judul gambar
HeadlinesKarangasem

Pandemi Covid-19, Tradisi ‘Mejaga-jaga’ di Desa Gegelang Dilaksanakan Sesuai Prokes

Karangasem, LenteraEsai.id – Tradisi ‘Mejaga-jaga’ di Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem yang merupakan serangkaian acara sebelum aci Usaba di Pura Dalem, dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan (prokes).

Bendesa Adat Desa Gegelang, Jro Mangku Ketut Artha mengatakan hal itu saat ditemui di sela-sela pelaksanaan ritual ‘Mejaga-jaga’ di Pura Dalem Desa Gegelang, Minggu (11/4) pagi.

Ritual ‘Mejaga-jaga’ adalah pengarakan seekor banteng atau sapi jantan dari satu pura ke pura yang lainnya, sebelum akhirnya disembelih atau ‘dipademkan’ dengan cara dilukai di beberapa bagian tubuhnya, untuk diambil darahnya.

Ritual penyembelihan yang antara lain menggunakan semacam tombak dari bambu, dilakukan di kawasan catuspata desa atau perempatan agung sebagai suatu persembahan yadnya. Sejumlah orang ikut ambil bagian melukai banteng hingga ‘padem’.

“Ini merupakan yang kedua kalinya tradisi ‘Mejaga-jaga’ dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Jadi, dalam pelaksanaannya kita hanya melibatkan beberapa orang saja, agar sesuai dengan prokes, yakni tidak menimbulkan kerumunan,” kata Jro Mangku Artha.

Jro Mangku Artha menuturkan, tradisi ‘Mejaga-jaga’ merupakan serangkaian dari aci Usaba di Pura Dalem Desa Gegelang yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, tepatnya saat tilem sasih kedasa atau tiga hari sebelum puncak usaba dilakukan.

“Sebelum digunakan sebagai sarana ‘Mejaga-jaga’, seekor banteng cula yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu digiring untuk mapiuning ke Pura Puseh, selanjutnya ke Pura Dalem, baru kemudian dibawa ke pempatan agung Desa Gegelang untuk ‘dipademkan’,” katanya.

Setelah ‘dipademkan’, kulit banteng tersebut diambil untuk digunakan sebagai sarana upacara pecaruan yang dilangsungkan di pempatan agung Desa Gegelang.

Tujuan dari tradisi ‘Mejaga-jaga’ adalah untuk menetralisir segala jenis roh jahat dan bhuta kala agar upacara aci Usaba di Pura Dalem Desa Gegelang dapat berjalan dengan lancar, tanpa ada hambatan atau gangguan apapun.

“Ini merupakan tradisi yang sudah turun-temurun dari leluhur. Jadi meskipun dalam situasi pandemi Covid-19, kami tidak berani untuk tidak melaksanakan karena kami takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hanya saja dalam penyelenggaraannya kita batasi agar sesuai dengan prokes,” kata Jro Mangku Artha, menjelaskan.  (LE-Jun)

Lenteraesai.id