Panen Melimpah, Produk Beras Organik Kerobokan Kesulitan Pemasaran

Petani di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng

Singaraja, LenteraEsai.id – Sulitnya memasarkan beras organik, masih menjadi momok bagi sejumlah petani subsektor tanaman pangan dan holtikultura di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.

Kesulitan yang diduga sebagai imbas dari situasi pandemi Covid-19 itu, tak pelak membuat sejumlah petani harus peras otak untuk bisa memasarkan komoditas lokal beras organik hasil panen di Kerobokan agar laku terjual.

Bacaan Lainnya

Perbekel Desa Kerobokan, Putu Wisnu Wardana saat ditemui mengatakan, selama ini belum ada pihak yang bisa diajak kerja sama untuk membeli hasil panen beras organik dalam jumlah besar secara berkelanjutan.

Praktis secara ekonomi, perputaran uang yang didapatkan petani menjadi lambat dan berpotensi tidak menentu.

“Kendala yang kami hadapi, hasil panen padi (beras organik) yang melimpah kali ini tidak diimbangi dengan pihak yang membeli. Ya, situasi pandemi Covid-19 ini membuat sejumlah sektor bisnis dan pariwisata gulung tikar. Kami ikut bingung mencari jalan, kemana harus kami pasarkan beras ini,” ujar Perbekel Wisnu saat ditemui, Jumat (9/4).

Perbekel Wisnu merinci, hasil panen padi perlakuan full organik Demplot Desa Kerobokan dalam progran penguatan ketahanan pangan, dibagi menjadi dua terdiri atas beras organik dan ketan.

Nah, jumlah luasan lahan tanaman padi organik 9.200 meter persegi (92 are), sementara ketan seluas 5.000 meter persegi (50 are).

“Estimasi ubinan petugas lapangan Dinas Pertanian Buleleng itu, hitungannya per hektar, hasilnya 77,3 kwintal/7.720 kg per hektar. Hasil panen padi organik yang kita panen baru seluas 60 are ini, masih bingung mau dipasarkan kemana?. Harga per kilo beras organik kami jual Rp 15 ribu. Ya, agak mahal karena kualitas beras organik tentunya sehat karena diperlakukan full organik tanpa menggunakan bahan kimia atau pestisida,” ungkapnya.

Perbekel Wisnu berharap ada pihak yang membantu pemasaraan beras organik Kerobokan di pasaran.

“Kita tetap berusaha mencari rekanan, baik dari pemerintah atau swasta agar produk beras organik Kerobokan bisa laku terjual,” katanya, menandaskan.  (LE-AN)

Pos terkait