, bahkan Presiden Jokowi mengarahkan untuk dinaikkan menjadi 2 juta per hari pada bulan Agustus nanti, tentunya akan memberikan optimisme terhadap pemulihan kondisi Indonesia ke depan termasuk dalam hal perekonomian. Meskipun demikian, vaksinasi harus terus diiringi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
Di masa yang penuh dengan ketidakpastian terutama dalam pandemi Covid-19 seperti saat ini, peran data dan informasi terutama melalui survei menjadi hal yang penting. Data dan informasi tersebut berperan sebagai leading indikator penyusunan perkiraan perkembangan perekonomian ke depan yang pada akhirnya bermuara untuk menentukan arah kebijakan perekonomian nasional. Bank Indonesia saat ini berupaya agar analisis dan asesmen yang disusun selalu forward looking terhadap perekonomian ke depan. Dengan demikian, kebijakan yang diambil dapat bersifat mengantisipasi atau mendahului situasi yang mungkin akan terjadi ke depan.
Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan berbagai survei baik yang bersifat rutin maupun insidentil yang dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia termasuk Bali. Survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mengetahui secara lebih dini mengenai perkembangan harga dan kondisi perekonomian ke depan.
Menurut Trisno Nugroho, pihaknya akan melakukan diseminasi terkait Perkembangan Ekonomi Bali Terkini yakni kondisi triwulan II 2021. “Kami secara rutin melakukan survei untuk mengetahui bagaimana perkembangan perekonomian baik dari sisi rumah tangga maupun dunia usaha. Beberapa survei yang kami lakukan adalah 1. Survei Konsumen
(SK) untuk mengetahui perkiraan konsumsi Rumah Tangga ke depan, 2. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) untuk mengetahui indikasi perkembangan kegiatan ekonomi di sektor riil secara triwulanan, serta 3. Survei Penjualan Eceran (SPE) untuk melihat pergerakan nilai penjualan di tingkat eceran.” katanya.
Di samping itu, Bank Indonesia Provinsi Bali juga menyelenggarakan survei insendentil sesuai dengan kondisi dan kebutuhan data terkini. Dalam kesempatan ini, terdapat juga pemaparan mengenai Dampak Bantuan Sosial Terhadap Pola Konsumsi kepada 160 responden masyarakat di Provinsi Bali yang menerima bantuan sosial dari pemerintah.
Survei-survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia tersebut juga sesuai dengan best practice yang dilakukan oleh bank-bank sentral di beberapa negara maju maupun negara berkembang lainnya. Kinerja ekonomi diharapkan dapat tergambar dari hasil survei serta menjadi salah satu tools yang kuat dalam memberikan gambaran komprehensif tentang perkembangan ekonomi secara regional maupun cakupan nasional, ujar Trisno Nugroho, menjelaskan. (LE-DP)







