Pohsanten Bangun Desa Pariwisata dan Terus Berinovasi Sebagai Penghasil Kakao Kualitas Eksport

Jembrana, LenteraEsai.id – Desa Pohsanten terletak di Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana tidak asing lagi di Bali sebagai salah satu desa penghasil kakao terbaik yang telah merambah pasar eksport ke berbagai negara.

Tidak itu saja, Desa Pohsanten juga memiliki potensi dengan daya tarik pariwisata karena ditunjang dengan kondisi alamnya yang memukau karena masih terjaga kelestarianya.

Bacaan Lainnya

Perbekel Desa Pohsanten I Gusti Agung Kade Sultra Gunadi Putra mengatakan, sudah dari dulu Pohsanten tercatat sebagai desa penghasil kakao dan telah mendapatkan sertifikasi dari Perancis, diberikan kepada pemilik kebun kakao yang bernama Gede Sukandi.

“Sehubungan dengan hal tersebut, kami dari pihak pemerintah desa mensupport budidaya dan pengembangan kakao di desa ini,” ujar I Gusti Agung Kade Sultra Gunadi Putra, di kantornya pada Selasa (18/5/2021).

Selain pihak desa, lanjut dia, perhatian dari pihak pejabat di Bali juga berdatangan, antara lain dari Made Urip, anggota DPR RI yang memberikan bantuan sebesar Rp 200 juta untuk prasarana pengeringan bjji kakao, serta Gubernur Bali Wayan Koster juga sempat dapat berkunjung guna memberikan dorongan kepada para petani.

Ia menyebutkan, hasil fermentasi kakao milik prtani sudah langsung ada pembeli dari Jepang, Australia dan Swiss. “Sekali datang, buyer bisa membeli sepuluh ton, dan kami sekarang sampai kewalahan memenuhi pesanan kakao karena permintaan banyak sedang produksi belum mencukupi, meski pengadaannya sudah digabung dengan produksi kakao dari desa tetangga,” ucapnya.

Ditanya mengenai kendala di lapangan, Gunadi Putra mengatakan berada pada proses pengeringan, di mana ‘solar dire’ (pengering dengan tenaga sinar matahari) yang ada dengan ukuran 6 x 4 meter, tidak bisa banyak menampung biji kakao.

“Untuk itu kami berharap kepada pihak pemerintah terkait bisa membantu pengadaan ‘solar dire’ dalam beberapa unit agar pengeringan biji kakao bisa lebih cepat dan dimaksimalkan,” ucapnya.

Terkait Pohsanten sebagai desa pariwisata, ia menjelaskan bahwa di desanya akan dikembangkan wisata tracking yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 4,4 kilometer menuju air terjun. Jalur tracking melalui hamparan kebun kakao dengan alam yang masih terjaga kelestarianya.

“Ditunjang akomodasi beberapa stop over (tempat persinggahan) apabila ada wisatawan yang mau menginap. Sekarang ini sudah ada beberapa tamu yang berkunjung, dan kebanyakan dari luar negeri,” ujarnya, bersemangat.

Selama ini, tim dari Fakultas Politeknik Denpasar membantu upaya penataan dan pengembangan Desa Pohsanten menuju desa pariwisata, kata I Gusti Agung Kade Sultra Gunadi Putra, menjelaskan.  (LE-Yut)

Pos terkait