HeadlinesTabanan

Irama Gender Mengalun Misterius dari Pohon Raksasa di Desa Tua

Tabanan, LenteraEsai.id – Bunyi tabuh dari seperangkat gender, alat musik tradisional Bali, mengalun lembut yang seolah memancar dari sebatang pohon kayu putih raksasa yang menyimpan ceritera mistis dengan sisi spiritual yang kental.

Pohon kayu putih berukuran raksasa yang disakralkan tersebut, tumbuh subur di Desa Tua, tepatnya di bagian halaman jaba Pura Babakan, Banjar Bayan, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali.

Pohon yang sarat nilai magis, pada waktu-waktu tertentu akan menperdengarkan lamat suara gender yang mengalun syahdu, yang tak ubahnya bagai semilir nafiri yang tertiup angin sepoi-sepoi. Demikian kesaksian para tetua dan warga setempat, atau bahkan pemedek yang tangkil untuk bermeditasi di kawasan pura pada malam hari.

Berdasarkan kepercayaan yang dikisahkan secara turun-temurun, ikhwal terdengarnya irama tanbuh gender misterius itu berlatar belakang kisah pada zaman dahulu kala, tatkala perang antarprajurit kerajaan masih berkecamuk di Bumi Dewata.

Kisruhnya situasi yang terjadi ketika itu, membuat warga Desa Tua timbul inisiatif untuk menyembunyikan perangkat gamelan, berikut senjata tajam yang dimiliki penduduk di dalam rongga batang pohon berukuran raksasa itu. Tujuannya agar tidak gampang diketahui dan dirampas oleh gerombolan musuh.

Namun di luar dugaan, setelah cukup lama tersimpan, gamelan utamanya yang berupa gender, tiba-tiba berbunyi sendiri dengan mengalunkan irama tabuh yang sangat menyayat hari. Alunan tabuh misterius itu biasanya muncul pada hari-hari tertentu, seperti rahinan atau Kajeng Kliwon dan hari raya lainnya.

Sejauh ini, pohon kayu putih tersebut diperkitakan sudah berusia lebih dari 700 tahun. Dan sejak tahun 2013 mulai dikenal luas oleh para pemedek, termasuk wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Mereka yang datang tidak hanya untuk berfoto di bawah pohon, tetapi juga tidak sedikit untuk tujuan nunas tamba berdasarkan pawisik yang diperoleh melalui mimpi, atau petunjuk dari seorang balian yang memintanya untuk tangkil nunas tamba ke pura yang ‘menyimpan’ pohon keramat itu.

Wayan Poh, salah seorang warga asli Desa Tua sekaligus penjaga wilayah pohon kayu putih, menyebutkan, orang yang nunas tamba ke pohon kayu putih, tidak sedikit yang datang dari desa yang jauh setelah mereka mendapat pawisik atau petunjuk gaib agar mereka sembuh dari penyakitnya.

“Bahkan, ada orang dari Denpasar yang sudah divonis positif Covid-19, terus keluarganya datang ke sini nunas babakan kayu putih untuk dibawa pulang, lantas dibikin boreh. Tidak lama kemudian kami mendengar kabar bahwa Virus Corona yang sempat hinggap di tubuh si pasien, langsung sirna,” ujar Wayan Poh, meyakinkan.

Dia melanjutkan, selain terbukti menyembuhkan Covid-19, sejumlah pemedek yang terserang wabah seperti sakit perut, hepatitis, tipus dan sejumlah penyakit lainnya, tidak berselang lama mengalami kesembuhan setelah nunas tamba di pohon kayu putih.

Akhirnya, keajaiban dan kemurahan Yang Maha Kuasa melalui ‘tangan’ pohon kayu putih tersebut, semakin santer menggaung dari mulut ke mulut, sehingga kini hampir setiap hari ada saja pemedek yang nunas tamba, datang ke pohon yang telah berusia ratusan tahun itu.

Pekak Alit Ardika, seorang sesepuh di Desa Tua menambahkan, ada beberapa orang pinter atau penduduk tertentu yang pernah melihat adanya sebuah gada emas yang tersimpan dalam rongga batang pohon kayu putih.

Namun demikian, lanjut Pekak Alit, tidak setiap pemedek atau orang dapat melihat benda yang menyerupai senjata Bima atau Warkadara dalam kisah pewayangan itu. “Memang tidak semua orang bisa melihat, tetapi siapapun itu akan merasakan adanya aura sakral yang memancar dari keberadaan gada emas tersebut,” katanya, menjelaskan.

Pekak Alit yang juga salah seorang penekun spiritual mengungkapkan, pernah ada turis dari Inggris yang meditasi di bawah pohon kayu putih, namun tak lama berselang malah kerauhan atau kesurupan.

