Denpasar, LenteraEsai.id – Polemik keberadaan sampradaya masih terus bergulir. Pihak yang menginginkan agar sampradaya dikeluarkan dari pengayoman Hindu terus mendengungkan narasi yang memojokkan aliran yang dinilai non dresta Bali itu.
Bahkan, polemik itu juga telah berujung pada penutupan sejumlah asrham sampradaya. Tentu kondisi ini sangat memalukan bagi umat Hindu hingga perlu disikapi dengan arif dan bijaksana. Masing-masing pihak diminta untuk menahan diri dan menghindari merasa diri paling benar.
Demikian disampaikan I Gusti Ketut Widana, akademisi UNHI Denpasar, kepada pers di Denpasar, Sabtu (29/5), menanggapi polemik pro dan kontra tentang sampradaya non dresta Bali di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini.
Gusti Widana mengatakan, sesungguhnya sampradaya sudah ada di Bali sejak tahun 1970-an. Sampradaya, kata Widana, adalah ‘doktrin tradisional tentang pengetahuan’. Sebuah aliran keagamaan/kerohanian/spiritualisme yang hidup dari tradisi Hindu, kemudian diteruskan melalui upanayana (inisiasi) dengan sadhana (disiplin) spesifik menurut petunjuk para gurunya.
“Ajaran Weda yang dilaksanakan umat Hindu di Bali pun sebenarnya tergolong sampradaya (mayoritas Siwa Sidhanta) yang juga berasal dari India, namun sudah ‘maloka-dresta’ di Bali. Substansi dan esensinya tetap bersumber dari Weda, namun dengan tampilan materi (sosial, adat dan budaya) yang sesuai desa kala patra gumi Bali,” ujar Widana.
Lulusan pascasarjana UHN IGB Sugriwa itu menyebutkan, letak permasalahan, tepatnya ‘kesalahan’ sampradaya sampai terbit SKB Bali dan MDA Bali tentang ‘Pembatasan Kegiatan Pengemban Ajaran Sampradaya Non Dresta Bali di Bali’ yang kemudian berbuntut pada penutupan ashram, terletak pada ekslusivisme dan adanya arogansi.
Harus diakui sampradaya selama ini memunculkan ekslusivisme kelompok. “Kehadiran sampradaya dimaksud, dipandang memosisikan diri sebagai kelompok aliran keagamaan (Hindu) yang ‘paling benar’ menurut Weda (pegangannya). Ditambah tampilan atribut, simbol dan tatacara peribadatan yang tampak ‘menjauh’ dari dresta Bali,” kata Widana.
Lalu, lanjut Widana, muncul arogansi oknum yang cenderung ‘menyalahkan’ apa yang secara turun-temurun (tradisional-red) sudah trepti dilaksanakan umat Hindu di Bali. Sebagai orang Bali, meski sudah konversi internal ke Hindu Sampradaya India, logika dan etikanya mesti tetap bepegang pada pepatah ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’, yang tiada lain desa/loka dresta Bali itu sendiri.
“Bagaimanapun juga aliran darah mereka adalah gen etnis Bali yang sejak dulu kala para leluhurnya dengan ajeg ‘nindihin’ Gumi Bali dengan agama Hindunya,” ujarnya, menegaskan.
Menurut Widana, akan memalukan dan memilukan jika di antara semeton Bali (Hindu) yang berbeda label kemudian saling ‘beradu’, dengan tanpa menyadari bahwa semuanya benar menurut Weda. Hanya dresta saja yang membedakannya.
“Karenanya, siapapun dan apapun aliran kehinduannya sepanjang berkeinginan luhur tetap akan tumbuh berkembang menghiasi taman bunga aneka rupa warna keindahan beragama. Untuk itu, sikap arif dan bijaksana yang patut ditunjukkan adalah kembali mengakar pada desa/loka dresta Bali,” kata Widana, mengharapkan. (LE-DP)







