Karangasem, LenteraEsai.id – Ni Nyoman Rai (43), penduduk Dusun dan Desa Ababi Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, tergolong wanita yang terlahir dan hidup dalam keluarga yang kurang berkecukupan.
Dalam kondisi ekonomi yang sulit ditambah keluarga sakit-sakitan, wanita lajang ini kerap harus menghadapi tekanan hidup yang terbilang berat dan cukup memprihatinkan.
Bagaimana tidak, sebagai seorang perempuan dia justru harus menjadi tulang punggung keluarga karena kakaknya I Made Merta (47) mengalami sakit gangguan jiwa sejak belasan tahun yang lalu.
Sementara ibu kandungnya Ni Wayan Manis yang berusia sekitar 90-an, tidak bisa berbuat banyak karena usianya yang sudah tergolong renta. Sebagai seorang janda yang telah lama ditinggal suami, Wayan Manis pun sakit-sakitan.
Oleh sebab itu, Ni Nyoman Rai memutuskan untuk tidak menikah sampai saat ini, karena ingin merawat ibu dan kakaknya yang sedang sakit.
“Kalau saya kawin, siapa nanti yang akan ngurus mereka. Lagian, tidak ada orang laki yang mau kepada saya, yang kondisinya murat-marit kayak gini,” ujar Nyoman Rai dalam bahasa Bali dengan logat kental Karangasem, sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
Sebagai seorang perempuan sekaligus tulang punggung keluarga, sesungguhnya tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk bisa menyambung hidup keluarga sehari-hari.
Kadang untuk kepentingan biaya hidup sehari-hari, Nyoman Rai harus meminjam uang ke tetangga untuk sekedar bisa membeli beras dan lauk-pauk seadanya. Uang tersebut baru dikembalikan jika anak babi dari induknya yang selama ini ia pelihara, laku terjual.
Praktis hanya itulah penghasilan Nyoman Rai yang dapat dilakoninya saat ini untuk bisa menyambung kebutuhan hidup keluarga. “Dulu saya sempat jualan daluman, tapi semenjak 2 bulan terakhir saya sudah tidak bisa lagi berjualan karena saya juga sering sakit-sakitan belakangan ini,” katanya.
Tak hanya itu, kakaknya kini juga sering mengamuk akibat penyakit jiwa yang dideritanya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ibunya kini dititipkan di rumah iparnya yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal Nyoman Rai.
Terkait dengan kondisi keluarga yang dihantam seabreg kesuilitan belakangan ini, Nyoman Rai sangat mengharapkan adanya bantuan, baik dari pemerintah maupun komunitas-komunitas untuk bisa menyambung hidup sehari-hari.
Sementara itu, Perbekel Desa Ababi I Wayan Siki saat dihubungi, Sabtu (5/6/2021) mengatakan, kondisi dari keluarga Nyoman Rai memang terbilang cukup memprihatinkan, tapi dari pihak desa sudah berupaya semaksimal mungkin untuk bisa membantu keluarga tersebut.
Mulai dari bantuan berupa Raskin sampai BLT (bantuan langsung tunai) serta bantuan yang datang dari yayasan dan komunitas-komunitas, termasuk dari pemerintah dan yang lainnya, selama ini selalu diutamakan untuk dapat diserahkan kepada keluarga Ni Nyoman Rai, ucapnya.
“Jika ada bantuan apapun yang masuk melalui desa, kita selalu utamakan keluarga Nyoman Rai, karena kita tahu keadaan mereka seperti apa,” kata Wayan Siki, menjelaskan.
Selain itu, dari pihak desa juga sudah pernah mengupayakan bantuan bedah rumah karena keadaan rumah keluarga Nyoman Rai terbilang cukup memprihatinkan dan tidak layak untuk dihuni.
“Kita sudah pernah mengupayakan bantuan bedah rumah ke pemerintah untuk keluarga Nyoman Rai, tapi sampai saat ini belum juga mendapatkannya,” ujar Wayan Siki, mengungkapkan.
Sebagai seorang perbekel Wayan Siki sangat berharap ada bantuan lebih dari pemerintah atau pihak lain untuk keluarga Nyoman Rai guna kelangsungan biaya hidup mereka sehari-harinya. (LE-Jun)







