Denpasar, LenteraEsai.id – Mencermati perkembangan ekonomi global terkini, banyak negara di dunia yang pertumbuhan ekonominya menurun tajam pada triwulan I-2020 seiring meluasnya pandemi Covid-19. IMF WEO memperkirakan ekonomi global 2020 mencatat pertumbuhan negatif hingga -3%.
Berbagai upaya penanggulangan penyebaran Covid-19 telah dilakukan mulai dari lock down, social distancing dan protokol kesehatan. Akibatnya terjadi pembatasan aktivitas produksi, konsumsi dan distribusi yang kemudian telah menyebabkan penurunan kinerja perekonomian negara- negara di seluruh dunia.
“Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga kita alami. Sumber perlambatan terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Penurunan permintaan domestik menekan kinerja komponen pertumbuhan ekonomi, terutama konsumsi swasta akibat Covid-19,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho pada acara Webinar: Roadmap to Bali’s Next Normal, ‘Is Bali ready for a MICE Business’, di Denpasar, Kamis (28/5) siang.
Ia menyebutkan, pada triwulan I 2020 perlambatan ekonomi terjadi di seluruh wilayah dengan yang terdalam di Jawa dan Bali Nusra. Hanya dua provinsi yang mencatat kenaikan pertumbuhan ekonomi, yakni Kalimantan Selatan dan Papua karena ditopang oleh perbaikan kinerja pertambangan. Sementara itu, juga terdapat 2 provinsi yang mencatat kinerja ekonomi yang terkontraksi yakni DIY Yogyakarta dan Bali.
Di tengah pandemi Covid-19, lanjut Trisno, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I 2020 mengalami perlambatan. Tertahannya kunjungan wisatawan ke Bali menyebabkan kinerja ekonomi Bali terkontraksi sebesar -1,14% (yoy).
Memasuki triwulan I 2020, kunjungan wisman ke Bali sempat mengalami peningkatan, namun pertumbuhan kunjungan wisman menurun tajam di penghujung triwulan I 2020. Hal ini menjadi penyebab kontraksi pada komponen ekspor jasa.
Menurut Trisno, Bali merupakan daerah yang paling terdampak dari turunnya kunjungan wisman tersebut. Akumulasi inbound wisman periode Januari s/d Maret 2020 mengalami kontraksi sebesar -21,82% (yoy), dengan penurunan terdalam pada wisman asal Tiongkok sebesar -64,24% (yoy).
Namun demikian, kata dia, penurunan inbound tourism di Indonesia masih lebih moderat dibanding negara-negara lainnya. Singapura, Thailand, Korea Selatan, Jepang dan Hongkong mencatat penurunan yang lebih dalam dengan ditetapkannya restriksi kunjungan wisman untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.
“Menyikapi perkembangan Covid-19 di seluruh dunia, kita perlu merumuskan berbagai strategi untuk terus bersaing dengan destinasi wisata lainnya di berbagai negara. Tren pariwisata diperkirakan akan mengalami perubahan. Pandemi Covid-19 menimbulkan disrupsi pada dunia pariwisata dan preferensi/perilaku wisatawan. Di era pascapandemi, wisatawan akan mengedepankan aspek safety, hygene and cleanliness atau yang sering kita sebut sebagai kondisi ‘New Normal’,” ujar Trisno.
Trisno mengungkapkan, sejumlah negara sudah mulai merencanakan untuk membuka perjalanan internasional ke negara tertentu. Eropa Utara, Latvia, Lithuania, dan Estonia, sudah sepakat untuk mengizinkan penduduknya melakukan perjalanan ke masing-masing 3 negara tersebut (Balitic Travel Bubble). Australia dan New Zealand berencana akan menerapkan travel bubble tanpa karantina 14 hari. Vietnam, Thailand dan Singapura juga mulai melakukan persiapan untuk membuka sektor pariwisata.
Menyikapi itu, kata Trisno, Pemerintah Indonesia, pelaku usaha dan stakeholder terkait harus mampu beradaptasi/menciptakan inovasi sebagai respon terhadap perubahan dalam rangka meningkatkan daya saing dan bersiap menghadapi kondisi ‘New Normal’, dengan menerapkan protokol kesehatan pada setiap lini, termasuk membangun Non-Cash Payment Environment.
Dikatakan, berbagai tantangan yang dihadapi oleh pariwisata Bali perlu dijawab bersama. “Sebagaimana kita ketahui, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah membuat strategi Pemulihan Pariwisata Indonesia melalui program CHS (Cleanliness, Health, & Safety) Pariwisata Indonesia. Untuk Program CHS Pariwisata Indonesia, Kemenparekraf juga telah menentukan 3 daerah prioritas termasuk Bali,” ujarnya.
Trisno mengingatkan, menghadapi berbagai tantangan di tengah pandemi Covid-19, semua pihak harus bekerja sama dan saling bahu membahu. Bank Indonesia berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, otoritas, instansi, asosiasi, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat dalam meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia khususnya pertumbuhan ekonomi Bali yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali.
“Melalui koordinasi dan sinergi yang baik dari seluruh pihak, kami yakin kita semua pasti bisa memasuki norma-norma baru pascapandemi Covid-19. Dan melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat melahirkan berbagai ide dan terobosan dalam menjawab tantangan sektor pariwisata Bali di tengah pandemi Covid-19,” kata Trisno, mengharapkan.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Wakil Gubernur Provinsi Bali Prof. Dr Ir Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati MSi, Ketua Bali Tourism Board Ida Bagus Agung Partha Adnyana, sejumlah narasumber dan para peserta Forum Webinar Roadmap to Bali’s Next Normal. (LE-DP)