Dari kata-kata yang keluar saat dia kerauhan, akhirnya diketahui kalau si turis itu melakukan semedi dalam keadaan fisik dan mental yang masih kotor, kata Pekak Alit dengan menjelaskan, seseorang yang sedang kotor, kehadirannya tidak akan diterima oleh Ida yang ‘ngagegeh’ di pohon.

Beberapa lama kemudian, turis Inggris tersebut kembali datang bermeditasi, tentunya setelah dia membersihkan diri secara sekala dan niskala terlebih dahulu. Ujungnya, meditasi yang dia lakukan berhasil atau dapat diterima, ucapnya.

Dulu sebelum pandemi, lanjut Pekak Alit, banyak turis datang untuk meditasi, meminta petunjuk untuk dibukakan jalan menuju kerahayuan. Tetapi setelah pandemi, nyaris tidak ada lagi orang asing yang datang ke sini.

Penampakan Pendeta Lingsir

Bagi krama Bali yang senang melakoni spiritual maupun meditasi, setidaknya dapat mencoba tangkil ke pohon kayu kutih di Desa Tua, Kecamatan Marga. Beberapa krama dari sejumlah daerah bahkan mancanegara telah mencoba melakukan meditasi di depan pelinggih, tepat berada di sisi salah satu sudut pohon kayu putih tersebut.

Kedatangan krama tidak menentu dalam melakukan meditasi, karena memang tidak ditentukan hari apa saja dapat melakukannya. Jadi, krama bisa datang kapan saja dan jam berapa saja. Semua tergantung dari filing atau perasaan krama yang akan datang guna melakukan kegiatan yang bernafaskan spiritual itu.

“Bagi krama berkeinginan tangkil guna melakukan meditasi, cukup hanya membawa Canang Pejati saja. Selain itu, sebelum melakukan meditasi para krama perlu mendak pemangku yang biasa muput di Pura Babakan,” kata I Made Kurna Wijaya selaku Penyarikan Pura Babakan, saat ditemui di kediamanya di Desa Tua, Sabtu (10/9).

Pemangku pura yang nantinya menghaturkan Canang Pejati, sebelum pemedek melakukan persembahyangan atau meditasi dan permohonan yang sekiranya perlu disampaikan.

Jro Penyarikan Pura Babakan menyebutkan, krama yang melakukan meditasi biasanya berada di areal pelinggih, namun ada juga yang melakukan itu di sela-sela akar pohon, atau tepat berada di bawah pohon kayu putih. Tergantung petunjuk gaib yang mereka peroleh.

Untuk waktunya, Made Kurna mengatakan, secara khusus tidak ditentukan kapan meditasi bisa dilakukan. “Tidak ditentunkan waktunya, semua tergantung dari perasaan para krama yang akan melakukan bermeditasi,” ujarnya.

Jika dilihat sebelumnya, krama yang sempat tangkil ke Pura Babakan berasal dari beberapa daerah di Bali, luar Bali bahkan juga turis mancanegara yang diduga tengah berlibur di Bumi Dewata.

Merariknya, beberapa turis yang melakukan meditasi adalah untuk rehabilitasi atau menghilangkan kecantuan dari mengkonsumsi narkoba. “Sejauh ini juga ada grup campuran dari Amerika, Cina dan Eropa. Pokoknya dari beberapa negara dan mereka rutin datang kemari,” ujarnya.

Dikatakan, grup yang rutin datang sejak 2014 silam itu, belakangan mulai tidak nongol lagi, diduga karena pandemi hingga mereka berhenti datang bermeditasi untuk sementara waktu.

Selain untuk meditasi, pelingih di Pohon Kayu Putih juga kerap dimanfatkan oleh masyarakat sekitar untuk nerang atau memohon agar tidak turun hujan, misalnya saat pelakukan kegiatan upakara adat atau keagamaan dan lain-lain, ujarnya.

Disinggung tentang Ida yang berstana di pelingih Pohon Kayu Putih tersebut, Made Kurna mengatakan, menurut para leluhur atau penglingsir maupun para krama yang sempat melakukan meditasi, disebutkan bahwa Ida yang berstana berujud Pendeta Lingsir, berjenggot panjang dan membawa tungked (tongkat) yang menyala berkilauan.

“Beliau dapat dilihat dan berinteraksi langsung dengan krama yang melakukan meditasi,” ucapnya dengan menambahkan, selain beraura baik untuk bermeditasi, di pelingih tepat berada di bawah Pohon Kayu Putih, krama juga banyak yang datang untuk memohon kesembuhan atas penyakit yang dideritanya.  (LE-AK)

Lenteraesai.id