Gianyar, LenteraEsai.id – Jenazah Ni Komang Ayu Ardani akhirnya ditemukan di aliran Tukad Petanu pada Rabu, 28 April 2021 sekitar pukul 14.30 Wita, bertepatan dengan ‘abulan pitung dina’ atau sebulan tujuh hari berdasarkan perhitungan kalender Bali.
Penemuan jenazah Ayu Ardani ini berkat penelusuran sejumlah relawan yang mencium bau aneh yang dikira bangkai babi, namun terdorong rasa penasaran. Setelah didekati, kemudian menguak timbunan ranting dan potongan kayu dan bambu yang menutupi, akhirnya terlihat bagian tubuh yang meringkuk.
Salah seorang relawan menyatakan, ketika dirinya pertama kali melihat jenazah itu posisinya ‘nungkruk’ di celah batu belah yang letaknya sekitar 1.200 meter di selatan atau hilir jatuhnya korban di Jembatan Laplapan, Ubud, Gianyar, pada 18 Maret 2021 lalu.
Ketika didekati dan meyakini kalau itu adalah jenazah manusia, relawan segera menelpon aparat kepolisian yang kemudian menyusul datang bersama tim SAR ke tempat temuan.
Tim SAR bersama pihak keluarga dan relawan kemudian mengevakuasi jenazah, dan setelah diidentifikasi dipastikan jenazah Ayu Ardani, yang ditandai dari celana yang dipakainya. Jenazah ditemukan dalam keadaan yang tidak utuh lagi.
Di sisi lain, penemuan jenazah Ayu Ardani memiliki kisah yang ganjil, yang bisa dibilang sebagai petunjuk. Sejumlah relawan mengatakan, beberapa hari sebelumnya sempat terlihat ada helm mengambang di lokasi batu belah itu. Akan tetapi, para relawan mengabaikan dikarenakan di lokasi tersebut penuh tumpukan kayu dan ada sejumlah buah kelapa hanyut, sehingga antara helm dan buah menjadi agak ‘saru’.
Selain itu, petunjuk yang paling mencolok adalah adanya anggota relawan yang asal Buleleng yang selama ini menetap di Payangan, Gianyar, mimpi bertemu dengan Ida Bhatara Petanu berupa Rangda, sehari sebelum jenazah Ayu Ardani ditemukan.
Salah seorang penduduk Laplapan, I Made Latra menyebutkan, penemuan korban pertama kali oleh pihak keluarga bersama sejumlah relawan, yang salah satunya adalah pria yang berminpi ketemu Ida Bhatara Petanu tersebut.
Saat itu, keluarga Ayu Ardani memang sengaja ke Tukad Petanu, mengingat pada Rabu (28/4/2021), sesuai perhitungan kalender Bali, merupakan hari ‘abulan pitung dina’ (hari ke-42) jatuhnya korban ke aliran sungai.
Seperti diketahui, Ayu Ardani yang mengendarai sepeda motor dinyatakan hilang setelah terperosok jatuh bersama anak dan mertuanya ke aliran Tukad Petanu, tepatnya di jalanan menurun tajam hendak melewati Jembatan Laplapan pada Kamis, 18 Maret 2021.
“Jadi tadi siang, keluarga sengaja ke Tukad Petanu. Istilahnya orang Bali, karena bertepatan dengan ‘abulan pitung dina’. Keluarga datang bersama relawan. Saat itu tiba-tiba saja, entah bagaimana, kok nampak bagian jenazah korban nongol di sela-sela tumpukan sampah potongan-potongan bambu dan kayu, sekitar pukul 14.30 Wita,” ujarnya.
Jenazah korban ditemukan tersangkut di dalam sebuah lubang di antara celah batu-batu berukuran cukup besar. Relawan dibantu pihak keluarga dan tim SAR, cukup lama untuk bisa mengambil jenazah korban, setelah sebelumnya harus menyingkirkan tumpukan potongan-potongan kayu dan bambu yang menyumbat lubang.
Nampaknya, korban bisa masuk ke dalam lubang yang kini posisinya lebih dari 1 meter di atas permukaan air sungai, sehubungan saat kejadian sungai sedang banjir. Banjir yang kini surut, membuat keberadaan jenazah cukup tinggi dari permukaan air sungai.
Begitu berhasil diangkat dari himpitan bebatuan, kondisi jenazah dalam keadaan tidak utuh. Beberapa bagian tubuhnya sudah terlepas dari badan utama. Bahkan bagian kepalanya kini masih dalam upaya pencarian.
Seperti telah diberitakan, Ni Komang Ayu Ardani yang membonceng anaknya Putu Kevin Ramansa (10) dan mertuanya Ni Ketut Rindit (55), pada Kamis (18/3/2021) malam lalu tiba-tiba sepeda motornya jatuh kecemplung ke aliran Tukad Petanu di samping Jembatan Laplapan, Ubud.
Bocah Kevin yang nyangkut dan berhasil meraih akar gantung pepohonan atau bangsing yang menjulur ke aliran sungai sekitar 50 meter dari tempat kejadian, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Sementara Ketut Rindit ditemukan telah meninggal dunia sekitar 125 meter selatan tempat kejadian.
Untuk korban Ayu Ardani, sejak saat itu terus dilakukan upaya pencarian yang tidak hanya melibatkan tim SAR gabungan, tetapi juga para relawan, warga masyarakat dan pihak keluarga korban. Bahkan, tidak kurang dari selusin balian dan paranormal ikut berpartisipasi di lokasi musibah. (LE-GA)







