Denpasar, LenteraEsai.id – Ratusan demonstran yang menamakan diri Aliansi Bali Tidak Diam (ABTD), menggelar aksi demo menolak diberlakukannya UU Cipta Kerja atau Omnibus Law, di Jalan PB Sudirman Denpasar, Kamis (22/10) siang.
Para demonstran yang berasal dari berbagai elemen masyarakat seperti mahasiswa dan kaum buruh di Pulau Dewata itu, menggelar sejumlah spanduk dan poster yang intinya menolak atas diberlakukannya UU Cipta Kerja yang belum lama ini telah disetujui untuk diundangkan oleh DPR RI.
Selain itu, beberapa tokoh buruh dan mahasiswa juga menyampaikan orasi dalam penjagaan ketat petugas kepolisian yang telah siaga di lokasi sebelum aksi digelar pada sekitar pukul 12.00 Wita.
Dalam orasinya, juru bicara ABTD pada pokoknya melilai kehadiran UU Cipta Kerja merugikan kaum buruh. Selain itu, pengesahan UU tersebut oleh DPR RI terkesan dipaksakan. Bahkan setelah diketuk palu, UU Cipta Kerja mengalami beberapa kali perubahan.
“Bapak Mahfud MD pun pernah mengatakan bahwa UU Omnibus Law itu telah cacat formal. Dunia juga mengatakan UU ini akan membawa malapetaka bagi masyarakat,” ungkap Ketua Serikat Pekerja Mandiri (SPM) Bali, Ida I Dewa Made Rai Budi Susana, dalam orasinya.
Dari hasil kajian pihaknya, kata Budi Susana, UU Cipta Kerja mengancam eksistensi kaum buruh. Pertama, UU Omnibus Law bagi kaum buruh akan menghilangkan jaminan atas pekerjaan. Mengapa ?. Karena sistem kerja kontrak akan menjadi semakin masif.
Kedua, lanjut Budi Susana, menghilangkan jaminan atas upah. Tidak ada kepastian tentang upah buruh jika UU Omnibus Law dipaksakan untuk diberlakukan di Indonesia.
Ribuan Petugas
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Polda Bali mengerahkan personel yang nampaknya jauh lebih banyak dari kehadiran para pengunjuk rasa yang jumlahnya sekitar 600 orang.
Tidak hanya personel dengan berbagai persenjataan termasuk perangkat penghalau massa, tetapi juga sejumlah mobil rantis dan water canon juga disiakan di sejumlah tempat.
Kapolda Bali Irjen Pol Dr Petrus Reinhard Golose mengungkapkan, ada ribuan personelnya yang dikerahkan untuk mastikan jalannya aksi demo berjalan lancar, aman dan tertib. Hal yang paling penting untuk dijaga adalah keamanan dan keselamatan rakyat Bali.
Dikerahkannya pasukan dalam skala besar tersebut karena kepolisian khususnya Polda Bali, tidak menginginkan kekerasan atau anarkisme terjadi. Langkah yang dilakukan adalah mengedepankan negosiasi melalui Polwan.
“Saya tidak gentar dengan aksi provokasi. Demi perekomian dan keselamatan rakyat, saya kerahkan ribuan personel. Sehingga kalian lihat sendiri hari ini jumlahnya lebih banyak polisi dari pada pendemo. Saya juga perintahkan agar pengamanan dilakukan secara humanis,” ujar Kapolda Bali, menandaskan.
Setelah para demonstran tampak secara perlahan mulai membubarkan diri pada sekitar pukul 17.30 Wita, petugas terlihat masih berjala-jaga di lokasi guna memastikan segalanya benar-benar telah berlangsung tertib, aman dan lancar. (LE-DP)







