Badung, LesteraEsai.id – Sejak menjelang Hari Raya Galungan & Kuningan sebulan lalu, pasaran buah kelapa di Bali tercatat anjlok. Kini hanya pada kisaran Rp 4.000/butir, dari yang sebelumnya sempat mencapai Rp 6.000/butir.
Namun demikian, bagi pelaku jual beli kelapa seperti I Gede Anom (40), tetap juga bertahan menekuni profesinya itu. Apalagi, kata dia, saat ini sulit mencari pekerjaan dan lahan bisnis yang lain. Salah satunya karena pandemi Covid-19 yang tidak kunjungan berakhir.
Sehubungan dengan itu, Gede Anom mengaku tetap berusaha untuk membeli dan menampung kelapa milik para petani, terutama yang tersebar di wilayah Kabupaten Badung. “Yah..biar sama-sama jalan di tengah kondisi yang serba sulit ini,” katanya, menuturkan.
“Sudah sejak sebelum Galungan-Kuningan harga kelapa jatuh Pak. Sekarang hanya laku terjual Rp 4.000/butir. Padahal sebelumnya sempat Rp 6.000/butir,” ujar Gede Anom saat ditemui pewarta LenteraEsai (LE) di rumahnya Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung pada Jumat siang, 28 Mei 2021.
Gede Anom yang asal Jembrana itu mengatakan sudah sejak cukup lama menekuni bisnis jual beli kelapa. Ada sekitar 10 tahun lebih. Jadi mengenai naik turunnya harga buah kelapa, baginya sudah biasa. Sekarang harga murah, lantaran persediaannya cukup banyak karena ada kelapa dari luar daerah masuk ke Bali.
“Saya bersama keluarga menggantungkan hidup dari jual beli kelapa ini. Maka, bagaimanapun naik turunnya harga kelapa di pasaran, saya tetap lakoni usaha ini. Bagaimana lagi, mau kerja yang lain juga gak ada,” katanya, sambil menyeka keringat yang menghiasi keningnya.
Dengan harga kelapa Rp 4.000/butir saat ini, kata Gede Anom, untungnya memang sangat tipis. Ia sendiri mengaku membeli di pohon seharga Rp 2.500/butir. terus harus bayar ongkos tukang panjat (petik), angkut dan lainnya, yang jumlahnya tidak sedikit.
Seperti ongkos transport untuk mengangkut kelapa dari kebun di daerah Badung ke Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, misalnya, tidak bisa dibayar murah karena jaraknya memang lumayan jauh, ucapnya.
“Terlepas dari itu, prinsip saya, yang penting barang laku terjual. Tidak apa untung tipis, karena memang kelapa lagi musim panen hingga persediaan jadi cukup banyak di pasaran. Suatu saat nanti, pasti akan ada harga yang lebih baik lagi,” katanya, penuh semangat.
Pria yang berdomisili di wilayah Desa Punggul itu mengaku sejauh ini tetap bersemangat dan kerja keras menekuni bisnis jual beli kelapa. Ia berkeliling dari banjar ke banjar, dari tegalan ke tegalan, menanyakan warga yang menjual buah kelapa yang masih di pohonnya.
Kalau ada yang sepakat harga, ia langsung mengontak juru panjat langganannya. “Kalau giat berusaha, pasti dapat barang. Apalagi ada warga yang sudah langganan menjual kelapa pada saya,” ucapnya.
Pemilik kebun kelapa yang sudah menjadi langganan, biasanya langsung menelpon Gede Anom untuk dipetik kelapanya. “Yah..terus saya meluncur ke lokasi dengan mengajak tukang petik,” ujarnya.
Karena sudah terbiasa melanyah kebun orang, Gede Anom mengaku setiap harinya menimal dapat satu pick-up atau sekitar 500 butir buah kelapa dari para pemilik kebun kelapa. Kelapa sebanyak itu biasanya langsung diantar ke beberapa pelanggan di daerah Tabanan. (LE/Ima)







