BadungHeadlines

Taman Beji Samuan, Tempat Melukat Warga Dari Berbagai Daerah Luar Bali

Badung, LenteraEsai.id – Setiap desa memiliki potensi ekonomi. Tinggal kejelian melihat dan kemampuan menggali dan mengembangkan. Dan hasilnya sebesar-besarnya untuk memajukan desa serta kesejahteraan masyarakat.

Krama Desa Adat Samuan, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, termasuk yang jeli mencermati potensi alam yang ada di wilayahnya. Yakni memanfaatkan dan menata sumber-sumber air di tebing Tukad Penet.

Wujudnya Taman Beji Samuan, yang dijadikan objek wisata alam dan relegi sejak 2019. Sumber air itu selama ini dipelihara serta disucikan.
Bendesa Adat Samuan, I Gusti Ngurah Adnyana yang ditemui LenteraEsai (LE) di Banjar Samuan Kangin Minggu, 21 Februari 2021, berbincang seputar Taman Beji Samuan.

Menurutnya, awal dilaksanakan ‘proyek’ Taman Beji, sejumlah krama ragu. Apalagi dana yang diplot cukup besar, yaitu kurang lebih Rp 300 juta. Keraguan warga, apakah program itu bisa diwujudkan. “Wajar saja ada krama yang ragu. Karena medannya memang sangat sulit, hutan belantara, penuh resiko,” ujar Adnyana.

Dijelaskan, atas asung kerta wara nugraha Sesuunan (perkenan Hyang Widhi), kerja keras proyek taman beji, terwujud dalam tiga bulan, seperti yang ada sekarang. Didahului upacara melaspas, kemudian 2019 Taman Beji Samuan beroperasi, terbuka untuk umum.

“Astungkara yang datang dari hari ke hari makin ramai. Pada hari tertentu, rainan atau liburan pengunjung bisa 200 orang lebih per hari. Awal-awal itu masih normal, sebelum pandemi Covid-19,” ucap Adnyana.

Adnyana menyebutkan, bukan hanya umat Hindu yang datang malukat ke Taman Beji Samuan, melainkan dari berbagi kalangan. Baik yang lokal Bali, maupun daerah-daerah lain di tanah air. Juga wisatawan mancanegara. Ada petugas yang memandu tentang tatacara ritual malukat, serta ada Jro Mangku yang selalu siaga di sana.

“Kami tidak membayangkan akan ramai yang datang. Karena banyak tempat malukat di Bali. Teknologi informasi sangat berperan. Setiap yang datang ngesher di medsos. Akhirnya banyak yang tahu. Kami pengelola sama sekali tidak ada melakukan promo,” ucapnya.

Adnyana menjelaskan, ke depannya objek Taman Beji Samuan akan terus disempurnakan dan dikembangkan. Pengembangan ke selatan, pemilik lahan sudah setuju. Adanya Taman Beji cukup mengharumkan nama desa, baik desa adat maupun desa dinas.

Berapa pendapatan Taman Beji Samuan per bulan ?. Bendesa Adat Samuan I Gusti Ngurah Adnyana menyebutkan bahwa pihaknya tidak menerapkan sistem karcis masuk. Cuma berupa punia (sumbangan). Nominalnya terserah pengunjung. Kalau toh tidak mapunia, tidak apa-apa. Kalau memang tidak punya.

“Saat normal (sebelum ada Covid-19, Red), perbulan punia masuk rata-rata Rp 20 juta. Tetapi setelah Covid-19 menurun menjadi Rp 11 juta perbulan,” katanya. Punia yang terkumpul menjadi kas desa adat. Peruntukannya untuk pengembangan Taman Beji dan lainnya.  (LE/Ima)

Lenteraesai.id